Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Kucing dan ikan asin


__ADS_3

...Happy Reading...


................


Perlahan pintu hotel di depan Gio terbuka, laki-laki itu terdiam menatap seluruh ruangan yang bisa terjangkau oleh pandangannya.


"Masuk," ujar laki-laki yang membuka pintu untuk Gio.


Gio tampak ragu, pasalnya di ruangan itu tampak tidak ada Cleo, ataupun orang lain.


"Nona Cleo, akan datang sebentar lagi," ujar laki-laki itu lagi, seakan tahu apa yang dipikirkan oleh Gio.


Dengan langkah ragu, Gio mulai melangkahkan kakinya ke dalam. Begitu seluruh tubuhnya berada di dalam kamar, pintu langsung di tutup dan dikunci kembali.


Gio langsung berbalik hendak menahan pintu, akan tetapi, itu sudah terlambat, dia sudah terkurung di dalam kamar tak berpenghuni itu.


Gio memilih masuk lebih dalam, pandangan matanya terus berkeliling melihat seluruh isi ruangan sederhana itu.


Isinya hanya ada tempat tidur ukuran sedang, dan lemari kayu yang terlihat sudah cukup berumur. Ada juga beberapa pajangan berupa bunga sintetis dan lukisan yang menggantung di dinding.


Semilir angin mengalihkan perhatiannya pada jendela yang sedikit terbuka, menerbangkan tirai putih yang menghalanginya.


Ternyata ada balkon kecil di balik jendela. Gio melihat ke luar, tampaknya cukup tinggi, dari permukaan tanah. Dia bisa mengira itu, saat melihat pucuk pepohonan yang berada setara dengan kamar ini.


Bagaimana tidak, walaupun hotel ini tampak sederhana dan berada di pinggir kota. Akan tetapi, bangunan ini memiliki lima lantai dengan luas yang lumayan, bila dilihat dari jumlah kendaraan yang trparkir, Gio juga bisa menebak kalau hotel ini cukup ramai pengunjung.


Lama melihat sekitar, sambil mempelajari situasi, tiba-tiba Gio mendengar pintu terbuka, dia langsung menoleh, dan melihat seorang gadis yang sepertinya didorong paksa untuk masuk ke kamarnya, hingga dia terhuyung dan membungkuk di depan pintu.


Gio hanya memperhatikan tanpa mau membantu, hingga matanya membulat saat wanita itu mengangkat wajahnya sekilas, degan ringisan tertahan. Walaupun itu terjadi sangat singkat, Gio bisa mengenali wajahnya.


"Diandra?" gumam Gio, langsung menghampiri wanita itu.


"Say–" Gio langsung terdiam, saat sudah melihat wajah orang itu dari dekat. Ya, itu bukan Diandra, itu adalah Rani atau Ana.


Rani menyilangkan tangannya di depan dada, berusaha menghalangi tubuhnya yang terbuka, akibat pakaian minim yang dirinya pakai. Gio langsung melepaskan tangannya yang hendak merangkul Rani, berdiri tegap kembali dengan gerakan tubuh yang canggung dan gelisah.

__ADS_1


Wajah Rani terlihat begitu tertekan, bahkan jika melihat dari jarak dekat, ada lebam di ujung bibir dan pipinya. Sepertinya Rani telah mengalami kekerasan fisik selama diculik oleh Cleo.


Gio melihat sekitarnya, mencari sesuatu yang bisa menutupi tubuh Rani, agar wanita itu bisa lebih nyaman. Dengan langkah lebar, Gio menuju ke ranjang dan menarik selimut, kemudian kembali untuk memakaikan selimut itu pada tubuh Rani.


"Maaf, untuk saat ini kamu pakai ini dulu," ujar Gio sambil menutup tubuh Rani menggunakan selimut di tangannya.


"Kamu tau di mana anakmu?" bisik Gio sambil berjongkok di samping Rani.


Rani terlihat takut berada di dekat Gio, entah karena apa. DIa terus bergeser dan menjauh dari Gio, kepalanya hanya menggeleng sebagai jawaban.


Gio mengernyit, menatap bingung sikap Rani. Ini sangat berbeda dengan terakhir dia bertemu dengan saudara kembar istrinya itu. Sepertinya Cleo sudah berbicara yang tidak-tidak pada Rani tentang dirinya.


Gio menghembuskan napas kasar, dia kemudian membantu Rani untuk berdiri, walau Rani seperti terus menolaknya.


"Duduklah dan tenangkan dirimu, aku tidak akan menyentuhmu," ujar Gio sambil menuntun Rani untuk duduk di atas ranjang.


Gio kembali berdiri dan berjalan menjauh dari Rani, dia memilih duduk di kursi yang ada di sana.


Rani terus terdiam, ingatannya kembali pada saat dia berbicara dengan wanita yang dulu membelinya dari Renggo.


