
"Saya tidak menyangka jika di dunia ini masih ada seorang ibu tiri jahat seperti anda yang begitu tega menjual anak tirinya ke klub malam." Edgar menatap sinis wajah Mama Tiara.
Mama Tiara mengepalkan kedua tangannya. Merasa tidak terima dengan apa yang Edgar katakan. "Tutup mulut anda, Edgar. Jangan berbicara sembarang jika tidak ada bukti!" Sembur Mama Tiara.
Edgar menyunggingkan sebelah sudut bibir. "Bukti seperti apa yang anda inginkan? Apakah bukti transfer dari Tuan Jacob?"
Mama Tiara terkesiap. Ia mencoba menetralkan ekspresi wajah agar Edgar tak melihat kegugupannya saat ini. "Peduli setan dengan itu! Sekarang katakan tujuan anda datang ke sini!" Titahnya.
"Anda penasaran tujuan saya datang ke sini apa? Sudah jelas tujuan saya datang membawa Lara ke sini untuk melihat rumah yang seharusnya ditempati olehnya saat ini bukan oleh kalian!" Sindir Edgar.
Mama Tiara dibuat sangat geram. Ia sampai bangkit dari duduknya dengan memasang ekspresi wajah tak bersahabat. "Apa anda sedang bermimpi? Rumah ini adalah rumah saya. Ayah Lara sudah memberikan rumah ini pada saya sebelum dia meninggal!" Sinis Mama Tiara.
Edgar masih memasang wajah sinis. Ia tidak akan percaya begitu saja dengan perkataan Mama Tiara. Edgar sangat yakin jika rumah yang saat ini ia kunjungi adalah rumah milik Lara.
__ADS_1
"Begitu, ya? Baiklah, saya mencoba untuk percaya pada anda saat ini." Edgar berucap penuh maksud dan membuat Mama Tiara tidak tenang mendengarnya.
"Sekarang lebih baik kalian pergi dari rumah ini karena saya sangat terganggu dengan kehadiran kalian!" Usir Mama Tiara.
"Mamah!" Celine menatap tajam sang Mama karena sudah berani mengusir Edgar.
Mama Tiara tak memperdulikan tatapan Celine. Ia kembali melayangkan tatapan tak suka pada Edgar dan Lara. "Bawa anak sialan ini dari rumah saya!" Ucapnya keras.
Kedua mata Lara mulai mengembun mendengar perkataan Mama Tiara yang terdengar menyakitkan di telinganya.
Mama Tiara menatap sinis Edgar. "Jangan pernah bermimpi karena rumah ini sudah sah menjadi milik saya. Saya memiliki bukti kuat untuk itu." Tekannya.
Edgar tak percaya begitu saja. Setelah ini ia akan berusaha mencari tahu kebenarannya.
__ADS_1
"Kak Edgar, lebih baik kita pulang saja." Ajak Lara yang sudah tidak tahan ingin menangis.
Edgar mengusap kepala Lara dan hal tersebut membuat perasaan Lara terasa hangat dan tenang. Celine yang melihatnya pun melototkan kedua matanya. Ia kembali dibuat bertanya-tanya ada hubungan apa antara Edgar dan Lara.
Mengerti perasaan Lara saat ini, Edgar memilih mengajak Lara untuk pergi dari rumah tersebut. Masuk ke dalam mobil, Lara menangis tersedu-sedu. Ia merasa sakit hati mendengar perkataan Mama Tiara yang mengatakan dirinya anak sialan. Dan lebih dari pada itu, Lara merasa sedih karena Mama Tiara yang sudah ia anggap sebagai ibunya sendiri sejak dulu menatapnya penuh kebencian dan tidak mengharapkan kehadirannya.
Hati Edgar terasa tersentuh melihat istrinya yang menangis. Edgar lantas saja menarik tubuh Lara ke dalam pelukannya. "Untuk apa menangis? Bukankah aku sudah mengajarkanmu untuk menjadi wanita kuat?" Tanya Edgar.
"La-lara sedih, Kak." Ungkapnya terbata.
Edgar menghela napas lalu mengusap rambut Lara untuk menenangkannya. "Jangan bersedih. Setelah ini kita lawan ibu dan kakak tirimu. Aku yakin jika rumah ini adalah rumah milikmu. Kau harus mengambil apa yang seharusnya menjadi milikmu."
***
__ADS_1
Teman-teman, sambil menunggu Lara dan Edgar update, teman-teman bisa mampir di karya shy Jadikan Aku Pengganti Dirinya, ya. Atau mampir ke rumah sebelah juga boleh. Jangan marah-marah di sini, ya, karena sejak awal shy sudah bilang kalau cuma bisa up satu bab perhari untuk Edgar dan Lara.