
...Happy Reading ...
......................
"Gio, apa benar sebentar lagi ada acara ulang tahun perusahaan?" tanya Diandra saat keduanya sedang menikmati pagi di balkon, dengan secangkir kopi sebagai pelengkap.
Akhir pekan yang sangat menyenangkan setelah seminggu ini mereka lalui dengan kesibukan tiada akhir.
Setelah Diandra juga ikut bekerja di perusahaan, waktu Gio dan Diandra untuk bersama semakin menipis, mengingat kesibukan mereka masing-masing. Apa lagi jika Gio terpaksa harus meninggalkan Diandra di kantor karena ada rapat di luar kantor. Keduanya hanya bisa bersama setelah ada di rumah.
"Benar, sayang. Memang ada apa, hem?" tanya Gio santai.
Diandra menoleh dengan kerutan dalam di keningnya, seolah sedang protes pada Gio.
"Kenapa kamu baru bilang sekarang? Apa kamu berniat untuk tidak memberitahuku, kalau aku tidak dengar dari karyawan lain, heh?!" tanya Diandra, menatap sewot suaminya sendiri.
"Bukan begitu, sayang. Acaranya kan baru akan dilangsungkan minggu depan, jadi aku berniat untuk membertahumu sebelum acara saja," jawab Gio santai, dia mengambil kopi di atas meja kemudian menyeruputnya sedikit.
"Tapi, seharusnya kamu kasih tau aku dari jauh-jauh hari dong," protes Diandra.
"Itu hanya acara kecil, untuk para karyawan. Sedangkan pesta besarnya akan dilakukan di akhir bulan," jelas Gio.
Sudah tradisi sejak dulu, jika perusahaan sedang merayakan ulang tahun, maka mereka akan melakukan beberapa acara, mulai dari pesta bersama para kolega bisnis dan cabang perusahaan, sampai family gathering, untuk seluruh karyawan yang biasanya selalu dilakukan di luar kota.
"Itu justru sangat penting, pokoknya kita harus ikut dalam family gathering kali ini," ujar Diandra dengan penuh semangat, hingga membuat Gio menoleh cepat melihat istrinya.
"Untuk apa, sayang. Biasanya kami hanya mengirim perwakilan dari petinggi, atau Randi yang datang ke sana," ujar Gio, merasa heran dengan keinginan istrinya.
"Kamu lupa kalau aku sekarang adalah karyawan di kantor kamu, hem?" tanya Diandra menatap wajah suaminya dengan seringai tipis di ujung bibirnya.
"Tapi, mereka juga tahu kalau kamu adalah kerabat aku. Jadi tidak akan masalah jika kamu tidak ikut ke sana." Gio masih merasa keberatan dengan keinginan sang istri.
"Pokoknya kita harus ikut!" Gio meringis mendengar perkataan Diandra yang penuh semangat, dia tidak tega jika harus menolak keinginan istrinya itu.
"Tapi, nanti di sana kita tidak bisa bersama, sayang. Kalau kamu ke sana sebagai karyawan kamu harus bersama dengan mereka, sedangkan aku ... bagaimana?" keluh Gio.
"Kan cuman dua hari, kamu juga bisa ada di sana dengan Randi, walau di tempat yang berbeda pastinya," jawab Diandra santai.
"Tapi, sayang, aku bahkan tidak bisa jauh dari kamu sehari saja, ini terlalu berat kalau harus berpisah dengan kamu dua hari," manja Gio, masih berusaha bernegosiasi.
"Aku punya rencana di acara itu, jadi kali ini kamu harus mengizinkan aku untuk ikut," ujar Diandra tidak mau lagi ditawar.
"Ya, sudah nanti aku suruh Randi untuk mempersiapkannya," angguk Gio pasrah, yang membuat senyum Diandra langsung menggembang sepenuhnya.
"Terima kasih," ujar Diandra, sambil memberikan kecupan kilas di pipi Gio.
__ADS_1
Diandra memang masih sulit untuk mengatakan kata cinta pada suaminya. Akan tetapi, wanita itu sudah mulai berani melakukan kontak fisik dengan suaminya terlebih dahulu.
Tentu itu semua membuat Gio merasakan senang. Menurut Gio cinta tidak perlu diungkapkan, dia juga tahu gengsi istrinya yang selangit itu, hingga dengan perubahan Diandra yang terlihat lebih berani dari sebelumnya saja sudah membuatnya sangat bahagia.
"Oh iya, kamu hari senin jadi ke negara S?" tanya Diandra mengingat jadwal kerja sang suami.
"Iya, sayang, aku harus menghadiri undangan dari kolega bisnis di sana, juga ada beberapa rapat yang harus aku lakukan. Kamu ikut saja, ya, aku akan kesepian kalau gak ada kamu di sisiku," jawab Gio sambil merayu istrinya untuk ikut.
Sebenarnya jadwal itu sudah ada sejak Gio baru masuk ke kantor beberapa waktu lalu. Akan tetapi, Gio terus mengundurnya karena tidak mau jauh dari istrinya yang terus menolak untuk ikut. Hingga akhirnya dia tidak bisa mengelak lagi saat undangan dari kolega bisnis penting datang padanya.
"Aku hanya akan menyusul untuk menghadiri pesta, setelah itu baru kita kembali pulang bersama, agar para karyawan yang lain tidak curiga. Lagipula kamu kan di sana juga untuk bekerja, bukan untuk jalan-jalan," ujar Diandra sudah memutuskan dengan bulat.
"Tapi, sayang–" Gio masih mencoba merayu.
Gio harus berangkat lebih dulu, untuk menghadiri beberapa rapat yang sudah dijadwalkan sebelumnya, setelah itu baru menghadiri pesta bersama Diandra.
