
...Happy Reading...
...❤️...
Flashback
Giu terbangun saat, dia meraba ranjang bagian sampingnya yang terasa kosong.
Matanya melebar dengan kesadaran yang masih berusaha ia kumpulkan.
"Ke mana dia pagi-pagi begini?" gumamnya, saat menyadari Diandra tidak ada lagi di sampingnya.
Beranjak duduk bersandar di kepala ranjang, berusaha mengumpulkan kesadarnnya.
Setelah merasa kesadarannya sudah kembali sepenuhnya, Gio berdiri dan melangkah menuju kamar mandi.
Tidak lama kemudian, dia sudah kembali dan melangkah keluar, demi mencari keberadaan istrinya itu.
"Nak Gio sudah bangun? Mau Bunda buatkan kopi?" tanya Lisna, saat melihat Gio sedang mencari keberadaan Diandra.
"Gak usah, Bun. Oh iya, Diandra ke mana ya?" tanya Gio.
"Tadi katanya mau ke pantai sebentar, tunggu saja dulu, mungkin sebentar lagi dia pulang," jawab Lisna.
"Teteh memang selalu pergi ke pantai setiap pagi, biasanya dia baru pulang setelah matahari sudah cukup tinggi." Ares yang bau saja keluar dari kamar, ikut bersuara.
Gio menoleh pada adik iparnya itu.
"Pantai mana?" tanyanya kemudian.
"Biasanya sih, teteh, lihat matahari terbit, coba aja ke sana," ujar Ares.
"Terima kasih, Res. Kalau gitu aku pamit menyusul Diandra dulu, Bun," pamit Gio.
Bunda dan Ares hanya mengangguk.
Gio pun berlalu menuju pantai untuk mencari keberadaan istrinya, entah mengapa ada perasaan khawatir yang tiba-tiba saja merayap ke dalam dada.
Langkahnya mulia semakin cepat dengan hati yang tiba-tiba saja merasa gusar, dia mencoba mencari di mana biasanya para pengunjung menikmati matahari terbit.
Namun, dia sama sekali tak menemukan adanya sang istri di sana.
"Di mana kamu, Dian?" gumam Gio, sambil terus mengedarkan pandangannya pada setiap sudut pantai.
Langkahnya membawanya menyusuri garis bibir pantai, dengan langkah tak tentu arah dia mencari keberadaan Diandra.
Hingga ujung matanya melihat Diandra yang sedang berbicara dengan seorang lelaki, yang tidak jelas terlihat wajahnya.
Posisi Diandra dan lelaki itu yang sedikit menyamping dan jarak yang masih lumayan jauh, menghalangi pandangan mata Gio.
__ADS_1
"Dian!" panggilnya dengan tangan yang melambai.
Flashback off
Suara lelaki berbeda yang terdengar cukup jelas, walau terhalang oleh deburan ombak, mengalihkan perhatian Diandra.
Dia menoleh melihat seorang lelaki yang kini tampak berdiri di pantai, lumayan jauh dari tempatnya berdiri.
"Gio," gumamnya lirih.
DIa pun kembali mengalihkan pandangannya pada Jonas. Akan tetapi, ternyata lelaki itu sudah tak terlihat lagi di sekitarnya.
"Ke mana dia?" tanya Diandra, mengedarkan pandangannya pada seluruh kawasan pntai.
Namun, dia sama sekali tak melihat keberadaan Jonas di sana.
"Kamu kenapa gak bangunin aku dulu, kalau mau ke pantai?" tanya Gio, begitu sampai di depan istrinya.
Diandra kembali menegakkan tubuhnya, dia menatap wajah Gio yang tampak lelah, lengkap dengan bulir keringat di keningnya.
"Untuk apa? Aku sudah terbiasa pergi ke pantai sendiri," ujar Diandra, sambil bersidekap dada.
Dia menatap jauh, lautan luas di depannya. Terlihat begitu indah dengan bias cahaya matahari yang terpantul id atas air.
Menyajikan perpaduan warna yang begitu indah, meski semua itu hanya bisa ia nikmati hanya sekejap. Meski esok hari akan ada pagi selanjutanya, akan tetapi, itu tak menjamin keindahan itu akan sama seperti pagi ini.
Semua itu hadir dan tercipta secara alami dan cara kita dalam menikmati keindahan ciptaan tuhan. Tak bisa dipungkiri, bahwa setiap orang yang menikmati waktu pagi di tempat yang sama, akan merasakan keindahan dengan makna yang sama.
Kagum, kebahagiaan bahkan mungkin ada yang sedang menikmati kesedihannya. Tak ada yang kita tahu, ada apa sebenarnya di setiap bibir yang tampak tersenyum dan mata yang tampak melebar menikmati keindahan pagi itu.
