
...Happy Reading...
........................
"Kak, sebenarnya ini ada apa?" tanya Gita sambil menatap wajah Gio dan Diandra bergantian.
Gio yang masih sibuk pada istrinya pun langsung mengalihkan pandangannya pada Hana dan Gita, dia seakan lupa kalau saat ini ada orang lain di depannya.
Berbeda dengan Gita, Hana malah tersenyum tipis melihat interaksi yang dilakukan oleh sepasang suami istri itu. Dirinya merasa senang, saat melihat kemesraan Gio dan Diandra, walau terlihat jelas kalau menantunya itu masih sangat kaku dan sedikit menolak sentuhan dari Gio.
"Begini, Gita ... sebenarnya aku sudah mengenal Diandra sejak baru beberapa hari datang ke sini," ujar Gio, sambil menatap bingung ke arah istrinya.
"Jadi kalian sudah saling mengenal lumayan lama? Tapi, kok di hotel kalian seperti tidak saling mengenal?" tanya Gita, sambil menatap wajah Gio dan Diandra bergantian.
Ujung mata Gita tidak sengaja melihat kalau kedua tangan Gio dan Diandra tampak bertaut di pangkuan Diandra.
Pasti mereka bukan hanya saling mengenal biasa! batin Gita menebak.
Gio dan Diandra tampak mengatupkan bibirnya sambil saing melirik, bingung mau menjawab apa. Mengingat sebelumnya, mereka belum membicarakan masalah ini sebelumnya.
"Eum ... Mama sama Gita, ngapain datang ke sini?" tanya Gio, mengalihkan pembicaraan.
Senyum di wajah Hana terlihat semakin lebar, saat Gio sudah tidak bisa menjawab pertanyaan dari Gita.
Sedangkan Gita, malah berdecak kesal. Dia begitu penasaran dengan hubungan kakak dan perempuan yang beberapa hari lalu menolongnya.
"Kita ke sini, mau jenguk Diandra. Tadi kami ke hotel, mereka bilang Diandra sedang sakit," jawan Hana santai.
"Sudahlah, Kakak, jangan mengalihkan pembicaraan deh," decak Gita, menatap kesal wajah Gio.
"Mereka sudah menikah, Gita." Hana yang merasa tidak sabar dengan Gio dan Diandra akhirnya mengungkapkan semuanya.
"Hah?! Aku gak salah denger kan?" Gita refleks yang berteriak, terkejut dengan apa yang dikatakan oleh ibunya.
Hana menatap Gita lalu mengangguk yakin, seolah menunjukan kalau perkataannya benar adanya.
Gadis berumur dua puluh lima tahun itu, tampak melebarkan matanya, dia menatap tajam wajah Gio dan Diandra.
Diandra yang mendengar perkataan Hana pun ikut melebarkan matanya, menatap terkejut wanita paruh baya di depannya.
Apa-apaan ini? Sejak kapan Tante Hana tau hubungan aku dan Gio? batin Diandra penuh tanya.
Begitupun dengan Gio yang tidak pernah menyangka, kalau ibunya akan mengatakan semuanya saat ini juga.
"Mamah?" Gio langsung memanggil wanita yang telah melahirkannya itu.
Sedangkan Hana yang menjadi pusat perhatian, kini hanya tersenyum seakan tidak berbuat apa-apa.
__ADS_1
"Sudahlah, Gio ... Mamah dan Gita kan juga keluarga kamu, masa kami gak boleh tau pernikahan kamu dan Dian?" ujar Hana, menatap pergantian pasangan suami istri di depannya.
"J–jadi, kalian beneran udah nikah?" tanya Gita, masih dengan rasa terkejutnya.
Gio dan Diandra pun akhirnya mengangguk samar sebagai jawaban dari pertanyaan gadis itu.
"Kakak!" Gita berteriak sambil mengangkat tas miliknya sebagai alat untuk memukul Gio.
"Kakak, tega banget sih, nikah gak ngabarin kita!" oceh Gita sambil terus memukuli tubuh Gio, hingga tanpa sadar Gio semakin mendekat pada Diandra.
"Bukan begitu, Gita, dengerin dulu penjelasan Kakak." Gio mencoba menahan pukulan adiknya, yang terjadi berulang-ulang.
"Penjelasan apa, hah?! Kakak bener-bener udah tega, gak menganggap kami sebagai keluarga lagi!" Gita terus mengayunkan tas miliknya pada tubuh Gio.
Ujung mata Gio dapat melihat ringisan kecik dari wajah Diandra, dia langsung menangkap tas di tangan adiknya, agar istrinya tidak terpojokan lagi.
"Sudah, Gita. Aku bisa jelaskan semuanya, kamu jangan salah paham dulu," ujar Gio lagi, sambil menatap lembut adiknya.
"Kamu gak kenapa-napa?" tanya Gio, beralih melirik istrinya.
"Aku gak apa-apa," jawab Diandra.
"Gita, duduk lagi, kita gak boleh membuat keributan di rumah orang," perintah Hana, menepuk kursi di debelahnya.
Gita yang merasa masih belum puas, awalnya menolak perintah dari wanita yang melahirkannya itu.
Namun, setelah Hana melebarkan matanya, Gita pun menghela napas kasar lalu berjalan kembali ke dekat Hana.