"Aku pasti akan baik-baik saja di sini, kamu tenang saja. Nanti aku menyusul saat pesta," ujar Diandra tersenyum lembut.
"Tapi, awas saja kalau sampai nanti kamu berani liat wanita lain di sana, aku pastikan aku akan langsung menyusulmu dan memberikan hukuman untuk kamu!" sambung Diandra lagi, menatap tajam suaminya.
"Iya, sayang," angguk Gio sambil mengusap pipi lembut istrinya.
Berbeda dengan perkataannya, kini saat Gio hendak pergi ke negara S dan meninggalkan dirinya sendiri, Diandra tidak bisa memungkiri kalau hatinya merasa resah dan gelisah.
"Sayang, aku sudah harus pergi sekarang," ujar Gio saat mereka masih berada di bandara, untuk mengantarkan Gio dan Randi.
Diandra mengangguk samar dengan wajah yang terlihat sedikit murung.
"Jaga matanya, awas kalau sampai nanti ketahuan lirik perempuan lain di sana!" Entah untuk ke berapa kalinya Diandra mengatakannya sejak kemarin siang.
Gio hanya terkekeh, melihat Diandra yang bahkan enggan untuk melepaskan tangannya.
"Iya, sayang. Aku gak akan pernah melirik wanita lain di sana, aku janji," ujar Gio.
Untuk pertama kalinya setelah menikah dan menerima satu sama lain Gio dan Diandra kini harus terpisah. Ternyata bukan sesuatu yang mudah untuk Diandra dan Gio melakukan itu.
Keduanya tampak sama-sama merasa berat untuk berpisah, walau dalam beberapa hari ke depan mereka akan bertemu kembali.
"Aku pergi. Kamu jaga diri baik-baik di sini, sayang. Aku tunggu kamu dua hari dari sekarang," ujar Gio kemudian memberikan kecupan kilas di kening istrinya.
Diandra menutup matanya merasakan kehangatan yang seolah menjalar ke seluruh tubuhnya. Meraskan kevupan yang untuk beberapa hari ke depan akan hilang dari hidupnya.
"Kamu juga, jangan terlalu sibuk di sana, jangan lupa makan dan istirahat yang cukup," ujar Diandra, menatap wajah suaminya dengan mata yang sudah berkaca-kaca, walau senyum terlihat mengembang di wajahnya.
"Tentu, sayang. I love you," ujar Gio sebelum melepaskan genggaman tangan mereka.
__ADS_1
"I love you more," balas Diandra lirih.
Gio tersenyum mendengar balasan perkataan cinta dari istrinya, itu adalah sesuatu yang sangat langka di dalam pernikahannya. Perlahan jarak di antara keduanya pun semakin menjauh, Diandra mennggu hingga dia bisa melihat pesawat yang ditumpangi oleh Gio benar-benar lepas landas.
"Ayo, Kak, aku masih ngantuk," ajak Gita yang ikut mengantar.
Ya, ini memang masih dini hari, pesawat yang ditumpangi oleh Gio lepas landas tepat pukul tiga dini hari, hingga malam ini dia bahkan tidak tidur sama sekali. Karena sebelum berangkat ke bandara Gio lebih dulu meminta jatahnya.
"Yuk," angguk Diandra, keduanya berjalan menyusuri area bandara yang terasa sedikit sepi dibandingkan biasanya. Di belakang mereka beberapa orang berbadan kekar yang telah Gio tugaskan untuk menjaga sang istri tampak mengikuti.
Sampai di rumah, Diandra langsung memilih untuk bersitirahat sebelum pagi nanti dia harus bersiap berangkat ke kantor.
.
.
Hari pertama di kantor tanpa keberadaan Gio dan Randi yang selalu berjaga di sekitarnya, terasa sangat berbeda. Semangatnya terasa sedikit memudar saat mengingat kalau Gio sekarang sedang berada jauh darinya.
"Belum satu hari aku ditinggalkan, kok rasanya udah beda, ya?" gumam Diandra lrih sambil merebahkan kepalanya yang terasa pening di atas meja.
"Makan siang yuk," ajak Tia berdiri di samping meja kerja Diandra.
"Aku malas banget nih, kalian duluan aja deh," ujar Diandra, saat ini yang dia inginkan bukan makanan, akan tetapi suasana hening untuk tidur.
Andai aja aku bisa masuk ke dalam ruangan Gio, batin Diandra, rasanya dia ingin merebahkan tubuhnya yang terasa pegal.
Namun, sayangnya Diandra tidak bisa berbuat seenaknya di kantor di saat tidak ada Gio, dia tidak mau membuat masalah untuk suminya nanti.
Baru beberapa menit Diandra terlelap, suara gaduh dari para staf yang lainnya yang mulai berdatangan kembali membangunkannya.
"Dian, kamu tau gak, tadi ada salah satu karyawan kita yang pingsan, sampai mengejutkan semuanya," cerita Tia dengan wajah sumringah, berusaha untuk bergosip dengan Diandra.
"Kenapa?" tanya Diandra yang masih terlihat acuh, sambil meregangkan ototnya yang terasa sedikit kaku karena tidur sambil duduk.
"Katanya sih dia hamil muda," jawab Tia.
"Oh, bagus dong," ujar Diandra masih menanggapi gosip itu dengan santai, baginya orang hamil yang pingsan karena kelelahan sudah biasa.
"Tapi, yang mengejutkan itu, dia belum menikah, Dian," ujar penuh semangat Tia.
"Apa? Belum punya suami?" ujar Diandra menatap kaget wajah Tia.
"Iya, dia adalah anak magang yang baru bekerja beberapa minggu di sini," jawab Tia penuh semangat.
......................
__ADS_1