Noda Menjadi Yang Ke 2

Noda Menjadi Yang Ke 2
S2 - Lebih Baik Tidak Memasak


__ADS_3

"Aku akan berangkat bekerja dan mungkin akan pulang malam." Beri tahu Edgar pada Lara setelah memesankan makanan untuk Lara.


Lara menatap wajah Edgar ragu-ragu. "Tapi Tuan jika saya lapar bagaimana?" Tanyanya. Ia sudah mendapatkan larangan untuk tidak boleh memasak lagi oleh Edgar. Dan Lara tidak tahu harus mengisi perutnya dengan apa jika saja ia lapar lagi nanti siang.


"Aku akan memesankan makanan lagi untukmu nanti siang. Ingat, jangan macam-macam selama aku tidak ada atau berniat untuk kabur!" Perintah Edgar.


"Baik, Tuan." Sedikitnya kini Lara merasa lega karena untuk makan siangnya nanti sudah dijamin oleh Edgar.


Edgar memijit kepalanya yang terasa sakit setelah keluar dari dalam apartemennya. Kehadiran Lara di apartemennya cukup membuatnya pusing hingga geleng-geleng kepala.


"Apa semua wanita malam bersikap ceroboh seperti dirinya?" Tanya Edgar. Tidak ingin terlalu memikirkan Lara karena hanya akan membuat kepalanya semakin sakit, Edgar memilih segera melangkah ke arah lift berada.

__ADS_1


Tak berselang lama setelah kepergian Edgar, Lara dikejutkan dengan suara bel apartemen yang berbunyi pertanda ada tamu di depan apartemen Edgar.


"Siapa ya?" Gumam Lara. Ia menatap ke arah CCTV yang terpasang di ruang tengah apartemen milik Edgar. Takut membuat kesalahan lagi, Lara pun berbicara pada CCTV tersebut.


"Tuan Edgar, saya izin membuka pintu apartemen karena ada tamu di luar sana." Ucapnya seraya mengatupkan kedua tanyannya pada CCTV. Setelahnya, Lara pun melangkah ke arah pintu apartemen dan membukanya.


"Dengan Nona Lara? Saya kurir yang mengantarkan pesanan dari Tuan Edgar untuk anda." Beri tahu kurir tersebut.


Senyuman lebar terbit di wajah Lara mendengar kata makanan keluar dari pria tersebut. "Ya, saya Lara." Jawab Lara semangat.


"Apa Tuan Edgar sudah membayarnya?" Tanya Lara sedikit takut jika dirinya yang diminta untuk membayar.

__ADS_1


"Sudah, Nona. Kalau begitu saya pamit pergi dulu." Ucapnya dan diangguki Lara sebagai jawaban.


Lara segera melangkah masuk ke dalam apartemen setelah kepergian kurir tersebut. Dengan rasa tidak sabar, Lara melangkah ke arah dapur lalu menyalin makanan tersebut ke dalam piring.


Kedua bola mata Lara nampak berbinar menatap sarapan pagi yang dibelikan Edgar untuknya. "Sepertinya nasi goreng ini sangat enak dibandingkan nasi goreng buatanku tadi." Ucap Lara lalu menyuapkan nasi goreng ayam tersebut ke dalam mulutnya.


Di dalam mobilnya, Edgar yang ingin memastikan Lara tidak akan berbuat macam-macam segera memeriksa rekaman CCTV apartemennya. Kerutan halus nampat muncul di dahinya melihat Lara yang sedang makan seperti orang kesurupan.


"Apa dia sangat lapar sekali sehingga makan seperti itu?" Gumam Edgar. Setelah cukup melihat rekaman CCTV yang hanya memperlihatkan aktivitas Lara sedang makan saat ini, Edgar pun memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jas kerjanya.


Lara yang kini sudah selesai menghabiskan sarapan paginya nampak mengusap perutnya yang sudah terasa membuncit berisi makanan. "Terima kasih Tuan Ed. Sarapannya sangat enak." Gumam Lara. Jika sejak awal ia tahu jika Edgar akan membelikannya sarapan seenak ini, mungkin Lara tidak akan berniat untuk memasak dan membuat kekacauan di apartemen milik Edgar.

__ADS_1


"Semoga saja nanti siang Tuan Edgar tidak lupa untuk membelikan makan siang untukku." Harap Lara karena jika sampai Edgar melupakannya ia tidak tahu lagi harus memakan apa.


***


__ADS_2