
...Happy Reading...
...💖...
Gio kembali ke hotel miliknya, hanya untuk mengambil mobil dan langsung melajukannya entah ke mana.
Hatinya yang masih terasa panas, tak bisa ia tahan. Ingin rasanya ia menerobos masuk dan membawa istrinya itu pergi dari hadapan Romi.
Namun, dia juga sadar diri, kalau saat ini dirinya bahkan belum menjadi seorang suami sesungguhnya untuk Diandra.
Bila Gio nekat untuk melakukan semua itu, bukan tidak mungkin kebencian yang sudah ada di dalam hati istrinya itu, akan bertambah semakin besar.
"Akh, sial!" umpat Gio, memukul stir mobil dengan sekuat tenaga, menyalurkan emosi yang sejak tadi dia pendam.
"Apa ini adalah hukuman, karena selama ini aku mempermainkan perasaan perempuan? Kenapa di saat aku berniat untuk berubah, orang yang aku harapkan bisa menjadi pelabuhan cintaku, malah menulakku? Aaakh!" Napas memburu mengiringi setiap perkataan pelan penuh emosi itu.
Mata merah dengan urat di kening yang terlihat menonjol juga tangan yang mengepal kuat, menunjukkan betapa sulitnya dia mengatur emosi yang sekarang hampir saja menguasai tubuhnya.
......................
Di tempat lain, Randi hendak menyusul Gio ke hotel milik Diandra, dia baru saja masuk ke dalam lobi hotel, saat melihat Diandra dan Romi berjalan menuju ke luar.
"Eh, kalian mau ke mana? Gio mana?" tanya Randi, sambil menolehkan kepalanya ke belakang tubuh dua orang di depannya itu.
Diandra dan Romi saling pandang dengan tatapan bingung, keduanya kemudian melihat pada wajah Randi dan mengangkat bahu bersamaan.
"Kami tidak melihat Gio," jawab Romi kemudian.
"Hah? Bukannya tadi dia bilang mau ke sini. Lalu sekarang dia ke mana?" ujar Randi dengan kening yang berkerut.
Romi dan Diandara tampak terdiam, kemudian Romi beribisiatif untuk bertanya pada resepsionis tentang kedatangan Gio.
"Pak Gio, tadi memang datang ke sini, beliau juga sempat masuk ke dalam. Tapi, tidak lama dia langsung pergi lagi."
Jawaban dari salah atu resepsionis yang melihat kedatangan Gio pun membuat mata Diandra tiba-tiba saja bergetar.
Ada rasa resah yang tiba-tiba saja menyelimuti hatinya. Tanpa disadari dia merasakan takut jika saja suaminya itu akan salah faham, dengan apa yang dilakukannya bersama Romi beberapa saat lalu.
Namun, bukan Dian namanya bila dia tidak bisa menyembunyikan semua itu, dengan wajah dingin dan sikapnya yang angkuh.
Romi pun merasakan hal yang sama, dia takut kalau suami dari saudaranya itu melihat dia dan Diandra di dalam ruangannya, hingga berakhir salah paham.
__ADS_1
"Mungkin dia ada urusan lain?" ujar Diandra, dengan sikapnya yang terlihat acuh.
Romi dan Randi menatap Diandra, walau ditanggapi dingin oleh perempuan itu.
"Sudahlah, tidak usah diambil pusing. Lagipula dia juga bukan anak kecil lagi, untuk apa dikhawatirkan," imbuhnya lagi, sambil berjalan meninggalkan kedua orang laki-laki itu.
"Eh, kamu mau kemana, Dian?" tanya Romi, saat melihat Diandra berjalan menjauh.
"Aku lapar, mau makan," jawab perempuan itu acuh, dengan tatapan lurus ke depan dan langkah yang tak berhenti walaupun sekilas.
"Eh, kita ikut dong." Randi berjalan cepat, mengikuti langkah Diandra yang hampir saja sampai di pintu keluar lobi, diikuti oleh Romi.
"Makan apa nih kita hari ini?" tanya Romi, begitu mereka duduk di mobil milik Diandra.
Wanita itu melihat kedua lelaki yang kini berada didalam alam mobilnya bergantian.
"Kenapa kalian ada di sini?" tanyanya dengan tatapan tajam.
