Noda Menjadi Yang Ke 2

Noda Menjadi Yang Ke 2
S2 - Jangan Takut


__ADS_3

"Tidak perlu banyak tanya. Sekarang bersiap saja!" Perintah Edgar.


Mulut Lara terbungkam. Ingin mengeluarkan suara lagi rasanya ia tak ingin setelah melihat wajah tak bersahabat Edgar.


"Baiklah, Kak." Cicit Lara lalu melangkah ke arah kamarnya berada.


Masuk ke dalam kamar, Lara tak langsung bersiap-siap. Ia mondar-mandir di dalam kamar memikirkan perkataan Edgar yang ingin mengajaknya ke rumah orang tuanya.


"Duh, bagaimana ini. Aku kan takut kalau ibu memarahiku dan membawaku ke tempat itu lagi." Gumam Lara. Sangking takutnya memikirkan nasibnya nanti bertemu dengan ibu tirinya, wajah Lara sampai nampak pucat.


"Belum bersiap juga?" Suara Edgar terdengar menggelegar setelah masuk ke dalam kamarnya karena melihat Lara mondar-mandir seperti cacing kepanasan.


"Agh, ya!" Lara buru-buru berlari ke arah kamar mandi merasa takut dimarahi oleh Edgar.


"Dasar rubah kecil..." gumam Edgar melihat sikap istrinya yang terkadang absurd.


**


Edgar dan Lara memilih menyantap makan malam bersama di apartemen lebih dulu sebelum pergi ke rumah Lara yang kini sudah dikuasai oleh ibu tiri Lara dan kakak tirinya. Selama berada di dalam perjalanan menuju rumah, Lara nampak gelisah. Terlihat jelas oleh kedua mata Edgar bagaimana Lara tidak bisa duduk dengan tenang di kursinya.

__ADS_1


"Kau ini kenapa seperti cacing kepanasan saja dari tadi?" Tanya Edgar dengan wajah sangarnya.


Lara melipat bibir ke dalam. Ingin sekali ia mengungkapkan isi hatinya. Tapi ia meragu takut Edgar akan memarahinya.


"Hm?" Edgar nampak menunggu jawaban.


"Kak Edgar... bolehkah kita pulang saja? Lara takut bertemu ibu." Cicitnya.


Kerutan halus tercetak di dahi Edgar. Ia menatap bingung wajah istrinya sejenak sebelum kembali fokus pada kemudi. "Apa yang membuatmu takut? Dia sama-sama manusia seperti dirimu."


"Lara takut ibu memarahi Lara dan memaksa Lara bekerja di klub milik Tuan Jacob lagi." Lara mengungkapkan ketakutannya diikuti cairan bening yang mulai menumpuk di pelupuk matanya.


"Dengan Kak Edgar." 


"Dengan suamimu!" Koreksi Edgar. "Sebagai seorang suami aku tidak akan membiarkan ibu tirimu itu melakukan hal buruk kepadamu. Jika dia berani, maka dia akan berurusan langsung denganku!"


Sedikitnya Lara merasa lega setelah mendengarkan perkataan Edgar. "Terima kasih Kak karena sudah baik pada Lara."


Edgar tak menyahut atau menunjukkan pergerakan. Ia kembali fokus pada kemudi dan menambah kecepatan mobil saat melihat jalan sudah mulai sepi.

__ADS_1


Beberapa saat berlalu,


Edgar terpaku menatap rumah yang diberi tahu oleh Lara adalah rumah kedua orang tua kandungnya yang kini sudah dikuasai ibu dan kakak tirinya.


"Ini rumahmu?" Tanya Edgar tak menyangka. Bagaimana tidak, rumah yang ditunjukkan Lara saat ini terbilang rumah yang sangat besar dan mewah. Jika Edgar prediksi, keluarga istrinya itu bukanlah orang sembarangan.


Lara menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. "Dulu. Sekarang bukan lagi rumah Lara. Lara sudah diusir dari sini." Cicitnya.


Edgar tak menanggapinya. Ia kembali melajukan mobilnya memasuki pekarangan rumah.


"Ayo turun!" Ajak Edgar setelah membuka seat belt yang membalut sebagian tubuhnya.


"Tapi Kak," Lara nampak ragu karena kembali takut.


"Ck. Tidak ada tapi-tapian. Sekarang ayo turun."


Lara tak kuasa untuk menolak lagi. Akhirnya kaki mungilnya pun turun dari dalam mobil dan melangkah ke arah pintu rumah yang nampak tertutup rapat.


***

__ADS_1


***


__ADS_2