
Emila tidak memiliki pilihan lain selain mengiyakan opsi dari suaminya. Sebagai seorang istri sudah sewajarnya ia mengikuti kemana pun suaminya pergi dan mematuhi segala perintahnya selagi itu baik untuknya. Emila sadar dengan statusnya saat ini yang sudah berubah.
"Tapi apa Mama tidak kesepian dan merasa aman jika tinggal di rumah ini seorang diri?" Emila merasa risau dengan kesendirian ibunya nanti.
"Siapa bilang Mama akan tinggal sendiri di sini? Aku sudah menyiapkan dua orang pelayan untuk Mama di sini. Mereka akan menemani Mama dan membantu pekerjaan Mama." Sahut Arkana.
Emila sungguh terkejut mendengarnya. Ia pikir setelah pindah nanti ibunya akan benar sendirian.
"Apa kau serius? Jadi Bibi akan tetap bekerja di sini setelah kita pindah ke Riau?"
"Seperti yang kau pikirkan. Suster akan ikut bersama kita ke Riau sedangkan Bibi tetap di sini menemani Mama. Nanti sebelum kita pergi aku akan membawa seorang pelayan lagi untuk bekerja di sini."
Mendengar penjelasan Arkana setidaknya cukup membuat Emila merasa lega. Dengan kehadiran dua orang pelayan di rumah ibunya tidak akan merasa kesepian dan akan ada yang menjaga ibunya selama ia tidak ada.
__ADS_1
Percakapan di antara mereka akhirnya berakhir dan Arkana segera berpamitan kembali ke Riau.
"Tunggu aku kembali." Ucap Arkana lalu mengecup kening Arkana sebelum melangkah meninggalkan Emila.
Emila tersenyum seraya menganggukkan kepala. Hal yang paling membuatnya sedih akhir-akhir ini adalah saat mengantarkan Arkana kembali ke Riau.
"Aku dan anak-anak akan menunggumu kembali."
*
Beberapa hari setelah kelahiran putra kecil Lady, Arkana sudah tidak lagi pulang ke ibu kota melihat istri dan anaknya. Ia disibukkan mengurus surat perceraiannya dengan Lady hingga hari persidangan perceraian tiba.
Emila sangat mengerti dengan kesibukan suaminya itu. Ia juga tidak menuntut Arkana untuk pulang dan berdoa semoga urusan Arkana di Riau dilancarkan.
__ADS_1
Hari itu Arkana dan Bu Selvy datang ke rumah kedua orang tua Lady untuk melihat bayi mungil yang sudah Lady lahirkan. Saat sudah sampai di rumah kedua orang tua Lady, Arkana melihat sosok Dandy juga ada di rumah tersebut. Jika dugaannya tidak salah, sepertinya kedua orang tua Lady sudah bisa menerima Dandy untuk bertanggung jawab pada putri mereka.
Melihat kedatangan Arkana dan Bu Selvy membuat hati Lady merasa senang. Ternyata Bu Selvy dan Arkana masih berbaik hati untuk datang melihat putranya.
"Bagaimana keadaanmu sekarang, apa sudah membaik?" Tanya Bu Selvy lembut pada Emila yang sedang duduk di atas ranjang.
"Sudah lumayan membaik, Ma. Terima kasih karena Mama sudah mau datang ke sini."
Bu Selvy mengusap lengan wanita yang masih sah menjadi menantunya itu. "Sama-sama. Ini Mama bawakan buah-buahan untukmu. Jangan lupa dimakan biar cepat sembuh."
"Iya, Ma." Jawab Lady seraya tersenyum.
Pandangan Bu Asma beralih pada bayi mungil yang sedang berada di dalam box bayi. "Lady, apa boleh Mama menggendong bayimu?" Tanya Bu Selvy dengan tatapan penuh harap. Mendengar permintaan sederhana Bu Selvy berhasil membuat Lady merasa haru karena mertuanya itu masih mau menggendong bayinya yang sudah jelas bukan darah daging dari putranya.
__ADS_1
***