
Suara benturan kaki yang terdengar keras menapaki lantai tak mengalihkan tatapan Lara dari air kran yang sedang mengalir di atas kedua tangannya yang mengadah. Lara segera membasuh wajahnya dengan air lalu berkaca di cermin yang berada tepat di atas westafel.
"Hei, Lara." Terdengar suara seorang wanita yang sangat tidak asing di indera pendengaran Lara hingga membuat kepala Lara menoleh ke sumber suara.
Kedua mata Lara membeliak. Jantungnya berdegub sangat kencang melihat wajah sang pemanggil namanya tadi. "Kak Celine," lirih Lara.
Wanita yang disebut Lara menampilkan senyuman sinis. Ia mengayunkan kaki satu langkah mendekati Lara. "Lama tidak bertemu akhirnya kita bertemu di tempat yang tak terduga, ya." Ucapnya sinis dan penuh maksud.
Lara mencoba mengontrol diri. Tidak ingin memperlihatkan rasa gugup pada Celine. Ia masih ingat dengan jelas pesan dari Edgar yang memintanya menjadi wanita kuat dan melawan jika Celine berbuat jahat kepadanya.
"Aku tidak menyangka univ sebesar ini berani menerima wanita ja-lang seperti dirimu sebagai salah satu mahasiswanya, sungguh menjijikkan sekali." Celine kembali berbicara sambil menatap Lara dari atas sampai bawah.
__ADS_1
"Maaf, aku tidak memiliki urusan dengan Kakak. Silahkan minggir, aku mau keluar." Ucap Lara dengan wajah tenang.
Celine tentu saja tidak senang melihat Lara yang tak lagi menatapnya dengan tatapan takut. "Hei wanita murahan. Kau ternyata sudah besar kepala ya karena bisa kuliah di tempat ini!" Suara Celine terdengar menggelegar. Membuat Lara yang mendengar sampai mengelus dada.
Lara tak menghiraukan tatapan nyalang Celine. Ia mencoba menabrak tubuh Celine untuk melewati wanita itu. Namun bukan Celine namanya jika membiarkannya lepas begitu saja.
"Mau kemana kau, heh!" Celine mencengkram erat lengan Lara. Tidak akan ia biarkan Lara pergi meninggalkannya sebelum hajatnya selesai ia buang.
Lara tak menyahut. Dengan sekuat tenaga ia melepaskan cengkraman tangan Celine di lengannya hingga akhirnya berhasil terlepas. "Aku tidak memiliki urusan lagi dengan Kakak, jadi tolong jangan ganggu aku!" Kini tatapan mata Lara berubah nyalang. Seperti pesan dari Edgar bermanfaat untuk Lara hingga membuatnya berani melawan Celine untuk pertama kalinya.
"Jangan berani menyentuhku!" Pekik Lara.
__ADS_1
Celine terhenyak. "Berani sekali kau melawanku!" Geramnya tertahan. Melihat dua orang wanita masuk ke dalam kamar mandi membuat Celine mengurungkan niatnya untuk kembali menahan Lara. Ia tidak ingin reputasinya sebagai wanita lembut dan baik tercoreng hanya karena ingin menghajar Lara.
Lara tak menyiakan kesempatan yang ada. Ia segera keluar dari dalam kamar mandi dan berjalan sedikit berlari ke arah kelasnya berada.
Hembusan napas Lara terdengar tak beraturan saat wanita itu sudah masuk ke dalam kelas dan menjatuhkan bokong di atas kursi.
"Aku takut..." lirih Lara sambil mengatur napas. Jujur saja ia masih takut jika Celine berniat buruk kepadanya walau tadi ia berhasil melawan Celine.
"Lara, ada apa denganmu?" Tanya Angga melihat wajah Lara yang nampak pucat pasih seakan tidak teraliri darah di sana.
"A-aku tak apa." Menjawab dengan suara bergetar. Mendengar suara Lara saja sudah dapat membuat Angga menebak jika Lara tidak baik-baik saja.
__ADS_1
"Jangan berdusta, Lara. Ayo katakan kepadaku ada apa? Wajahmu pucat dan suaramu bergetar. Kau pasti tidak baik-baik saja." Angga mendesak.
***