"Bukannya kita mau makan, ayo kita berangkat sekarang," ujar Romi.
Diandra masih menatap kedua laki-laki itu dengan alis yang terangkat satu.
"Apa kalian tidak mempunyai mobil lain?" tanyanya tajam.
Diandra menatap kesal Romi dan Randi, dia kemudian mulai melajukan mobilnya menuju tempat makan.
Beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai di sebuah kedai bakso yang berdampingan dengan restoran.
"Kok kita ke sini?" tanya Randi, sambil melihat ke luar mobil.
"Aku mau makan bakso, kalian kalau mau makan, bisa di restoran itu," tunjuk Diandra pada sebuah restoran tidak jauh dari sana.
"Oh iya. Aku belum tau daerah ini," ujar Randi, sambil tersenyum.
Mereka bertiga pun akhirnya turun dari mobil milik Diandra bersama-sama. Walau akhirnya mereka berpisah, karena Romi dan Randi memilih makan di restoran sebelah.
Saat hendak melangkah menuju kedai bakso, ujung mata Diandra seperti melihat seseorang yang ia kenal.
Dia pun menghentikan langkahnya, untuk menoleh sebentar pada seseorang itu, demi meyakinkan dirinya sendiri.
Sebelah ujung bibirnya tertarik tipis, hingga membentuk garis lurus, dengan liriknya mata sinis, kemudian melangkah masuk tanpa mau lagi melihat ke arah itu.
__ADS_1
Manis di mulut hanya untuk menguarkan wangi dan menutupi busuknya hati!
Dian bergumam di dalam hati, dengan tangan mengepal kuat. Ada rasa tidak nyaman yang tiba-tiba sahaja merasuk ke dalam hatinya, saat melihat orang itu.
Di tempat berbeda, Romi dan Randi baru saja masuk ke dalam restoran, mereka berdua terkejut melihat Gio berada di sana, dengan seorang perempuan di depannya.
Kedua laki-laki itu saling memandang, lalu kemudian menghampiri Gio bersamaan.
"Gio? Ngapain kamu ada di sini sama wanita ini?" tanya Romi, masih mencoba ramah, walau hatinya sudah tak tenang, saat prasangka buruk mulai menjalari pikirannya.
Gio yang sedang makan mendongakkan kepalanya melihat dua orang laki-laki yang berdiri di depannya.
Bibirnya tersenyum sinis saat matanya melihat wajah Romi yang sedang menatapnya tajam.
"Makan. Ini kan tempat makan," jawab Gio acuh.
"Makan dengan wanita lain maksudmu?" tanya Romi, mulai terpancing emosi.
"Apa kamu sudah lupa, kalau sekarang kamu sudah memiliki istri, hah? Untuk apa lagi kamu berdua dengan wanita lain di sini?" sambung Romi lagi.
Wanita yang duduk di samping Gio, kini menatap Romi dengan mata melebar, sedikit tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Romi.
Gio menaruh sendoknya kembali di atas piring, lalu sedikit memundurkan tubuhnya, dengan senyum miris. Dia mengingat kembali, saat dirinya melihat Romi dan Diandra berpelukan di dalam ruang kerja.
"Istriku tidak mau aku ajak makan, lalu apa salah kalau aku memilih untuk makan bersama orang lain. Aku tidak terbiasa untuk makan sendiri," ujarnya santai.
"Kapan kamu mengajak Diandra untuk makan siang bersamamu? Kamu bahkan tak menemuinya."
Suasana di sekitar keempat orang itu mulai berbeda, Romi dan Gio tampak sedang beradu argumen, walau dengan nada yang pelan.
"Sudah-sudah, lebih baik kita duduk saja. Kita bicarakan baik-baik," lerai Randi.
"Kamu sebaiknya pergi saja, kami harus mendiskusikan sesuatu," ujar Randi pada wanita yang sejak tadi hanya terdiam.
"Ta–tapi." Wanita itu melihat Gio yang tampak mengangguk samar, membuat dia akhirnya berdiri dan keluar dari restoran itu.
Kini ketiga laki-laki itu duduk bersama di dalam satu meja, dengan suasana tegang dan canggung, mengingat permasalahan yang belum selesai di antara Romi dan Gio.
...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...
...Bersambung...
__ADS_1
...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...
...Bersambung...