"Sebentar, Mah. Aku bawa Dian ke kamar dulu, dia sedang tidak sehat dan harus banyak istirahat," ujar Gio, meminta keringanan pada ibu dan adiknya.
"Aku gak apa-apa," tolak Diandra, masih ingin mendengarkan penjelasan seperti apa yang akan suaminya berikan pada mertua dan adik iparnya.
Gio menatap wajah pucat istrinya, dia juga bisa melihat jelas butir keringat di kening Diandra. Akan tetapi, Gio juga tidak bisa memaksa Diandra untuk kembali ke kamarnya.
Akhirnya Gio menegakkan kembali tubuhnya, dia menatap ibu dan adiknya bergantian, kemudian beralih pada Diandra. Laki-laki itu berusaha untuk mencari tahu apa sebenarnya yang diinginkan oleh istrinya itu.
Namun, sorot mata Diandra saat ini benar-benar tidak bisa dia baca, entah apa yang dipikirkan oleh perempuan itu, dia pun tidak tahu.
Sebenarnya apa yang harus aku lakukan sekarang, Dian? Apa sebenarnya yang kamu inginkan? batin Gio.
"Gita, sebenarnya, Mamah, sudah tau semuanya. Aku sudah menceritakan tentang pernikahan kami kemarin malam," ujar Gio, setelah lama terdiam.
"Mah, bisa tolong jelaskan kepada Gita, nanti?" tanya Gio pada Hana.
Gita menatap wajah Hana, Gio, dan Diandra bergantian, ada sorot mata kecewa yang terlihat jelas. Bahkan kini butir bening itu mulai berjatuhan membasahi pipinya.
Diandra yang melihat jelas kekecewaan adik iparnya, merasa bersalah di dalam hati, dia ingin sekali memeluk dan meminta maaf atau semua yang terjadi.
__ADS_1
Namun, dirinya juga takut untuk berhubungan lebih dekat lagi dengan keluarga Gio. Diandra takut, nanti terlena oleh kasih sayang mereka, hingga akhirnya tidak bisa melepaskan Gio dari sisinya.
"Jadi, Mama, sudah tau semuanya? Kenapa, Mama, gak cerita sama aku?" tanya Gita, menatap Hana.
Tangan Diandra mengepal, menahan gejolak rasa sesak di dalam dada, melihat kekecewaan yang begitu dalam di mata Gita.
"Iya, Mamah, memang sudah tau semua cerita dari Gio. Tapi, Mamah merasa semua itu belum cukup, karena Mamah belum mendengar cerita versi Diandra. Karena itulah Mamah ke sini hari ini," ujar Hana, menatap wajah pucat menantu perempuannya.
"Maaf, ini memang bukan waktu yang tepat. Tapi, Mamah, tidak punya waktu lagi, karena besok kita harus segera pulang ke Jakarta," sambung Hana.
Gio cukup terkejut mendengar perkataan ibunya, dia tidak menerima berita apa pun dari keluarganya di Jakarta. Akan tetapi, sekarang kenapa ibunya ingin pulang secepat ini.
"Ada apa, Mah?" tanya Gio.
"Daffa sakit, sepertinya dia makan sesuatu yang memicu alerginya kambuh," jawab Hana.
Daffa adalah keponakan Gio yang berusia lima tahun, anak dari kakak Gio yang pertama.
"Dari kapan, Mah? Kok gak ada yang ngabarin aku?" tanya Gio dengan wajah terkejutnya.
"Kemarin, sepulang dia dari sekolah. Makanya sekarang, Mamah datang ke sini ... tadinya mau berbicara dari hati ke hati dengan Diandra," jelas Hana.
"Mamah kira kamu sudah pergi ke hotel, ternyata malah masih ada di sini," sambung Hana mencebik kesal.
"Mana aku bisa pergi ke hotel, kalau istriku sedang sakit gini, Mah," jawab Gio.
Diandra sedikit menegakkan tubuhnya, mendengar perkataan wanita paruh baya di depannya, dia menatap ibu dan adik dari suaminya itu bergantian.
"Jadi, Tante Hana, ingin berbicara dengan aku?" tanya Diandra.
Hana mengangguk, " Iya, Mamah, ingin tau apa yang sebenarnya kamu rasakan setelah menikah dengan Gio."
Diandra menarik napas dalam, lalu membuangnya perlahan. Perempuan itu pun mengalihkan pandangannya pada sang suami.
"Bisa tinggalkan kami?" tanya Diandra.
Gio tampak ragu, dia menatap khawatir pada istrinya, kemudian beralih pada ibu dan adiknya.
"Baiklah," ujar Gio akhirnya memilih menuruti kemauan semua perempuan itu, walau hatinya masih ragu, untuk membiarkan mereka berbicara tanpa dirinya saat ini.
"Kalau butuh sesuatu panggil aku, aku tunggu kamu di ruang keluarga," ujar Gio pada istrinya, yang langsung diangguki oleh Diandra.
"Mah, Gita, aku ke belakang dulu," pamit Gio, kembali diangguki oleh dua orang perempuan itu.
Gio pun akhirnya beranjak dan berjalan menuju ruang keluarga, yang hanya terhalang oleh sebuah pembatas ruangan yang terbuat dari kayu.
..........................
__ADS_1
Gimana ya sikap Diandra dalam menghadapi Hana dan Gita?
Jangan lupa Like dan komennya ya🙏🥰