Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Pesan ancaman


__ADS_3

...Happy Reading...


......................


Suara pesan masuk pada ponsel Diandra mengalihkan perhatian Gio. Laki-laki itu pun beranjak dari tempat tidur dan mengambil ponsel milik istrinya itu.


"Nomor tidak dikenal?" lirih Gio, dengan kerutan halus di keningnya.


Gio pun membaca pesan itu dari pemberitahuan layar depan, mengingat ponsel Diandra dikunci dengan mode sidik jari.


Benar-benar perempuan misterius, bahkan ponselnya saja tidak bisa diakses oleh orang lain, batin Gio.


Gio pun mulai membaca pesan dari nomor yang tidak dikenal itu.


+628.......: [Pagi Diandra. Apa kami sudah memikirkan perkataanku kemarin? Cepat putuskan atau laki-laki itu tidak akan selamat. Aku beri waktu sampai sore nanti]


Kerutan di kening GIo bertambah dalam, melihat barisan kata ancaman yang baru saja da baca.


"Apa-apaan ini? Dasar laki-laki pengecut, beraninya dia mengganggu istriku!" geram Gio.


Gio meletakkan kembali ponsel milik Diandra di tempatnya, dia beralih mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorag.


"Kamu di mana sekarang?" tanya Gio setelah panggilan itu tersambung.


"Aku baru saja sampai di rumah. Ada apa?"


Randi yang masih bergelung dengan selimutnya menjawab malas panggilan dari bos sekaligus saudaranya itu.


"Rumah mana? Bukannya kemarin aku bilang untuk langsung ke sini lagi, kalau urusan di sana udah selesai!" Gio berbicara dengan emosi tertahan.


"Aku baru sampai di rumah kamu dua jam yang lalu, Gio. Kami ke mari dengan menggunakan mobil, jadi tolong biarkan aku istirahat sebentar lagi," melas Randi.


"Kami? Kamu ke mari sama siapa?" tajam Gio, saat menyadari ada kata yang janggal.


"Tante Hana dan Gita," jawab santai Randi, dengan mata yang masih terasa berat untuk dibuka.


"Apa? Kenapa kamu bawa mereka ke sini, Randi?! Astaga!" Gio menggeram frustrasi mendengar jawaban dari asistennya itu.


"Sekarang mereka ada di mana?" tanya Gio lagi, bersiap untuk mengganti baju.


"Di rumah, lalu aku mau bawa ke mana lagi," jawab Randi.


Gio langsung memutuskan sambungan telepon diantara dirinya dan sang asisiten, dia bergegas untuk mengganti baju.


Diandra yang baru saja ke luar dari kamar mandi, menatap bingung wajah panik Gio.


Tidak biasanya laki-laki itu menampilkan wajah seperti itu, di depan dirinya.


"Ada apa?" tanya Diandra, sambil berdiri di samping Gio yang sedang bersiap.

__ADS_1


"Ibu dan adikku datang ke sini, aku harus menemui mereka dulu," ujar Gio, sambil memasangkan jam bermerek itu di pergelangan tangannya.


Namun, entah karena terlalu panik, dia terus gagal untuk mengunci jam tangannya.


Diandra yang bisa melihat semua itu, berinisiatif untuk membantu. Tangannya perlahan mengulur memegang jam di tangan Gio.


Gio yang terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Diandra, hanya terdiam mematung, sambil melihat istrinya itu memasangkan jam tangan kepadanya.


Ya Tuhan, mimpi apa aku semalam? batin Gio.


"Sudah," ujar Diandra, sambil melihat wajah Gio.


Dirinya sempat terkejut, ketika melihat Gio yang sedang tersenyum sambil menatapnya dalam.


Gio terperanjat saat mendengar suara istrinya itu, dia pun langsung mengalihkan pandangannya dengan wajah sedikit memerah.


"Terima kasih," jawab Gio kemudian.


Diandra mengangguk lalu kembali berjalan menuju lemari untuk mengambil baju.


Dia pun memasukkan dompet dan peralatan lainnya ke dalam saku. Tangannya terhenti saat matanya melihat pada ponsel milik Diandra.


Dia tidak boleh melihat pesan itu, batin Gio.


Gio melihat Diandra yang sudah kembali ke dalam kamar mandi. Dia pun memilih untuk mengambil ponsel istrinya dan meninggalkan ponsel miliknya.


