Noda Menjadi Yang Ke 2

Noda Menjadi Yang Ke 2
S2 - Dokter Ghina


__ADS_3

Edgar benar-benar dibuat tak habis pikir dengan jalan pemikiran istrinya yang menganggapnya sebagai seorang ayah. Di sepanjang jalan menuju rumah sakit, Edgar tak henti menggerutu mengingat istrinya itu.


"Mentang-mentang jarak umur kami terpaut lima belas tahun dia seenaknya saja menganggapku sebagai seorang ayah! Dasar menyebalkan!" Gerutu Edgar.


Entah mengapa kini Edgar merasa harga dirinya jatuh karena pernyataan Lara. Edgar merasa dirinya sudah sangat tua hingga Lara menganggapnya seperti itu.


"Jika dia menganggapku sebagai ayahnya, lantas dia menganggap apa para lelaki hidung belang yang ada di klub malam tempat dia bekerja dulu? Kakek tua?" Gumam Edgar.


Terlalu banyak menggerutu pada istrinya membuat waktu terasa cepat berlalu dan tanpa disadari mobil milik Edgar telah sampai di pelantaran rumah sakit. Edgar segera memarkirkan mobilnya di parkiran mobil lalu keluar dari dalam mobil.


"Edgar," seorang wanita berparas cantik menghampiri Edgar yang baru saja masuk ke dalam rumah sakit.


Edgar menatap wanita itu dengan tersenyum. Dia adalah Ghina, rekan kerja Edgar selama bekerja di rumah sakit.


"Kau baru saja sampai?" Tanya Ghina setelah beradq di depan Edgar.

__ADS_1


"Ya. Seperti yang kau lihat."


Ghina menganggukkan kepalanya. "Kalau boleh tahu kemarin kau pergi kemana? Kenapa izin secara mendadak?" Tanya Ghina.


Edgar melipat bibir ke dalam. Rasanya ia tidak mungkin memberitahu Ghina jika kemarin ia dipaksa untuk menikah sehingga mengambil cuti mendadak dari rumah sakit.


"Ada urusan keluarga mendadak yang tidak bisa aku tinggalkan." Jawab Edgar. Menurutnya itu adalah jawaban yang pas untuk ia berikan pada Ghina.


"Oh," Ghina memilih tak banyak tanya. Terlebih ia tidak ingin membuat Edgar menjadi tidak nyaman.


"Edgar, bagaimana kalau nanti kita makan siang bersama mengganti waktu kemarin yang tertunda?" Ajak Ghina. Sebenarnya kemarin siang mereka sudah membuat janji untuk makan siang bersama namun rencana itu akhirnya batal karena Edgar pulang secara tiba-tiba.


Edgar tak langsung menjawab. Ia teringat dengan janji pada istri kecilnya jika nanti siang ia akan membawa Lara membeli baju.


"Maaf, Ghina. Sepertinya aku belum bisa. Nanti siang aku sudah ada janji dengan orang lain."

__ADS_1


Wajah Ghina nampak kecewa. Untuk yang kesekian kalinya ia gagal menikmati makan siang bersama dengan pujaan hatinya.


Ghina akhirnya tersenyum menutupi rasa kecewa. "Baiklah, tak masalah. Kita bisa menggantinya di lain waktu." Ucap Ghina.


Edgar tersenyum saja. Kemudian keduanya pun berpisah saat Edgar sudah berada di depan ruangan kerjanya.


Ghina menatap pintu ruangan Edgar yang sudah tertutup dari dalam. "Kenapa rasanya sulit sekali mencari waktu bersama dengan Edgar akhir-akhirnini?" Gumamnya.


Sementar Edgar yang sudah berada di dalam ruangan kerjanya kini membuka ponselnya untuk melihat rekaman cctv yang ia pasang di apartemen. Edgar ingin memastikan jika Lara tidak berniat macam-macam saat ia tidak berada di apartemen.


Baru saja rekaman cctv terbuka, Edgar sudah dibuat menggeleng melihat Lara mengatupkan kedua tangan ke kamera cctv meminta izin untuk membuang sampah ke lantai bawah.


"Dia ini kenapa seperti tahananku saja." Komentar Edgar. Edgar terus memperhatikan gerak-gerik Lara lewat rekaman cctv hingga akhirnya tersadar jika Lara akan keluar dari dalam apartemennya hanya menggunakan baju tanpa bra.


"Sialan. Apa dia mau menunjukkan choco chip tidak seberapa itu pada orang-orang?!" Gerutu Edgar lalu tanpa pikir panjang melakukan panggilan telefon dengan Lara berniat mencegah niat Lara yang ingin membuang sampah ke lantai bawah.

__ADS_1


***


__ADS_2