
Edgar merasa tubuhnya tengah panas dingin saat ini. Sebelum benda keramatnya ikut menunjukkan reaksi karena usapan tangan Lara, Edgar segera menahan pergerakan Lara yang masih mengusap rahangnya kemudian bangkit dari posisi berbaring.
"Sudah jam berapa ini?" Tanyanya tanpa berniat melihat jam dinding lebih dulu.
Lara melihat jam di dinding dengan lirikan ekor matanya. "Sudah hampir jam setengah tujuh pagi." Jawabnya apa adanya.
"What!" Edgar terkejut bukan main. Pandangannya pun mengarah pada dinding. Dan benar saja, saat ini jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. "Aku bisa terlambat. Kenapa kau tidak membangunkanku sih!" Edgar menggerutu. Menyingkap selembar selimut yang menutupi kakinya.
"Kan sudah Lara bangunkan sejak tadi. Kak Edgar saja yang tidak mau bangun."
Edgar tak memperdulikan perkatan Lara lagi. Bulu kuduknya yang tadinya merinding kini sudah layu kembali menyadari jika dirinya sudah terlambat untuk bersiap-siap. Pun dengan aset berharganya yang tadi berdiri sudah layu kembali.
Edgar bergegas ke dalam kamar mandi. Ia ingat jika pagi ini ada pasien yang harus ia periksa keadaannya pasca operasi.
__ADS_1
Melihat Edgar yang terlihat panik dan terburu-buru membuat Lara berinisiatif menyiapkan pakaian kerja Edgar kemudian membungkuskan bekal sarapan Edgar. Lara yakin jika Edgar tak akan sempat untuk menikmati sarapan pagi hasil masakannya.
Edgar yang kini sudah berada di dalam kamar mandi segera membersihkan tubuhnya dengan secepat kilat. Sambil membersihkan tubuh, Edgar tak berhenti mengomel mengingat penyebab dirinya bisa terlambat bangun.
**
Sesuai perkataan Lara, Edgar yang tengah terburu-buru tak sempat untuk menikmati sarapan pagi bersama dirinya. Lara yang sudah menyiapkan bekal untuk Edgar segera menyerahkan tote bag berisi kotak bekal bewarna pink muda pada Edgar.
"Sarapan pagi untuk Kak Edgar."
"Kau yang memasaknya?" Tanyanya memastikan dan mendapatkan anggukan oleh Lara.
Edgar yang tengah terburu-buru menerima saja tote bag pemberian Lara tanpa melihat isinya. "Pagi ini kau pergi ke kampus menggunakan taksi saja. Aku sudah meninggalkan uang di atas ranjang untuk jajan dan transportasimu hari ini."
__ADS_1
Lara mengangguk saja. Teringat dengan materi yang diberikan Flower sebelum Edgar pergi bekerja, Lara segera menyalimi Edgar dan mengecup sebelah pipinya. "Hati-hati di jalan dan semangat bekerja untuk hari ini Kak Edgar." Ucap Lara.
Edgar kembali dibuat terkesiap dengan aksi istrinya itu. Namun kali ini ia tak memperdulikannya sebab ia sudah hampir terlambat. Edgar segera melangkah keluar dari dalam apartemen meninggalkan Lara yang tersenyum menatap kepergiannya.
"Semoga saja Kak Edgar suka dengan bekal buatan Lara." Gumam Lara penuh harap. Setelah beberapa bulan memiliki seorang pembantu di apartemen, Lara banyak belajar dalam hal memasak. Dan kini kemampuan Lara dalam memasak boleh dikatakan sudah cukup baik.
Beberapa saat berlalu...
Edgar yang kini sudah berada di parkiran rumah sakit dibuat terperangah melihat isi tote bag yang diberikan Lara tadi kepadanya. "Astaga, yang benar saja dia ini. Masa dia memberiku kotak bekal bewarn pink. Apa kata orang-orang jika melihatku membawa kotak bekal bewarna pink seperti ini!" Edgar mendengus. Merasa tak habis pikir dengan jalan pemikiran sang istri yang selalu ada-ada saja.
Mau tak mau, Edgar tetap membawa kotak bekal itu ke dalam ruangannya. Untung saja tote bag yang Lara berikan masih bewarna netral hingga bisa menyembunyikan kotak bekal bewarna pink yang ia bawa.
***
__ADS_1