Noda Menjadi Yang Ke 2

Noda Menjadi Yang Ke 2
S2 - Apakah Menyayangiku?


__ADS_3

"Sama-sama."


Panggilan telfon Flower dan Emila pun terputus.


Malik yang sedikit mendengarkan percakapan istrinya dan Emila pun mendekati Flower yang sedang berdiri menghadap jendela.


"Siapa yang menelfon? Emila, ya?" Tanya Malik sambil mengusap rambut istrinya.


Flower memutar kepala ke arah belakang dimana Malik tengah berdiri saat ini. "Iya, kau mendengar percakapan kami?"


Malik mengangguk tanpa bersuara.


Senyuman Flower terkembang menatap wajah datar suaminya yang terlihat semakin tampan. Ia mengusap sejenak wajah sang suami sebelum mengatakan isi percakapannya tadi dengan Emila.


"Sayang, Mila meminta tolong pada kita untuk membantu istri Tuan Edgar mendapatkan haknya kembali." Ucap Flower.


"Hak apa yang kau maksud?" Tanya Malik bingung.

__ADS_1


"Hak rumahnya." Jawab Flower lalu menjelaskan dengan rinci cerita kehidupan Lara hingga akhirnya terbuang dari rumahnya sendiri.


"Apa Tuan Edgar yakin jika rumah itu diwariskan untuk Lara? Bisa saja ayah kandung Lara menyerahkan rumah itu pada istri dan anak tirinya." Ucap Malik tak ingin mengambil kesimpulan begitu saja.


"Tuan Edgar yakin walau belum mendapatkan bukti yang kuat. Lagi pula sepertinya tidak mungkin jika ayah Lara menyerahkan rumah itu pada istri baru dan anak tirinya."


Malik mengangguk paham.


"Sayang, aku ingin meminta tolong padamu dan Daddy untuk membantu kasus Lara ini. Kasihan sekali dia jika benar terbuang dari rumahnya sendiri."


"Baiklah, aku akan membantunya. Besok, aku akan mulai mencari informasi tentang Lara dan keluarganya."


**


Lara terbangun dari tidurnya dengan wajah yang nampak sendu. Perkataan buruk ibu tirinya kepadanya kembali terngiang di telinga Lara. Edgar yang sudah bangun lebih dulu dapat melihat raut sendu istrinya itu.


"Kenapa?" Tanya Edgar yang kini sedang duduk di atas sofa.

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa, Kak." Jawab Lara dengan wajah yang masih sendu.


Edgar menghela napas. Kemudian berjalan mendekati Lara. "Kau masih memikirkan perkataan ibu tirimu itu?"


Lara si polos mengangguk. "Lara sedih, Kak. Kenapa tidak ada yang sayang pada Lara. Padahal Lara sudah menjadi anak baik selama ini." Cicitnya.


Hati Edgar terasa tercubit mendengarnya. Dapat ia lihat jika Lara mengutarakan isi hatinya yang paling dalam dengan menahan rasa sedih.


"Siapa bilang tidak ada yang menyayangimu? Bukankah Mamaku sudah mengatakan jika dia menyayangimu dan menganggapmu sebagai anak kandungnya sendiri?"


Lara menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Iya juga, ya. Mama Leni baik pada Lara dan menyayangi Lara."


"Nah, kalau sudah tahu ada yang menyayangimu lalu untuk apa kau memikirkan mereka yang jahat kepadamu!"


Lara menunduk dengan wajah kembali sendu. "Karena Lara sayang pada Mama Tiara dan Kak Celine, Kak. Tapi Mama Leni dan Kak Tiara tidak sayang pada Lara. Lara pikir saat Papa masih ada Mama Leni tulus menyayangi Lara. Tapi ternyata itu hanya kepura-puraan Mama saja." Cerita Lara.


Edgar menatap kasihan pada istri kecilnya yang sangat mengharapkan kasih sayang dari ibu tiri dan kakak tirinya itu. "Sudahlah, lupakan mereka. Jangan mengharapkan apa pun lagi pada mereka. Sekarang, yang harus kita lakukan adalah kembali merebut apa yang seharusnya menjadi milikmu."

__ADS_1


"Iya, Kak. Terima kasih Kak Edgar sudah baik pada Lara. Oh ya, Kak. Apa Kak Edgar juga menyayangi Lara seperti Mama Leni?" Tanya Lara penuh harap.


***


__ADS_2