
...Happy Reading...
...❤...
"Aku tidak mau!" Diandra berjalan cepat, meninggalkan Gio begitu saja.
"Hei! Bagaimana jika kita berbicara dulu, aku akan jelaskan semuanya?" ujar Gio sambil mengejar langkah Diandra.
"Aku tak perduli dengan penjelasan apa pun darimu, lebih baik kamu jangan lagi menemuiku, aku tidak sudi mengenal sosok bajingan seperti dirimu!" geram Diandra penuh amarah.
"Ikut aku sekarang!" ujar Gio sambil memegang pergelangan tangannya Diandra.
"Lepas, aku tidak butuh berbicara denganmu, kecuali urusan hutang balasan atas pertolonganmu!" Diandra berusaha melepaskan genggaman tangan Gio.
Lelaki itu tidak menjawab, dia hanya terus menyeretenya dengan paksa entah ke mana. Semua perlakuan itu malah semakin membuat penilaian Diandra semakin buruk pada lelaki di depannya itu.
'Sudah punya pacar berani ngajak perempuan lain menikah, dasar lelaki brengsek! Egois, selalu mementingkan kemauannya sendiri tanpa berpikir apa yang orang lain inginkan! Heh, semua lelaki memang sama kan?!' gumam hati Diandra terus mengumpat Gio.
"Aku bilang lepaskan ya lepaskan! Atau aku berteriak sekarang juga, agar kamu dikeroyok masa!" ancam Diandra.
"Tolong! Tolong! Aku mau diculik!" teriak Diandra, kemudian.
Gio langsung terkesiap, melepaskan tangan Diandra lalu mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. Kepalanya berputar dengan tatapan resah, saat dia melihat para pengunjung mulai melihatnya dengan tatapan tajam.
"Oke-oke, aku lepaskan kamu. Tapi kita bicara dulu ya?" ujar Gio.
"Tidak! Aku bilang gak mau ya gak mau!" keras Diandra.
"Maaf, dia calon istriku, kami sedikit berdebat," ujar Gio pelan, sambil tersenyum canggung pada setiap pengunjung. Sangat tidak elegan bila dia harus dikeroyok masa, hanya gara-gara seorang perempuan.
Diandra tak peduli semua itu, dia memanfaatkan kesempatan untuk segera berjalan pergi meninggalkan Gio. Jengah rasanya mendengar semua omong kosong lelaki yang menurutnya tak penting sama sekali.
"Hei! Sayang, tunggu aku!" Gio yang baru sadar keberadaan Diandra yang sudah jauh dari tempatnya, kini berteriak kembali dengan menambahkan kata sayang.
Dian hanya memutar bola matanya, saat mendengar panggilan dari lelaki yang baru tadi pagi dia kenal itu.
"Dasar gil*!" umpat Diandra, sambil terus berjalan, tanpa perduli dengan Gio sama sekali.
__ADS_1
Gio akhirnya menghentikan langkahnya, menatap punggung Dian yang kini terlihat semakin menjauh dari tempatnya.
"Kamu tidak akan aku lepaskan begitu saja!" desis Dion.
Huffhhh!
Hembusan napas terdengar, sambil kembali berbalik menuju restoran untuk mengambil motornya, setelah matanya tak lagi melihat perempuan itu.
Sudah cukup usahanya untuk kali ini, dia tidak akan menyerah sebelum keinginannya tercapai. Seorang Giovano tidak tahu kata menyerah, jika itu menyangkut seorang wanita. Ya, apa lagi Dian yang terlihat sangat berbeda dengan banyaknya perempuan di luar sana.
Di saat para perempuan lain akan langsung mengejarnya hanya dengan satu kedipan mata genit yang dia lakukan, maka itu tidak berguna bagi Diandra. Perempuan itu malah menolaknya mentah-mentah bahkan di saat dia menawarkan sebuah ikatan pernikahan.
Sungguh seorang perempuan yang tidak akan pernah dia lepaskan begitu saja. Diandra begitu langka dan tidak ada duanya di dalam kehidupan Gio yang sempurna, mungkin lebih tepatnya, terlihat sempurna.
"Bagaimana?" tanya Randi begitu ia melihat bosnya itu kembali. Dia sengaja mengejar Gio dan memperhatikan bosnya itu dari jauh, agar mereka tak merasa terganggu.
