Noda Menjadi Yang Ke 2

Noda Menjadi Yang Ke 2
S2 - Tidak Ada Yang Gratis


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore saat Edgar sudah berada di dalam apertemennya. Hayalan Edgar yang terlalu tinggi jika Lara akan menyambutnya seperti kemarin sirna sudah saat melihat Lara terduduk di sofa dengan wajah lemas.


"Lara," Edgar menghampiri istrinya itu sambil menahan rasa sebal dalam hati.


Mendengar suara Edgar sudah berada dekat dengannya membuat Lara mendongak menatap wajah Edgar. "Kak Edgar sudah pulang?" Tanyanya pelan.


Dahi Edgar mengkerut melihat sikap istrinya itu. Baru saja ia ingin membalas sikap manis Lara kepadanya namun ternyata Lara tak lagi bersikap manis seperti kemarin.


"Ada apa denganmu?" Edgar bertanya tanpa menjawab pertanyaan Lara.


"Aku sedih, Kak." Cicit Lara lalu menundukkan kepalanya.


Semakin bingung saja Edgar melihat sikap istrinya itu. Edgar pun akhirnya menjatuhkan bokong di atas sofa yang berhadapan dengan Lara.


"Apa yang membuatmu bersedih? Apa uang jajan yang aku berikan kurang sehingga kau tidak bisa membeli es krim kesukaanmu?" Tebak Edgar.

__ADS_1


"Tidak. Uangnya bahkan masih utuh, Kak." Jawab Lara polos.


"Lalu apa? Apa kau ingin punya kendaraan sendiri untuk pergi ke kampus?" Edgar kembali menebak dan Lara menjawab dengan gelengan kepalanya. "Jika semuanya tidak, lalu ada apa?" Tanya Edgar sedikit menggerutu.


Lara akhirnya mengangkat kepalanya yang tertunduk. "Lara sedih karena Mama Tiara masuk penjara, Kak. Lara rasanya gak tega." Cicitnya.


Edgar menghela napas dalam-dalam. Ia mencoba mengerti jika istri kecilnya itu memiliki sikap lemah lembut dan sangat sensitif.


"Bukannya kita sudah membahas hal ini kemarin? Apa yang terjadi pada Tante Tiara adalah hukuman yang harus ia terima atas segala perbuatannya."


"Tapi Lara juga sedih karena Kak Celine nampak sedih karena mamanya masuk penjara. Kak Celine gak punya siapa-siapa lagi selain Mama Tiara."


Mendengar perkataan Edgar membuat Lara menitikkan air mata. Ia sungguh merasa sedih jika mengingat kejadian itu dimana Mama Tiara tanpa belas kasih menjualnya pada Tuan Jacob.


"Sekarang tidak perlu lagi memikirkan mereka. Biarkan saja mereka menjalani hukuman atas apa yang mereka buat kepadamu. Jika kita tidak memberikan ganjaran pada mereka, mungkin mereka tidak akan berubah dan akan bersikap semakin jahat."

__ADS_1


Lara mengangguk-anggukkan kepalanya tanda paham. "Tapi bagaimana dengan Kak Celine ya, Kak. Dia mau tinggal dimana?" Lara masih saja memikirkan kakak tirinya yang sudah jahat itu.


"Tidak usah memperdulikannya. Dia sudah besar dan bisa mengurus hidupnya sendiri." 


Lara menghela napas. Rasanya ia tak sanggup bila tak memikirkan kakaknya itu. Terlebih rasa kasihannya masih mendominasi.


"Oh ya, apa Lara boleh meminta izin untuk pergi menjenguk Mama Tiara? Lara ingin melihat Mama, Kak." Pinta Lara.


Edgar diam karena sedang berpikir. Setelah cukup lama hening, akhirnya Edgar mengangguk mengiyakan permintaab Lara. "Kau boleh menemui Tante Tiara asalkan bersamaku."


Lara mengangguk saja. "Jadi kapan kita akan menemui Mama Tiara, Kak?" Tanyanya tak sabar.


"Besok. Kebetulan besok pagi aku tidak ada jadwal kontrol."


Lara mengembangkan senyum mendengarnya. "Terima kasih, Kak." Ucapnya lembut.

__ADS_1


"Tidak ada kata terima kasih. Kau masih ingat bukan jika kebaikanku ini tidak gratis? Sekarang ayo lakukan tugasmu dengan baik sebagai seorang istri!"


***


__ADS_2