
...Happy Reading...
...............
Acara temu kangen keluarga kini sudah berlalu, waktu pun sudah berganti malam. Suasana di kampung ternyata hampir mirip dengan di vila, malam di sini terasa sangat dingin dan sedikit lebih sepi dibandingkan siang.
Gio tampak berdiri di balkon kamar Diandra, dia tidak bisa tidur, saat pikirannya terus teringat pembicaraan para warga di warung tadi siang.
Tangannya mengepal kuat, menahan rasa panas di dalam hati yang terbakar api amarah.
"Berarti foto-foto dulu itu benar? Lihat sekarang dia pulang dengan membawa anak haramnya."
"Apa itu adalah laki-laki yang menjadi selingkuhannya waktu?"
"Akh, aku sudah lupa bagaimana wajah laki-laki yang ada di foto itu."
"Iya, aku juga lupa."
"Aku kurang berita itu gak bener, ternyata sekarang kita bisa melihat hasilnya, ck!"
"Iya, gak nyangka Diandra bisa melakukan semua itu, bahkan sampai hamil dan menghasilkan anak haram."
Gio mengepalkan tangannya saat doa mendengar perbincangan dari para warga. Ternyata tebakannya salah, para warga di sini memang memiliki mulut yang tajam. Bahkan ingatan mereka masih sangat jernih setelah kejadian itu berlalu selama tiga tahun.
Atau mungkin kedatangannya lah yang membangkitkan ingatan mereka semua, hingga kini para warga itu kembali mengingat peristiwa tiga tahun lalu.
Gio jadi ragu untuk meminta Diandra agar memaafkan mereka, jika sikap mereka masih sama saja pada istrinya.
Dia tidak terima, sungguh. Rasanya sangat tidak rela, saat wanita yang paling dia sayangi menjadi bahan gunjingan warga yang sok tahu dan tidak jelas. Ingin rasanya dia langsing menyuruh para anak buahnya, agar memberi mereka pelajaran.
Akan tetapi, dia tidak bisa berbuat gegabah. Dia ingin tahu reaksi para warga jika bertemu langsung dengan Diandra, apakah akan sama atau malah memasang topeng, hingga menjadi manusia bermuka dua.
Tubuhnya terperanjat saat merasakan ada tangan yang melingkar ke depan perutnya. Gio kemudian mengembangkan senyum, saat tahu tangan siapa itu.
Dia mengelus punggung tangan itu, lalu berbalik pelan. "Kenapa, hem? Terbangun?" tanya Gio, sambil memeluk tubuh indah istrinya.
"Heem. Kamu, belum tidur?" ujar Diandra, masih memeluk Gio. Suaranya parau, khas seseorang yang baru saja bangun tidur.
Gio tersenyum, dia membelai lembut rambut Diandra, tanpa mau menjawab pertanyaan istrinya.
"Ayo, kita masuk lagi, di sini dingin," ujar Gio, sambil menuntun Diandra untuk berjalan menuju kamar.
Diandra tidak menolak, dia sebenarnya sangat mengantuk. Akan tetapi, hatinya terasa kosong saat tidak mendapati keberadaan suaminya di sampingnya.
__ADS_1
Gio merebahkan Diandra di atas ranjang, kemudian disusul olehnya. Keduanya pun tertidur tanpa ada kegiatan apa pun. Baik Gio maupun Diandra sama-sama merasa lelah, setelah seharian ini mereka lalu dengan penuh drama. Diandra bahkan sudah lupa berapa banyak dirinya mengeluarkan air mata, saking banyaknya.
.
.
Pagi hari yang spesial untuk Diandra dan Ana. Ini adalah pagi pertama mereka berada di kampung kelahirannya kembali, setelah tiga tahun lebih tidak pernah pulang.
Keduanya sudah bangun sejak pagi buta, Diandra meninggalkan Gio yang masih tertidur pulas di atas ranjang, hanya untuk menemani Bunda dan Ana yang sedang menyiapkan sarapan.
Ayah dan Ares pun sudah bangun sejak pagi, mereka memang sejak dulu terbiasa bangun di saat fajar, menikmati udara segar di pagi hari sambil mengobrol di teras, samping dapur.
Itu juga yang masih diingat oleh Diandra dan Ana, suasana pagi penuh kehangatan itu sangat mereka rindukan.
"Pagi, Bunda, Ana," sapa Diandra yang ternyata bangun paling siang.
"Pagi, Nak. Ini tolong bawak ke teras," jawab Lisna, sambil memberikan piring berisi goreng pisang dan ubi kukus.