Semuanya terlihat samar dan terasa sama, walau mungkin sebenarnya berbeda.
Diandra tersenyum samar, dia selalu merasakan ketenangan dengan pelukan hangat sinar matahari pagi. Dia bisa melupakan sejenak setiap masalah yang masih membelit tubuhnya, hingga terkadang terasa sesak.
Terhalang oleh rasa takjub dengan pemandangan pagi. Semua itu terasa memberikan kehangatan yang tak pernah ia dapatkan dari insan yang bernama manusia.
Walau ia sadar semua itu hanya sebuah angan dan anggapan yang tercipta oleh ilusi dan pikirannya saja. Ya, rasa itu hanyalah fatamorgana yang tidak akan pernah nyata.
Sebuah hayalan dari seseorang yang merindukan sebuah kehangatan yang sudah lama menghilang, hingga membuat dirinya beku.
Gio menatap Dian yang kini tengah tersenyum samar, sangat tipis hingga tak terlihat jelas. Akan tetapi, dia melihat sesuatu yang berbeda dari sebelumnya.
Senyum itu tampak tulus, dengan pancaran wajah yang tenang, sama seperti saat perempuan itu tertidur di setiap malamnya.
"Cantik," gumamnya tanpa sadar.
Diandra menolehkan wajahnya, menatap Gio dengan salah satu alis terangkat.
Gio yang seperti sedang terpergok mencuri, menggaruk belakang kepalanya, dengan mata beralih pada laut luas di depannya.
__ADS_1
"Pemandangannya, sangat cantik," ujarnya, memberi alasan.
Dian mengikuti arah pandanganan Gio, dia mengangguk pelan. Perlahan tangannya pun terlepas dan kini menjuntai di samping tubuhnya.
Tubuhnya pun tak tegang lagi, perlahan rasa itu mengurai dan berubah menjadi sebuah ketenangan.
"Kamu suka matahari terbit?" tanya Gio, menoleh lagi, melihat wajah istrinya.
Diandra kembali mengangguk, dia tak melepaskan matanya dari pemandangan indah di depannya.
Gio mengangguk-anggukkan kepalanya, satu lagi kebiasaan Diandra dapat ia ketahui.
"Kenapa?" tanya Gio, berusaha mencari tau lebih banyak lagi dari kebiasaan istrinya.
Diandra melihat sekilas wajah Gio, lalu kembali menatap jauh ke depan.
"Karena dia begitu hangat dan penuh dengan harapan," jawab Diandra.
Gio mengernyit, merasa belum mengerti dengan jawaban dari perempuan di sampingnya.
"Ya, ini memang terasa hangat," ujar Gio membenarkan perkataan Diandra.
"Seperti sebuah pelukan dan menjanjikan seribu harapan," sambung Diandra yang langsung membuat Gio menatapnya.
Diandra tersenyum kilas lalu memilih berbalik dan berjalan menuju arah pulang.
Gio mengikuti Diandra di belakangnya.
"Apa maksudmu? Aku belum mengerti," tanya Gio, sambil mengimbangi langkah istrinya.
Diandra tak menjawab lagi, dia hanya mengangkat kedua bahunya tanpa berniat untuk membuka suara.
Gio pun tak mengambil pusing, dia sudah cukup tahu sikap Diandra yang tak terlalu suka berbicara hal pribadi.
Dengan senyum jahilnya dia merangkul pundak Diandra, hingga membuat istrinya itu berdecak kesal.
"Awas, ngapain sih?" kesal Diandra, sambil berusaha melepaskan tangan Gio di pundaknya.
"Kenapa? Kita kan sudah menjadi suami istri sekarang, jadi wajar dong kalau kita berjalan seperti ini," acuh Gio, menahan tangannya agar tetap berada di pundak istrinya.
"Ck, aku tidak suka. Mau kamu lepaskan sendiri atau ...." Diandra sengaja menjeda perkataannya.
"Ish, kamu ini. Kenapa harus pakai kekerasan terus sih?" desah Gio, sambil melepaskan tangannya dari pundak Diandra.
Mereka pun berjalan pulang bersama, tanpa ada kontak fisik.
Dari kejauhan, tampak seorang lelaki memperhatikan keduanya dengan tatapan penuh kebencian dan tangan yang mengepal kuat.
"Aku tidak kan pernah membiarkan aku bahagia bersama lelaki lain. JIka kamu tidak bisa menjadi miliku, maka jangan harap ada laki-laki lain yang akan mendapatkanmu, Diandra!"
__ADS_1
...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...
...Bersambung...