Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Khawatir


__ADS_3

...Happy Reading...


......................


Menjelang sore hari, Gio dan Hana pamit pulang. Hana pun kini mengetahui keadaan pernikahan Gio yang tidak seperti pernikahan pada umumnya.


Ternyata dua wanita paruh baya itu, juga membicarakan Diandra saat mereka sedang menyiapkan makan siang berdua.


"Gio, apa benar kamu sudah mencintai Diandra?" tanya Hana, menatap wajah Gio yang masih fokus menyetir.


Gio menoleh kilas pada cinta pertamanya itu, senyum tipis pun tampak menghiasi wajah tampannya.


"Apa, Mama, masih meragukan aku?" tanya Gio lagi.


"Mau bagaimana lagi, selama ini bukannya kamu memang sering mempermainkan wanita?" Hana berubah santai, seolah dia sudah lama mengetahui kelakuan buruk anaknya.


Gio refleks menginjak pedal rem dengan cepat, hingga mobil yang dia kendaraan pun langsung berhenti.


"Gio, kamu apa-apaan sih?!" sentak Hana, refleks memaki anak laki-lakinya.


"Apa tadi? Mama, bilang?" Gio seakan tidak mendengar perkataan Hana yang terakhir.


Hana yang masih dalam mode terkejut, malah menatap Gio tajam. Dia merasa kesal pada laki-laki muda di sampingnya.


"Dasar anak nakal! Kamu mau buat mama terluka, hah?!"


"Eh, bukan begitu, Mah. Maaf, aku gak sengaja."


Gio yang baru mengerti dengan situasi yang ada, meminta maaf pada ibunya.


"Mah," panggil Gio.


"Ck, kamu ini!" decak Hana, menatap malas Gio.


"Kamu pikir selama ini mama gak tau apa yang kamu lakukan di luar negeri, hah? Mama ini orang yang mengandung kamu selama sembilan bulan, mana mungkin gak tau apa yang dilakukan anaknya," ujar Hana, membuat Gio melebarkan matanya.


"Jadi selama ini, Mama, tau kalau aku–" Gio tidak sanggup melanjutkan perataannya.


"Main perempuan?" tanya Hana.

__ADS_1


Gio mengangguk samar.


"Tentu, mama tau. Selama ini mama hanya mengikuti apa yang kamu inginkan. Mama, tau kalau semua itu hanya bentuk dari rasa sakit kamu, karena kejadian masa lalu." Hana tersenyum sambil mengusap kepala anaknya.


"Mama terlalu takut untuk melarang kamu meninggalkan semua itu. Mama takut, kamu akan memilih hal yang lebih berbahaya dan merusak kalau kalau mama menghentikan kamu," sambung Hana lagi.


"Mah." Gio kembali memanggil Hana, dengan mata yang berubah sendu.


"Setelah semua kenakalan yang kamu lakukan di luar. Apa sekarang kamu sudah merasa puas? Mama gak mau kalau sampai Diandra menjadi salah satu wanita yang akan sakit hati karena kamu, Gio. Dia tidak pantas mendapatkan semua itu. Diandra sudah terlalu sakit dan terluka karena kejadian masa lalunya, mama tidak mau kamu menambahkan luka lagi untuknya."


Hana menatap sendu Gio, yang sedang menatap dengan sekelera mata yang mulai memerah, menandakan ada gejolak emosi yang sama di dalam hatinya.


"Mah, mungkin dulu aku hanya tertarik pada Diandra karena dia adalah satu-satunya perempuan yang berani menolakku, bahkan menendangku di pertemuan pertama. Tapi, seiring berjalannya waktu, aku sadar kalau benih-benih cinta itu telah tumbuh dan semakin besar di dalam hatiku." Gio memegang tangan Hana, berusaha meyakinkan ibunya itu.


"Sejak rasa cinta itu tumbuh, aku sudah berjanji pada diriku sendiri, akan memberikan kebahagiaan untuk Diandra. Aku bahkan akan rela melepaskannya, bila memang kebahgiaan dia bukanlah bersama denganku."


Tanpa terasa, air mata menetes begitu saja membasahi wajah Hana, mendengar pengakuan anak laki-lakinya itu.