"Pagi, Dian." Ana ikut menjawab dari depan kompor, dia sedang membalikkan goreng pisang.
Diandra tersenyum kemudian mengambil piring di tangan Bunda dan membawanya ke teras.
"Pagi, Ayah, Ares," sapa Diandra, begitu sampai di teras, tempat ayah dan Ares tengah menikmati pagi.
"Pagi," jawab Ayah.
"Aku ke dalam lagi aja," ujar Dian, sambil beranjak lagi, untuk menemui Bunda dan Ana.
"Andra belum bangun, An?" tanya Diandra.
"Sepertinya belum. Semalam Andra kan tidur bareng Ares," jawab Ana. Keduanya memilih duduk di meja makan.
"Biarkan saja lah, ini kan masih pagi banget," ujar Bunda menimpali.
Kedua wanita kembar itu mengangguk setuju.
"Gio juga belum bangun," ujar Diandra dengan hembusan napas pelan.
"Biarkan saja, dia mungkin lelah, kan kemarin dia nyetir sampai ke sini," jawab Bunda.
"Iya, nyetir dari bawah doang," cebik Diandra, yang langsung mendapat kekehan dari Ana. Sedangkan Bunda hanya menggeleng lemah.
"Tapi, tadi malam sepertinya di tidur larut, gak tau ngerjain apa," sambung Diandra lagi.
__ADS_1
"Nah itu kami tau sendiri." Bunda menjawab.
"Dasar! Masa di rumah mertua malah bangun paling siang," decak Diandra.
"Gak apa, lagian Bunda dan Ayah juga bukan mertua kejam, hahaha!" jawab Bunda santai.
Diandra memutar bola mata sambil menyandarkan punggung di kursi. Dalam hati, dia sangat senang melihat keceriaan seluruh keluarganya telah kembali.
Beberapa saat kemudian Gio dan Andra yang datang bersamaan pun bergabung, mereka akhirnya menikmati pagi bersama dengan canda tawa, atau sekedar mengobrol saja.
"Suasana pagi di sini mirip seperti di vila, ya? Pantas saja kami betah di sana," ujar Gio saat mereka berdua hanya tinggal berdua di teras rumah.
Sedangkan yang lainnya sudah sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Ana yang mengurus Andra, Bunda yang menyiapkan makanan ringan untuk para pekerja, dan Ayah sudah bersiap untuk pergi ke kebun.
"Heem, hanya saja di sini lebih terasa ramai," jawab Diandra.
Gio mengedarkan pandangannya, di bagian belakang rumah adalah jalan raya, jadi dia bisa mendengar banyaknya anak-anak yang hendak berangkat sekolah, menggunakan motor.
Ya, jangan heran jika hampir semua anak sekolah di kampung ini sudah bisa memakai kendaraan beroda dua itu. Mengingat jarak sekolah cukup jauh dari sana.
Tidak heran, mereka akan mulai diajarkan mengendarai sepeda motor, sebelum masuk ke jenjang sekolah menengah pertama. Agar orang tuanya tidak usah repot mengantar dan menjemput anaknya sekolah.
"Sampai kapan kamu bisa berada di sini?" tanya Diandra, sambil melihat wajah Gio yang sedang duduk di sampingnya.
Gio mengerutkan keningnya, perasaannya sudah tidak enak, takut Diandra akan membuangnya dan mengusirnya dari sini setelah wanita itu berkumpul dengan keluarganya lagi.
"Maksud kamu, sayang?" tanya Gio.
"Kita gak mungkin terus tinggal di sini, kan? Pekerjaan aku ada di pantai, terus kamu juga udah janji mau Ke Jakarta," jelas Diandra.
"Oh, itu," ujar Gio bernapas lega, saat menyadari kalau kekhawatirannya terlalu berlebihan.
Diandra mengangguk.
"Aku sih terserah kamu saja. Tapi, kalau kamu mau, bagaimana jika kita langsung ke Jakarta setelah dari sini?" saran Gio.
"Tapi, aku sudah lama tidak melihat hotel." Diandra sedikit keberatan.
Gio menghembuskan napas pelan. "Ya sudah, kita ke pantai dulu, kemudian kita ke Jakarta. Bagaimana?" tanya Gio.
Diandra tersenyum kemudian mengangguk. Gio terkekeh sambil mengacak rambutnya istrinya gemas. Semenjak Diandra bisa bertemu dengan Ana, sikapnya lebih terlihat ceria, dan mudah tersenyum.
................
__ADS_1