
Lara yang tidak mengetahui jika kini tatapan Edgar terhunus tajam kepadanya terus saja tersenyum sambil membalas beberapa besan dari teman barunya di kampus. Senyuman di wajah Lara pun semakin terkembang saat melihat dirinya dimasukkan ke dalam grup angkatan mereka dan grup kampus.
"Teman-teman baik semua. Sama seperti teman Lara sekolah dulu." Gumam Lara.
Edgar semakin menajamkan pandangannya melihat reaksi istrinya saat ini.
"Ehem." Deheman Edgar yang terdengar cukup kuat mengalihkan pandangan Lara ke sumber suara.
"Ada apa, Tuan? Apa Tuan ingin minum?" Tanya Lara.
Edgar menggelengkan kepalanya. "Apa kau sudah selesai senyum-senyum sendiri?" Tanya Edgar.
Pelipis Lara lantas saja mengkerut mendengar pertanyaan yang Edgar lontarkan. "Maksudnya bagaimana, Tuan?" Tanya Lara.
Edgar tak menjawab. Ia hanya mendengus dalam hati melihat kepolosan istrinya. Tak ingin darahnya semakin tinggi karena berbicara dengan Lara, Edgar memilih bangkit dari posisi duduknya dan melangkah ke arah kamar mandi untuk membersihkan tubuh.
Sementara Lara yang masih tidak mengerti dengan arti sikap Edgar kembali membalas beberapa pesan dari teman-temannya termasuk dari Angga.
*
__ADS_1
Waktu sudah berganti malam. Edgar yang masih kesal pada istrinya memilih diam saja dan menjawab seadanya jika Lara melontarkan pertanyaan kepadanya. Karena malam itu Edgar merasa malas untuk memasak dan memesan makanan dari luar, Edgar pun memilih mengajak Lara untuk makan di luar saja sekaligus menikmati suasana baru.
"Apa tadi kau bertemu dengan kakak tirimu?" Tanya Edgar setelah teringat akan sesuatu.
Lara mengangguk. "Aku melihatnya dari jauh. Tapi tidak tahu apakah kakak tiriku melihatku juga atau tidak."
"Kau sudah tahu bukan apa yang harus kau lakukan jika kakak tirimu berniat jahat kepadamu?"
Lara menunduk dengan wajah ragu.
"Lara..." Edgar menekan perkataannya.
Edgar mengangguk. "Cerdas. Jangan pernah takut dengan yang namanya manusia. Kau bisa selalu ditindas jika terus diam!"
Lara mengangguk-anggukkan kepalanya. "Iya, Kak."
Sebuah pertanyaan lagi muncul di kepala Edgar. Tentu saja tentang bagaimana Lara bisa dijual oleh ibu tirinya di klub malam milik Tuan Jacob. Sampai saat ini Edgar masih urung mempertanyakannya karena takut dugaannya benar dan ia terjebak dalam permainannya sendiri.
Mobil milik Edgar pun akhirnya berhenti di sebuah restoran yang terlihat cukup ramai malam itu. "Ayo turun." Ajak Edgar.
__ADS_1
Lara mengiyakannya lalu turun dari dalam mobil.
Masuk ke dalam restoran, Edgar membawa Lara menuju sebuah meja yang masih kosong dan berada di sudut ruangan.
"Kemungkinan satu minggu lagi aku akan datang ke kampusmu melakukan seminar tentang kesehatan di sana." Ucap Edgar memberi tahu.
"Apa? Kak Ed akan datang ke kampusku?" Ulang Lara.
"Ya. Apa kau senang?" Tanya Edgar berharap lebih.
Lara yang tidak merasakan apa yang Edgar tanyakan pun menggelengkan kepalanya. "Kenapa aku harus senang, Kak?"
"Entahlah." Edgar mengalihkan pandangan dari Lara dan menahan sebal dalam hati mendengar jawaban dari Lara. Ia pikir istrinya itu akan senang jika ia akan datang ke kampusnya namun dugaannya ternyata salah.
Lara yang melihat wajah Edgar nampak kesal saat ini pun nampak bingung memikirkan apakah ia sudah salah dalam berbicara. "Apa Kak Edgar marah kepadaku? Tapi apa yang membuatnya marah?" Gumam Lara dalam hati bertanya-tanya.
"Menyesal aku bertanya kepadanya jika jawaban yang dia berikan seperti itu!" Gerutu Edgar dalam hati merasa sebal pada istrinya.
***
__ADS_1