Gio tak menjawab, dia mengangkat bahu acuh, sambil terus berjalan ke arah restoran.
.
Satu bulan sudah berlalu, sejak pertemuannya dengan Gio, laki-laki penolong yang dengan tak tahu dirinya meminta imbalan sebuah pernikahan.
Diandra bahkan sempat memergoki Gio sedang berdebat dengan perempuan yang dulu ia lihat di dalam restoran.
Keningnya sedikit berkerut saat mengingat sudah lebih dari seminggu dia tak melihat lelaki itu di mana pun.
'Apa mungkin dia menyerah? Biarkan saja lah, siapa peduli dengannya,' gumamnya di dalam hati.
Ingatannya kembali pada beberapa minggu belakangan, di saat lelaki itu terus mendekatinya, walau dia terus menolak.
Flash back
"Hai, lagi ngapain?" Diandra melihat sekilas lelaki yang dengan seenaknya duduk di depannya.
Diandra yang tadinya sedang makan siang dengan begitu nikmat, kini terganggu oleh jenis makhluk tuhan yang paling dihindarinya itu.
Diandra sama sekali tak menganggap keberadaan Gio, kembali menyuapkan makanannya tanpa menjawab pertanyaan laki-laki itu.
Gio duduk menyandar di kursi, satu tangannya ia lipat di atas perut, lalu satu tangan lagi ia letakan di bawah dagu, jari telunjuknya mengusap berulang bibir berwarna merah gelap itu, matanya tak pernah terlepas dari pemandangan indah di depannya.
__ADS_1
Seorang perempuan berbalut pakaian kerja dengan rambut berwarna dark brown tergerai, sedikit bergoyang saat terkena terpaan angin dari laut lepas.
Cara makan yang terlihat sedikit kasar, dengan hentakan sendok dan garpu beradu dengan piring, jelas terdengar nyaring di telinga, ditambah gerak rahang yang sedang menguyah itu menjadi pemandangan yang begitu langka.
Di mana selama ini Gio hanya melihat para perempuan yang sibuk berpura-pura menjadi sempurna, lemah lembut dan elegan, untuk menarik rasa simpatinya. Kini, dia bisa melihat perempuan yang sama sekali tidak takut terlihat jelek walau makan dengan sembarangan.
Ah, sepertinya dia harus mengubah sedikit perkataannya, karena memang nyatanya Diandra tak terlihat jelek sama sekali, dia begitu cantik dan mempesona dengan caranya sendiri.
'Sial! Kenapa nih orang liatin aku mulu sih!' umpat Dian dalam hati. Dia benar-benar tidak nyaman dengan keberadaan orang di depannya.
"Aku akan kembali ke Jakarta beberapa hari ini, karena ada urusan di sana yang harus aku urus," ujar Gio tiba-tiba. Dia bahkan seperti sedang berpamitan pada seorang pacar.
"Apa peduliku? Kamu mau pulang atau tidak, itu bukan urusanku," ujar Dian, begitu dingin.
Gio tak tersinggung, dia tersenyum tipis tanpa mengalihkan pandangannya.
Ya, keangkuhan dan sikap keras dari perempuan di depannya itulah yang membuatnya tertarik untuk mendapatkannya.
"Benarkah? Aku yakin kamu akan rindu padaku," ujar Gio dengan begitu percaya diri.
Diandra menghentikan sebentar aktifitas makannya, menatap sekilas Gio dengan decakkan kasar di bibirnya.
"Tidak mungkin!" jawab Dian kemudian.
Menaruh sendok dan garpu di atas meja dengan gerakan kasar, lalu berdiri dan berjalan menjauh dengan langkah yang terlihat kasar.
Mata Gio masih mengikuti gerakan perempuan itu, hingga tak terlihat oleh pandangan. Lalu beranjak dan pergi begitu saja, tanpa berniat memesan atau pun mencicipi hidangan di restoran itu.
Flash back off
"Dian, nanti siang kita ada rapat bersama salah satu investor yang akan membantu dana pembangunan hotel kita di bandung," ujar Romi, menyadarkan Diandra dari lamunannya.
"Baiklah, berikan berkasnya padaku, biar aku pelajari dulu," jawab Diandra.
Saat ini Diandra memang sedang berada di ruangan Romi, mereka sedang membahas pembangunan hotel di Bandung yang masih membutuhkan penanam modal untuk membantu mereka.
...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...
...Bersambung...
__ADS_1