
"Emila..." ucap Bu Selvy lirih dengan wajah terkejut yang tidak bisa disembunyikan.
Emila yang dapat melihat keterkejutan di wajah Bu Selvy pun hanya diam sambil mendekati Bu Selvy. "Bu Selvy." Ucap Emila sambil mengulurkan tangan pada Bu Selvy.
Bu Selvy pun menerima uluran tangan Emila.
"Apa Ibu sudah lama menunggu?" Tanya Emila setelah duduk di atas kursi yang berhadapan denga Bu Selvy.
"Tidak terlalu lama. Emila, Sudah cukup lama ya kita tidak bertemu." Ucap Bu Selvy.
Emila tersenyum mendengarnya. "Iya, maafkan Mila karena tidak ada lagi berkunjung ke toko Ibu." Ucap Emila merasa tidak enak hati. Setelah berhenti bekerja di toko Bu Selvy, Emila hanya sekali datang mengunjungi toko. Setelah itu ia tidak pernah lagi datang karena sibuk membantu ibunya menjahit.
"Tak masalah, Ibu tahu kau pasti sibuk membantu Ibumu menjahit di rumah." Jawab Bu Selvy.
Keheningan pun menyelimuti mereka karena Emila tak lagi menjawab perkataan Bu Selvy.
__ADS_1
"Oh iya, Mila, ada yang ingin Ibu tanyakan kepadamu. Ibu harap kau tidak merasa tersinggung mendengarnya." Ucap Bu Selvy merasa ragu.
"Apa itu, Bu? Katakan saja." Jawab Emila.
Pandangan Bu Selvy pun langsung tertuju pada perut Emila. Melihat kemana arah tatapan Bu Selvy pun membuat Emila dapat menebak hal apa yang ingin Bu Selvy tanyakan kepadanya.
"Apa kau sedang hamil Emila? Ibu lihat perutmu membesar saat ini." Tanya Bu Selvy.
Emila mengembangkan senyumannya. "Iya, Bu, saat ini saya sedang hamil dan usia kandungan saya sudah masuk empat bulan." Jawab Emila tanpa ragu.
"Apa?!" Bu Selvy tentu saja terkejut mendengarnya. "Kau sedang hamil? Apa kau sudah menikah sebelumnya?" Tanya Bu Selvy.
Semakin terkejut saja Bu Selvy mendengarnya. Bagaimana tidak, selama bekerja dengannya Bu Selvy mengetahui jika Emila adalah wanita lajang dan belum pernah memberikan undangan pernikahan kepadanya. Melihat kebingungan di balik keterkejutan Bu Selvy membuat Emila menjelaskan jika ia menikah secara sederhana dan hanya mengundang ketua RT dan dua orang saksi saja.
Mendengar hal itu tentu saja membuat Bu Selvy semakin terkejut namun merasa enggan untuk bertanya lebih lanjut pada Emila karena menurutnya hal itu adalah privasi Emila dan ia tidak berhak untuk ikut campur.
__ADS_1
"Semoga kehamilanmu berjalan lancar hingga persalinan nanti." Ucap Bu Selvy dengan wajah yang sudah berubah tersenyum pada Emila.
"Terima kasih, Bu." Jawab Emila ikut tersenyum.
"Jadi alasan lain kau berhenti bekerja karena sedang hamil? Tahu begitu Ibu akan memberikan hadiah untuk calon anakmu." Ucap Bu Selvy.
"Ibu selalu saja repot-repot untuk saya. Saya jadi merasa tidak enak." Ucap Emila sungkan.
"Emila, kau tahu bukan jika Ibu selama ini sangat menginginkan seorang cucu. Dan karena saat ini Ibu belum bisa mendapatkan cucu dari anak Ibu jadi tidak masalah bukan jika Ibu memberikan kasih sayang dan hadiah untuk anak darimu?" Ucap Bu Selvy.
Emila terdiam beberapa saat.
Seandainya saja Ibu tahu jika anak ini adalah cucu kandung Ibu. Ucap Emila dalam hati.
"Mila?" Bu Selvy kembali memanggil nama Emila karena Emila hanya diam saja.
__ADS_1
"Jika Ibu mau menganggap anak saya sebagai cucu Ibu tentu saja tidak masalah. Saya akan merasa sangat senang jika Ibu memberikan kasih sayang dan perhatian pada anak saya terlebih menganggapnya sebagai cucu Ibu sendiri."
***