
Edgar saat ini sudah tiba di rumah sakit milik Tuan Dika. Pria paruh baya yang masih nampak muda walau usianya sudah melewati setengah abad. Kedatangan Edgar ke rumah sakit milik Tuan Dika disambut dengan senyuman oleh Tuan Dika dan Nyonya Hana yang kebetulan siang itu berada di rumah sakit.
"Kenapa tidak bilang mau berkunjung hari ini? Saya pikir anda mau datang di saat seminar besok saja." Ucap Dika ramah.
"Saya sudah sangat penasaran melihat kemajuan rumah sakit milik anda, Tuan." Jawabnya.
"Nak Edgar bisa saja." Dika tersenyum lalu mengajak Edgar berkeliling rumah sakit di temani oleh Hana.
Saat melewati lorong rumah sakit, Dika menyebutkan pada Edgar ruangan apa saja yang mereka lewati. Poli apa saja yang ada di rumah sakit dan dokter-dokter ahli yang mereka miliki. Edgar yang mendengarkannya merasa takjub saat mendengar penjelasan Dika jika ia sudah memimpin rumah sakit di saat usianya masih di bawah tiga puluh tahun.
"Saya sangat tertinggal jauh dari anda, Tuan." Ucap Edgar.
"Nak Edgar bisa saja. Dengan umurmu saat ini kau juga sudah cukup hebat menjadi seorang dokter spesialis." Jawabnya.
Edgar tersenyum lalu mereka melanjutkan langkah menuju ruangan poli obgyn. "Jadi ruangan yang ada di lantai satu bagian ini anda khususkan untuk poli obgyn dan poli klinik anak?" Tanya Edgar.
Dika mengiyakannya. "Susunannya hampir sama saja seperti rumah sakit swasta yang ada di kota anda." Jawabnya.
__ADS_1
Edgar mengangguk-anggukkan kepalanya.
Mereka pun akhirnya masuk ke dalam ruangan dokter khusus anak dan Dika langsung memperkenalkan Edgar kepada mereka.
Hana yang mengikuti suaminya dan Edgar hanya diam menjadi pendengar saat mereka sedang berbicara.
Cukup lama berada di dalam ruangan dokter khusus anak Edgar pun diajak keluar menuju ruangan dokter obgyn yang kebetulan sedang bertugas siang itu.
"Sepertinya kita belum bisa masuk, Sayang. Kirana masih ada pasien di dalam ruangannya." Ucap Hana lembut.
Edgar mengangguk menyetujuinya. Mereka pun akhirnya berbalik badan berniat menuju ruangan Dika berada. Namun baru beberapa langkah Edgar berjalan meninggalkan ruangan dokter obgyn, langkah Edgar sudah terhenti saat samar-samar telingat mendengar suara wanita yang sangat tidak asing di telinganya.
"Kau dengar itu, Mila. Bayimu sudah mau lahir dalam waktu beberapa hari lagi. Jadi jangan terlalu banyak pikiran agar semuanya berjalan dengan lancar." Ucap Flower pada Emila.
"Iya, Flow. Aku tidak memikirkan apa-apa kok." Jawab Emila seraya tersenyum.
*Mila? *Ucap Edgar dalam hati.
__ADS_1
Perlahan Edgar memutar leher untuk melihat ke arah belakang. Kedua kelopak matanya yang terbuka semakin terbuka lebar melihat sosok yang sudah satu bulan ini mereka cari ternyata ada di belakangnya.
"Nak Edgar. Kenapa berhenti?" Pertanyaan Dika membuat Edgar kembali memutar leher menghadap ke depan.
"Tidak apa-apa, Tuan." Jawab Edgar berusaha memasang wajah tenang.
"Kalau begitu ayo." Ajak Dika.
Edgar mengangguk lalu melanjutkan langkah.
"Sayang, kau dan Edgar ke ruanganmu dulu saja ya. Aku ingin menghampiri Flower dulu." Ucap Hana pada Dika saat menyadari ada Flower di dekat mereka.
"Baiklah." Jawab Dika lalu mengajak Edgar kembali melangkah.
"Maa, Tuan. Bolehkah saya bertanya?" Tanya Edgar hati-hati.
"Tentu saja boleh. Anda ingin menanyakan apa?"
__ADS_1