
Dokter Kirana nampak berjalan sedikit berlari ke arah ruangan pemeriksaan dimana Emila berada setelah mendapatkan panggilan dari perawat yang menyatakan jika pembukaan lahir Emila sudah hampir sempurna.
Arkana yang sudah berada di area ruangan pemeriksaan tiba-tiba menghentikan pergerakan Dokter Kirana untuk mempertanyakan keberadaan Emila.
"Nona Emila? Apa Nona Emila adalah istri anda?" Tanya Dokter Kirana.
Arkana langsung mengiyakannya. "Apa Dokter mengenalinya?"
"Ya. Ini saya mau memeriksakan keadaannya karena saat ini Nona Emila sudah mau melahirkan!"
"Apa? Kalau begitu apa saya boleh masuk untuk melihatnya?" Tanya Arkana.
"Sebaiknya anda tunggu di luar saja dulu, Tuan karena Nona Emila akan dipindahkan ke ruangan persalinan."
Arkana mengangguk mengiyakannya. Dokter Kirana langsung saja masuk ke dalam ruangan pemeriksaan setelah mendapatkan respon dari Arkana.
"Arkana?" Bu Asma begitu terkejut saat baru saja keluar dari ruangan pemeriksaan melihat Arkana berdiri di depan pintu.
"Mamah." Ucap Arkana dengan wajah cemas yang tidak dapat disembunyikan.
__ADS_1
"Kenapa kau ada di sini?" Berucap lirih di tengah keterkejutannya. Bagaimana tidak, mereka sudah berlari menjauh dari Arkana tapi Arkana tetap menemukan keberadaan mereka.
"Ceritanya sangat panjang, Ma. Bagaimana keadaan Emila saat ini? Dokter bilang dia sudah mau melahirkan."
"Emh, ya. Dokter dan perawat akan memindahkan Emila ke ruangan persalinan."
Pintu ruangan tiba-tiba terbuka hingga membuat Bu Asma dan Arkana menjauh dari depan pintu saat melihat perawat sedang mendorong brankar Emila.
"Emila..." kedua bola mata Arkana berkaca-kaca melihat wajah wanita yang sudah satu bulan ini dicarinya tengah merintih kesakitan.
"Arkana..." lirih Emila lalu memejamkan mata merasakan sakit yang teramat di dalam perutnya.
Bu Asma dengan lapang dada membiarkan Arkana menggantikan tugasnya yang hendak menemani Emila di dalam ruangan persalinan. "Mila, sudah seharusnya Arkana yang menemanimu di sana bukan Mama."
"Agh... sakit sekali..." Emila kembali merintih kesakitan. Kedua kelopak matanya terpejam erat dan sebelah tangannya tanpa sadar menggenggam erat tangan Arkana.
"Mila... kau harus kuat untuk anak-anak kita..." ucap Arkana.
Emila tak menjawab atau bertanya kenapa Arkana bisa menemukannya saat ini. Rasa sakit yang teramat di dalam perutnya membuatnya hanya bisa menangis dan merintih kesakitan.
__ADS_1
Dokter dan perawat yang sudah siap bertugas memberikan aba-aba pada Emila untuk mengejan.
Sebelah tangan Arkana semakin kuat menggenggam tangan Emila memberikan kekuatan pada wanita itu untuk melahirkan kedua buah hati mereka.
"Huh, huh, aku tidak kuat..." Emila menggelengkan kepalanya diikuti rasa sakit yang terasa semakin kuat.
"Tidak, kau harus kuat, Mila. Kau harus kuat untuk anak-anak kita." Bulir air mata jatuh membasahi pipi Arkana tanpa ia sadari.
Emila menatap wajah pria yang sudah satu bulan ini memenuhi pemikirannya. Tanpa Emila duga Arkana tiba-tiba saja memberikan kecupan di keningnya dan membisikkan kata semangat untuk dirinya.
"Kau pasti bisa."
Kata semangat yang keluar dari mulut Arkana berhasil menambah tenaga yang sudah hilang dari tubuh Emila. Dengan sekuat tenaga Emila mengejan mengeluarkan bayi pertamanya dari dalam rahimnya.
Oek
Suara tangisan bayi yang terdengar cukup keras akhirnya memecah keheningan di dalam ruangan persalinan.
***
__ADS_1