Noda Menjadi Yang Ke 2

Noda Menjadi Yang Ke 2
Merindukan siapa?


__ADS_3

"Kita tidak bisa bergerak cepat karena Lady pasti akan curiga. Lebih baik kita bekerja lambat namun mendapatkan hasil yang maksimal." Jawab Edgar.


Arkana menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. Permasalahannya dengan Emila saja sudah rumit dan kini bertambah rumit karena permasalahan Emila.


"Apa aku tanyakan saja langsung pada karyawan toko Lady bagaimana kedekatan mereka selama ini saat berada di toko?" Tanya Arkana.


"Aku rasa itu adalah ide yang buruk karena mereka pasti tidak akan berkata jujur karena pekerjaan mereka taruhannya." Jawab Edgar.


"Lalu aku harus bagaimana?" Tanya Arkana.


"Ikuti saja perkataanku dan jangan bersikap gegabah. Jangan karena masalah ini kau jadi melupakan jika ada Emila yang sedang mengandung anak-anakmu." Pesan Edgar.


Arkana menganggukkan kepalanya. Begitu banyak permasalahan yang datang kepadanya saat ini membuat kepalanya terasa sakit hingga buntu mencari jalan keluar atas permasalahannya.


"Emila?" Tiba-tiba saja Arkana teringat pada istri keduanya.


"Ada apa? Kenapa kau menyebutkan nama Emila?" Tanya Edgar.


"Entahlah. Tiba-tiba saja aku teringat kepadanya. Sepertinya ngidamku kambuh ingin melihat wajahnya." Jawab Arkana.


Edgar mendengus mendengarnya. "Bilang saja jika kau yang rindu ingin melihat wajahnya. Jangan membawa-bawa nama anakmu untuk keinginanmu sendiri." Cibir Edgar.

__ADS_1


Arkana memilih diam saja. Dari pada mendengarkan celotehan Edgar, Arkana memilih berpamitan pergi dari apartemen Edgar dan berniat menemui Emila di rumah kontrakannya.


"Sepertinya Arkana sudah mulai terpikat pada wanita bernama Emila itu." Komentar Edgar setelah kepergian Arkana.


*


Arkana kini sudah berada di depan rumah Emila. Pria itu nampak bingung apakah harus mengetuk pintu rumah Emila atau tidak. Kedatangannya di waktu masih pagi seperti ini takutnya mengganggu istrinya dan mertuanya yang sedang beraktivitas.


Ceklek


Tiba-tiba saja pintu rumah terbuka. Wajah Bu Asma nampak menyembul di sana. Bu Asma yang melihat wajah Arkana pun dibuat bingung kenapa Arkana ada di depan rumahnya.


"Mama..." Arkana mengulurkan tangan pada Bu Asma dan dengan cepat disambut oleh Bu Asma.


"Apa sudah lama berada di sini? Kenapa tidak mengetuk pintu?" Tanya Bu Asma.


"Saya baru saja sampai, Ma." Jawab Arkana.


Bu Asma mengangguk saja dan mempersilahkan Arkana untuk masuk ke dalam rumah.


"Mila... ayo ke sini ada Arkana." Ucap Bu Asma sedikit berteriak memanggil Emila yang sedang mencuci piring di dapur.

__ADS_1


"Arkana datang ke sini?" Gumam Emila. Tidak ingin membuat Ibunya kembali memanggil namanya, Emila pun segera menghentikan pekerjaannya dan beranjak menuju ruang tamu.


"Emila..." entah mengapa Arkana merasa sangat senang melihat wajah Emila yang nampak berseri saat ini walau wanita itu tidak menggunakan polesan bedak di wajahnya.


Emila yang merasa bingung pun hanya menatap wajah Arkana dengan datar.


"Mila, ayo salami suamimu." Titah Bu Asma karena Emila hanya diam saja.


Emila mengiyakannya lalu mengulurkan tangan pada Arkana. "Untuk apa kau datang ke sini? Apa ada hal yang ingin kau sampaikan kepadaku?" Tanya Emila.


Arkana menggeleng. "Aku datang karena aku merindukan anak-anakku. Aku takut mereka bersedih karena kejadian tadi malam." Jawab Arkana.


Kening Emila mengkerut. Jawaban Arkana terdengar tidak masuk akal di telinganya.


"Kau merindukan anak-anakmu yang masih berada di dalam perutku?" Tanya Emila. Kau merindukan anak-anakmu atau kau merindukan aku?" Tanya Emila kemudian dengan mata memicing.


Glek


Arkana meneguk salivanya susah payah.


***

__ADS_1


__ADS_2