
"Tidak perlu meminta maaf, Nak. Tanpa meminta maaf pun Mama sudah memaafkan semua kesalahanmu." Kedua wanita berbeda generasi itu saling tersenyum haru. Arkana yang melihatnya ikut merasakan keharuan tersebut.
Beberapa jam berlalu akhirnya Emila sudah dipindahkan ke ruangan perawatan dan sedang menunggu kedua bayinya dibawa ke ruangan perawatan setelah melakukan berbagai macam pemeriksaan oleh dokter anak.
"Anak-anakku..." Emila menatap kedua bayinya dengan mata berkaca-kaca.
Suster yang bertugas membawa kedua bayi tersebut pun melakukan tugasnya dengan mengajarkan Emila cara menyusui bayinya dengan benar. Setelah selesai dengan tugasnya, kedua suster pun berpamitan untuk pergi.
Malik dan Flower yang sejak tadi memilih menunggu di luar akhirnya masuk setelah kedua suster keluar dari dalam ruangan perawatan.
"Emila... kedua bayimu lucu sekali..." Flower merasa gemas melihat betapa lucunya kedua bayi yang saat ini sedang berada di dalam box bayi.
__ADS_1
Emila mengembangkan senyum. "Terima kasih karena kau dan Malik sudah datang melihatku dan Baby."
Flower hanya menjawab denhan anggukan kepalanya. Matanya kini fokus mengamati kedua wajah bayi yang begitu lucu di matanya. "Malik, aku jadi ingin memiliki bayi kembar seperti Emila." Celoteh Flower tanpa mengalihkan pandangan dari Baby twin.
Malik menipiskan bibir. Istrinya itu mudah sekali meminta bayi kepadanya tanpa perduli jika mengandung dan melahirkan tidak semudah permintaannya.
"Malik, kenapa kau diam saja? Apa kau tidak mau menghamiliku lagi?" Wajah Flower berubah masam.
"Bukan seperti itu. Kau ingat bukan dengan perkataan Mommy?" Dari pada membantah panjang lebar Malik lebih memilih mengingatkan istrinya.
Bu Asma tersenyum mendengarkan permintaan Flower yang meminta Malik menghamilinya. Wanita yang sudah sangat berjasa pada keluarganya itu benar-benar unik. Mudah sekali meminta anak pada suaminya. Untung saja Flower memiliki suami penyayang seperti Malik yang selalu mengerti dirinya.
__ADS_1
Tidak berselang lama Edgar nampak masuk ke dalam ruangan masih menggunakan jas putih yang melekat di tubuhnya. "Maaf aku terlambat." Ucap Edgar. Ia baru saja selesai dari acara seminar yang diadakan oleh Tuan Dika.
"Edgar..." Emila cukup terkejut melihat keberadaan Edgar. Akhirnya pertanyaan yang sejak tadi memenuhi kepalanya ia tanyakan pada Arkana. "Bagaimana bisa kau ada di sini. Dan Edgar kenapa juga ada di sini?" Tanya Emila pelan. Sudah susah payah ia kabur dari Arkana tapi tetap tertangkap juga.
"Apa kau sangat penasaran?" Arkana bertanya lembut. "Jika aku menjawabnya apa kau akan berjanji tidak akan kabur lagi membawa anak-anakku?"
Emila menipiskan bibir. Sejujurnya ia masih takut berada dekat dengan Arkana. Takut kedua buah hatinya dibawa kabur oleh Arkana.
Edgar berjalan mendekati keduanya. "Mila, jangan parno begitu. Arkana adalah suami dan ayah yang baik. Dia tidak akan pergi membawa kedua anakmu." Ucap Edgar seolah tahu apa yang ada di hati Emila.
"Edgar benar. Aku tidak sejahat itu membawa pergi kedua anakku dari ibunya. Aku tidak mungkin memisahkan kalian. Emila, begitu banyak permasalahan dan kesalahpahaman yang terjadi di antara kita. Setelah kau pulang dari rumah sakit nanti aku akan menjelaskan semuanya kepadamu."
__ADS_1
Emila diam. Masih merasa awas jika Edgar dan Arkana berkata dusta kepadanya.
***