"Sayang, aku berangkat dulu, ya. Maaf hari ini aku gak sempat buatin kamu sarapan," ujar Gio di depan pintu kamar mandi.


"Ya!"


Hanya jawaban itu yang terdengar dari kamar mandi. Gio tersenyum, dia sudah biasa mendapatkan balasan singkat atau nada suara judes dari istrinya.


Dia tidak ambil pusing untuk masalah seperti itu, harapannya kali ini hanya untuk bisa menjaga dan membuat Diandra bisa menjalani hidup dengan bahagia.


Gio pun akhirnya berbalik dan melangkah pergi meninggalkan rumah Diandra, di hari yang masih cukup pagi.


Diandra ke luar dari kamar mandi, dia mengedarkan pandangannya, dia melihat ranjang yang masih berantakan bekas tidur mereka berdua.


Tidak ada yang berbeda sperti sebelumnya, mereka memang sudah melakukan itu sejak hari pernikahan.


Namun, entah kenapa malam tadi dia merasakan sesuatu yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.


Ada rasa tenang saat dia tertidur di dalam pelukan Gio. bahkan hatinya merasa senang, ketika dia terbangun dengan wajah Gio menjadi sesuatu yang pertama kali dilihat.


Ada apa sebenarnya denganku? Aku tidak mungkin jatuh cinta padanya, bukan?


Diandra memegang dadanya merasakan debar jantung yang semakin lama semakin cepat. Kemudian menggeleng cepat, menolak rasa yang dia rasakan di dalam hatinya.


"Tidak! Aku pasti hanya merasa iba dan peduli, karena tingkahnya tadi malam," ujar Diandra.

__ADS_1


Wanita itu pun mulai menyiapkan diri untuk kembali ke kantor, dia mulai mengaplikasikan mekap tipis di wajahnya.


Namun, Diandra menghentikan pergerakannya yang sedang menaburkan bedak di wajah, ketika perkataan Gio tadi malam kembali terbayang.


"Sebenarnya luka masa lalu apa yang dia alami?"lirihnya.


"Akh, sudahlah. Ngapain juga pake dipikirin," ujarnya kemudian, sambil melanjutkan aktivitasnya.


Namun, beberapa saat kemudian perempuan itu kembali menghentikannya.


"Ish, kenapa juga dia pake cerita sama aku sih? Bikin aku kepikiran aja!" gerutu Diandra.


Selesai dengan mekap di wajahnya, Diandra pun beranjak untuk menyiapkan berkas yang dia sempat kerjaan kemarin, di sela pikirannya yang kacau.


Beberapa saat kemudian perempuan dengan tubuh ramping itu pun sudah berjalan ke luar dari dalam rumahnya.


Dirinya memilih untuk sarapan di luar saja, mengingat hari yang sudah mulai siang.


Diandra lebih memilih mampir di sebuah mini market untuk membeli oat mel siap saji.


Perempuan itu sudah kehilangan selera makannya sejak hari kemarin. Akan tetapi, perutnya yang merasa perih tidak bisa dia biarkan begitu saja.


Sampai di dalam kantor, dia langsung menuju pantry untuk menyeduh sarapannya, dan membawanya ke dalam ruangan kerjanya.


"Ish, gimana ceritanya asisten datang lebih siang dari bosnya?" ledek Romi yang sudah ke luar dari ruangannya.


Diandra melihat jam di pergelangan tangannya, dia memang terlambat beberapa menit.


"Kamu juga pasti baru sampai," cebik Diandra.


Romi terkekeh kecil, mendengar jawaban saudaranya itu.


"Ya, tumben aja seorang Diandra terlambat datang, biasanya bukannya kamu yang selalu datang paling pagi? Wah, kalau karyawan yang lain tau kamu bosnya, pasti mereka udah malu duluan tuh, liat jam kerja yang punya hotel kayak kamu gitu."


Romi duduk di depan Diandra sambil terus berkata-kata.


Diandra memutar bola matanya, jengah juga mendengarkan kata-kata Romi.


"Terserah kamu saja, lah. Sini mana pekerjaan kamu kemarin," ujar Diandra dengan nada ketusnya.


Walau begitu, Romi tidak merasa takut sama sekali dengan sikap Diandra yang seperti itu. Dia sudah cukup tau dengan perangai dari bos berkedok asistennya itu.


......................


Mau ngapain nih, Hana dan Gita nyusul Gio?๐Ÿค” Jangan lupa komen๐Ÿ‘


...๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน...


...Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2