Tidak pernah sekalipun dia melihat Gio berkorban sejauh ini, hanya untuk seorang perempuan. Apa lagi sampai berani melepaskan, demi kebahagiaan orang yang dicintainya.


"Perjuangkan cinta kamu untuk Diandra, Gio. Mama, akan mendukung apa pun yang akan kamu lakukan, selama itu tidak menyakiti hati gadis malang itu," ujar Hana, mengelus lembut kepala anaknya.


"Kamu memang anak, Mama," ujar bangga Hana.


Ibu dan anak itu tampak berpelukan sekilas, untuk menyalurkan rasa sayang di antara mereka. Setelah itu Gio pun kembali menyetir mobilnya, untung pulang ke rumah.


Getar ponsel milik Diandra yang dipegang oleh Gio terdengar, membuat kedua orang yang emang fokus pada jalanan pun mengalihkan perhatiannya.


Nama sang asisten tertera, menunjukan penelepon yang berusaha menghubunhinya.


Gio pun menggeserkan ikon berwarna hijau, untuk menjawabnya.


"Ada apa, Ran?" tanya Gio, sambil menempelkan ponsel di salah satu telinganya.


"Kamu ke mana aja sih, Gio. Aku hubungin dari tadi gak bisa!" omel Randi dari seberang sana.


"Aku habis dari rumah mertuaku. Bukannya kamu sendiri yang menyuruhnya?" jawab Gio dengan nada kesal.


Dia memang tidak sempat memberitahu siapa pun tadi pagi, karena ibunya yang terus mendesak ingin segera bertemu Kedua orang tua Diandra.

__ADS_1


"Ya, seenggaknya kamu ngomong dulu kek. Aku bingung nyariin kamu dari tadi pagi."


"Ya, maaf. Ponsel memang sengaja aku matiin, soalnya aku gak mau di ganggu selama di rumah mertua, ini baru aku nyalain lagi. Ada apa kamu nyari aku?"


"Diandra sakit."


"Sakit?! Dari kapan? Kenapa kamu gak ngabarin aku dari tadi, hah?!" Gio berucap panik.


Hana yang mendengar kata sakit dan melihat wajah panik Gio pun ikut penasaran, dia mengalihkan perhatiannya pada anak laki-lakinya.


"Gimana aku mau ngabarin, kalau aku aja gak tau kamu di mana?!" jawab Randi ikut kesal pada Gio.


"Kan bisa telepon ponsel Mamah, Randi! Sekarang Dian di mana?"


"Di rumah, dia gak mau dibawa ke rumah sakit. Kamu sendiri tau kan gimana keras kepalanya istri kamu itu? Gak ada yang bisa membujuk dia buat berobat."


"Sama siapa dia di rumah? Aku ke sana sekarang!" Gio semakin panik mendengar perkataan dari asistennya itu.


"Sama Romi dan istrinya, sejak siang mereka sudah ada di sana."


Gio langsung mematikan sambungan teleponnya, sambil melajukan mobilnya dengan lebih kencang lagi.


"Siapa yang sakit, Gio? Diandra?" tanya Hana, yang sejak tadi mendengarkan perbincangan Gio dan Randi.


"Iya, Mah. Nanti aku drop, Mama, di depan rumah aja ya, biar cepet," jawab Gio.


"Gimana kalau, Mama, ikut aja sama kamu ketemu Diandra? Lagian dia juga udah tau kalau mama itu ibu kamu," ujar Hana.


"Gak bisa, Mah. Nanti dia malah gak enak kalau ketemu, Mama, dalam keadaan sakit. Nanti aja, biar aku ceritain dulu sana Diandra, sebelum kalian bertemu lagi," tolak Gio.


Hana mengangguk, dia memilih membiarkan Gio berusaha untuk mengambil hati Diandra, dan tidak mau mengacaukannya.


Beberapa saat kemudian Gio sudah sampai di depan rumah peristirahatan miliknya, dia pun hanya menurunkan ibunya Dian langsung pergi lagi, tanpa turun dari mobil.


Perasaannya jadi tidak menentu, sejak mendengar kabar tentang istrinya. Ada rasa bersalah karena dirinya tidak ada di saat istrinya sedang membutuhkannya.


......................


Diandra sakit apa ya?

__ADS_1


...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...


__ADS_2