
"Wah, banyak sekali belanjaannya, Mila." Komentar Bu Asma menatap banyaknya plastik berisi barang-barang belanjaan Emila dari supermarket.
"Ya, Arkana yang membelikannya, Ma. Dia bilang ambil saja apa yang Mila butuhkan. Jadi Mila ambil saja semuanya. Dia juga menambah cemilan untuk kita, Bu." Jawab Emila enteng.
"Astaga... tapi ini banyak sekali bisa jadi stok dua bulan." Komentar Bu Asma lagi.
Emila tersenyum saja mendengar perkataan ibunya.
"Sini biar Mama bantu bawa plastiknya ke belakang." Bu Asma mengambil plastik berukuran yang cukup besar dan meminta Emila membawa plastik berukuran kecil dan ringan saja.
Emila mengiyakan saja perkataan ibunya itu. Setelahnya Emila pun beranjak menuju dapur membawa barang-barang belanjaannya.
Arkana yang kini sudah berada di dalam perjalanan menuju perusahaannya nampak tersenyum sendiri membayangkan wajah menggemaskan Emila saat mereka berbelanja bersama tadi.
__ADS_1
"Kenapa aku jadi sering memikirkannya akhir-akhir ini?" Gumam Arkana setelah selesai tersenyum-senyum sendiri.
Arkana yang merasa ada yang aneh di dalam dirinya pun menghela nafas panjang. "Apa karena ada masalah dengan Lady hingga membuat aku jadi memikirkannya terus?" Komentar Arkana.
Tak ingin ambil pusing dengan apa yang ada di hati dan pikirannya saat ini, Arkana pun memilih menambah kecepatan mobilnya agar cepat sampai di perusahaannya.
Setibanya di perusahaannya atau lebih tepatnya di dalam ruangan kerjanya, Arkana langsung saja membuka ponselnya untuk melihat kegiatan istrinya hari ini.
Baru saja rekaman CCTV berputar, Arkana sudah dibuat naik darah melihat Lady yang nampak asik berpegangan tangan dengan Dandy.
Arkana mencoba mengontrol dirinya agar tidak larut dalam emosi. Masih banyak hal yang harus ia cari tahu tentang hubungan istrinya dan Dandy dan saat ini Arkana harus banyak bersabar sampai ia mendapatkan semua bukti dan melemparkan bukti-bukti tersebut pada Lady tanpa ada pembelaan dari wanita itu.
*
__ADS_1
Satu minggu sudah berlalu, Arkana masih saja memantau gerak-gerik Lady dan memerintahkan seseorang kepercayaan Edgar untuk mengikuti Lady jika wanita itu berada di luar toko miliknya dan rumah mereka.
Semakin bertambahnya hari semakin banyak saja bukti yang memperkuat jika istrinya itu bermain api di belakangnya bersama pria bernama Dandy.
Arkana yang dibutakan oleh cinta selama ini dengan mbodohnya percaya begitu saja dengan perkataan istrinya itu. Seandainya saja saat itu ia tidak melihat kedekatan istrinya dan Dandy secara langsung mungkin sampai saat ini dan seterusnya ia masih akan tetap dibodohi oleh Lady.
Tanpa terasa satu bulan pun sudah berlalu. Arkana masih saja pandai bersandiwara dan mencari cara dan alasan agar tidak menyentuh Lady karena ia sudah merasa jijik dengan istrinya itu.
Bagaimana tidak jijik, sudah beberapa kali Arkana mendapatkan laporan jika istrinya itu menginap di hotel bersama Dandy. Dan apa yang dilakukan Lady dan Dandy di dalam hotel tentu saja sudah dapat dibayangkan oleh Arkana yang statusnya adalah manusia normal dan banyak pengalaman.
"Aku rasa bukti yang kita dapatkan sudah cukup kuat." Ucap Arkana pada Edgar siang itu lewat sambungan telefon.
"Ya, aku rasa juga begitu. Tapi masih ada bukti lain yang belum terkuak. Yaitu sudah berapa lama mereka menjalin hubungan." Ucap Edgar.
__ADS_1
***