
Jika sepasang pengantin baru pada umumnya akan menunjukkan kebahagiaan mereka setelah menikah, namun berbeda dengan Edgar dan Lara. Tidak terlihat sedikit pun kebahagiaan di wajah mereka masing-masing. Terlebih pada Edgar, pria itu hanya memasang wajah datar dan dingin sejak acara akad selesai dilaksanakan.
"Tersenyumlah, kau seperti orang yang tidak senang saja pada hari pernikahanmu kini." Tegur Arkana.
"Aku memang tidak senang, Ar. Ini terlalu mendadak untukku." Ketus Edgar. Sebelumnya ia sudah menceritakan pada Arkana siapa Lara dan bagaimana bisa Lara berada di apartemennya.
Arkana menyunggingkan senyum. "Setidaknya kau sudah membuat kedua orang tuamu senang. Terutama Tante Leni. Dia tidak cemas lagi jika putranya ini adalah seorang gay." Kelakar Arkana.
"Sialan!" Edgar mendengus sebal. Ia sampai tak habis pikir dengan jalan pemikiran sang mama yang mengira dirinya adalah seorang penyuka sesama jenis hanya karena dirinya tidak memiliki seorang kekasih.
"Ed, aku tahu kau adalah pria yang baik. Walau pernikahan kalian terjadi sangat mendadak namun aku yakin kau tak akan tega membuat Lara sengsara hidup bersamamu."
Edgar menghela napas sebelum menjawab. "Aku tidak akan berniat buruk kepadanya. Hanya saja aku tidak mau jika diwajibkan untuk menyentuhnya." Jawab Edgar.
__ADS_1
Arkana menggelengkan kepala. "Lantas apa yang akan kau lakukan dengan Lara jika kalian tak saling menyentuh?" Tanya Arkana bingung.
"Entahlah, aku belum memikirkannya."
"Baiklah, aku tahu kau masih butuh waktu untuk mencerna apa yang terjadi. Tapi aku harap kau tidak akan berlama-lama menganggap Lara hanya sebagai seorang istri bayangan."
Tidak ada sahutan dari Edgar. Kini pandangan pria itu fokus pada Lara yang nampak sedang berbicara dengan ibu dan kedua adiknya. Ketiga wanita di dalam keluarganya itu nampak memasang wajah senang saat berbicara dengan Lara seolah mereka sudah sangat akrab dan menerima Lara dalam keluarga mereka.
*
"Kenapa tidak menginap di sini saja, Kak? Kami kan ingin menghabiskan waktu dengan kakak ipar!" Protes Zola sang adik bungsu Edgar.
"Tidak bisa. Kakak masih memiliki pekerjaan yang harus diselesaikan malam ini." Sahut Edgar.
__ADS_1
Zola memasang wajah masam. Sejak tadi Edgar selalu saja mencari cara agar bisa cepat membawa Lara keluar dari rumah orang tua mereka.
"Lara, ayo kita pulang sekarang!" Ajak Edgar.
Lara si penurut mengangguk. Kemudian ia berpamitan pada Mama Leni dan keluarga Edgar yang lainnya.
"Kenapa Kak Edgar tidak ada romantis-romantisnya sih sebagai seorang suami!" Zola menggelengkan kepalanya menatap Edgar yang berjalan begitu saja tanpa menunggu Lara.
"Biarkan saja kakakmu itu. Dengan berjalannya waktu dia pasti bisa menerima istrinya dengan baik." Sahut Mama Leni.
Zola mengangguk. "Tapi Zola masih bingung, Ma. Bagaimana bisa Kak Edgar menjalin hubungan dengan seorang wanita dan membawanya menginap di apartemennya. Bukannya selama ini Kak Edgar seperti pria yang sangat anti dengan yang namanya wanita?" Tanya Zola.
"Mama juga belum mengetahui kebenarannya bagaimana. Yang jelas saat ini Mama percaya jika Lara adalah anak yang baik dan cocok menjadi pendamping kakak kalian." Jawab Mama Leni.
__ADS_1
Zola mengangguk saja. Ia pun turut merasakan hal yang sama jika Lara adalah wanita yang baik untuk kakak sulungnya.
***