"Kamu tau, Gio itu siapa?" Dia juga seorang bajingan, tidak jauh dengan laki-laki yang sering kamu layani dulu." ucapan itu terus tenging-ngiang di kepalanya.


"Kamu tidak percaya?" Cleo tampak terkekeh melihat dirinya yang tertekan.


Kaki dan tangannya terikat, dengan kerudung sudah tidak ada lagi di kepalanya. Entah sejak kapan dia juga tidak tahu, mengingat dia terbangun sudah dalam keadaan seperti itu.


"Kamu pasti akan terkejut jika melihat semua ini," ujar Cleo lagi, sambil menyalakan sebuah layar tidak jauh dari tempatnya duduk.


Wajah Rani sudah tidak bisa berpura-pura tetap tenang, saat melihat semua foto dan video yang menunjukkan Gio sedang berada di dalam club, dengan para perempuan dan alkohol di tangannya. VIdeo itu bahkan merekam di saat Gio sedang memakai barang haram dan menikmatinya.


Sungguh, dia semakin terkejut saat layar itu juga menampilkan puluhan foto, Gio bersama dengan wanita-wanita malam.


"Bagaimana? Kamu pasti terkejut ya, dengan semu ini. Hahaha!" Tawa Cleo menggema di ruangan itu.


"Kamu tau ... Gio itu adalah seorang casanova terkenal, dia seorang laki-laki yang tidak akan pernah puas dengan seorang perempuan saja," ujar Cleo lagi.

__ADS_1


Rani melirik Gio yang tampak sedang berfikir keras di depannya, dia sungguh tidak percaya kalau Gio termasuk laki-laki brengsek. Akan tetapi, dia juga tidak bisa menghilangkan bayangan semua bukti yang ditunjukkan oleh Cleo.


Tidak, tidak mungkin. Diandra tidak akan ceroboh untuk menjadikan laki-laki brengsek sebagai suaminya. Rani menggeleng samar, saat pikirannya terus tertuju pada video dan foto Gio.


Tapi, bagaimana jika semua itu benar? Aku harus gimana? Aku gak mau Diandra sakit hati lagi. Rani terus bergumam di dalam hati.


Beberapa waktu berlalu, kini Rani terlihat gelisah, jantungnya berdebar kencang, tanoa tahu apa sebabnya. Dia juga mulai merasakan panas di sekujur tubuhnya, sepertinya minuman yang dia minum sebelum masuk ke kamar ini, mengandung sesuatu.


Semakin lama, perasaan panas itu semakin menyiksa, ditambah kesadarannya pun semakin terasa kabur, dia seakan mendapatkan sesuatu yang berbeda. Perasaan tenang dan keberanian lebih, membuat dia kehilangan kendali diri.


Gio yang awalnya tengah menunduk, memijat pangkal hidungnya kini mengalihkan perhatiannya pada Rani yang tampak gelisah.


Kenapa dia? tanya Gio di dalam hati dengan kerutan dalam di keningnya.


Rani tiba-tiba saja membuka selimut yang menutupi tubuhnya, dia merebahkan diri di atas ranjang dengan gerakan yang menggoda. Bibirnya terus meracau dengan kata lirih, hingga tidak terdengar jelas.


Gio melebarkan matanya, dia tahu apa yang sedang dialami oleh Rani.


Sial! Dasar wanita sialan! umpat Gio di dalam hati sambil mengacak rambutnya.


"Tolong, panas," lirih Rani sambil terus bergerak gelisah, pandangan matanya pun sudah mulai kabur.


Gio bangkit, dia menghampiri Rani, mencoba untuk memeriksa keadaan saudara kembar dari istrinya itu. Akan tetapi, saat dirinya memang pergelangan tangan Rani, wanita itu langsung menarik tubuhnya hingga Gio terjatuh tepat di atas tubuh Rani.


"Tolong," gumam Rani lirih.


"Kendalikan dirimu, Rani. Aku Gio, suami kakakmu," geram Gio, sambil melepaskan diri dari tubuh Rani.


Dalam situasi saat ini, dirinya berada dalam posisi orang yang masih waras, sedangkan Rani sudah mulai gila. Oleh karena itu, dia harus tetap mempertahankan kewarasannya.


Di tempat lain, Cleo dan para anak buahnya tampak serius memperhatikan rekaman CCTV tersembunyi, yang sudah mereka pasang di dalam kamar Gio dan Rani.


Cleo tampak menyeringai, melihat obat yang dia berikan pada Rani mulai bereaksi.


"Aku mau melihat, sampai di mana kamu akan bertahan dalam kewarasanmu, Gio. Mana ada kucing yang akan menolak ikan asin di depan mata," ujar Cleo dengan seringai tajam di wajahnya.

__ADS_1


...................


Gimana nih, apa Gio akan tetap bertahan menghadapi godaan? Komen yuk🥰


__ADS_2