
...Happy Reading...
...................
Diandra yang merasa ditatap sejak tadi oleh Gio, menoleh ke samping, di saat itu mata keduanya tampak bertemu.
"Ada apa?" tanya Diandra.
Gio teersenyum lalu menggelang. "Kamu cantik," bisik Gio.
Diandra tersenyum tipis, dia sudah terbiasa dengan gombalan Gio, walaupun tetap saja dirinya tidak bisamenahan semburat merah di wajahnya.
"Memang aku cantik," ujar Diandra smabil mengangkat dagunya dan kembali melihat lurus ke dapan.
Gio terkekeh, dia melingkarkan tangannya di pinggang sang istri. "Iya, istriku memang selalu cantik."
Senyum di bibir Diandra semakin merekah. "Dih, baru sadar?"
Diandra berpura-pura berdecak, tanpa mengalihkan pandangannya pada sang suami.
"Aku sudah sadar sejak pertama ki kita bertemu, sayang. Makanya, aku terus mengejarmu sejak saat itu. Aku gak akan rela kalau perempuan secantik kamu dimiliki oleh laki-laki lain," ujar Gio semakin gemas dengan istrinya.
Diandra mengangguk-anggukkan kepalanya. "Benarkah? Aku rasa sekarang kamu semakian pandai berbohong ya,"
"Aku tidak pernah berbohong padamu, sayang. Cintaku padamu tubuh sejak pertama kali kita bertemu," ujar Gio.
"Aku gak percaya, mana ada kisah cinta pada pandangan perttama," sangkal Diandra.
"Mulai saat ini kamu harus percaya, karena aku adalah buktinya. Sejak saat pertama aku menolongmu, sampai saat ini cintaku padamu tumbuh semakin besar, tanpa bisa aku kendalikan, sayang." Gio mencium kening Diandra sekilas.
Tampak banyak dari warga sekitar mencuri tatap pada sepasang suami istri yang tidak sungkan untuk mengumbar keromantisan di depan umum.
Itu masih jarang didapati di kampung itu, mengingat kebanyakan mereka sibuk dengan urusan pekerjaannya masing-masing. Lagi pula, rasanya sangat memalukan jika harus mengumbar kemesraan di depan umum.
Pasti nanti akan jadi bahan candaan bahkan ejekkan para tetangga. Kerana, memang semua itu masih sangat jarang terjadi di setiap pasangan di kampung itu.
"Ish, jangan cium-cium, malu tau. Tuh, diliatin orang-orang," Diandra meneleng melihat Gio dengan tatapan kesal, kemudian mengedarkan pandangannya melihat banyak warga yang mencuri pandang padanya.
"Gak apa, biarkan saja mereka. Kalau sudah cape juga nanti gak akan liatin lagi," jawab Gio cuek.
"Ish, dasar nyebelin!" decak Diandra, dia kemudian menyilangkan tangannya di depan dada, sambil kembali melihat pertandingan bola main-main para anak-anak kampung.
"Eh, mau jajan gak?" tanya Gio, melihat beberapa pedagang yang berjejer di sepanjang lapangan.
Mulai dari cilok, bakso cuangki, siomay, batagor, cireng, tahu bulat, es krim, sampai pedagang kopi keliling pun ada.
Bandung memang terkenal dengan makanannya yang enak-enak, begitu juga dengan banyaknya jajanan yang sangat menggugah selera.
"Boleh," angguk Diandra.
__ADS_1
"Mau apa?" tanya Gio lagi.
"Siomay, gimana?" Diandra bertanya dulu pada Gio.
"Boleh, yuk!" ajak Gio kembali menggenggam tangan Diandra, dan mulai melangkah menuju tukang berjualan siomay.
"Mang, siomaynya dua ya, jangan pakai saus," pesan Gio.
"Pakai semua, Pak?" tanya tukang siomay.
Gio menoleh pada Diandra.
"Gak pake pare ya, Mang," jawab Diandra.
"Baik, Neng," jawab tukang siapmay itu sambil mulai menyiapkan pesanan Gio dan Diandra.
Mereka berdua duduk di bangku kayu yang terbuat dari selembar papan.
"Dih, panggil aku bapak, tapi panggil kamu Neng, emang aku keliatan tua banget ya," gerutu Gio, sambil menatap penampilannya.
Diandra terkekeh kecil. "Iya, kamu memang udah tua. Baru nyadar?"
Gio menatap Diandra dengan mata yang melebar.
"Eh, gak ada ya, sayang. Kita itu cuman beda lima tahun, masa kamu tega bilang aku tua," kesal Gio menatap penuh protes pada istrinya.
"Beda lima tahun itu jauh," Diandra semakin senang menggoda suaminya.
"Eh, kok gitu sih. Mainnya ancaman, aku gak suka," jawab Diandra sambil terus menggeser duduknya.
Hingga tampak dia sadari dirinya semakin jauh dan hampir terjatuh, untung saja saat itu Gio langsung menangkap tubuhnya dan membawanya ke paham pangkuan.
"Kamu ini kenapa sih selalu ceroboh, hem," ujar Gio sambil mengeratkan giginya, menatap gemas istri dinginnya.
"Eh, kamu sendiri yang terus menggelitiki aku, geli tau." Diandra tidak terima.
Gio terkekeh, dia kemudian mendapatkan satu kecupan lagi di kening Diandra.
"Iya-iya, aku minta maaf," ujar Gio sambil terkekeh ringan.
Sementara itu tukang siomay yang sudah selesai menyiapkan pesanan keduanya, malah bingung tidak mau mengganggu keromantisan suami istri itu.
"Alah, kumaha ieu?" gumam tulang siomay sambil mencuri pandang pada Gio dan Diandra.
"Udah ah, tuh siomaynya udah jadi," kesal Diandra mengalihkan pandangannya ke depan.
Tukang siomay langsung menghembuskan napas lega, dia kemudian mengambil piring dan menyerahkannya pada Gio dan Diandra.
"Sialahkan, Pak, Neng," ujar tukang siomay dengan logat khas sunda.
__ADS_1
Gio hendak protes dengan panggilan tukang siomay itu. Akan tetapi, Diandra langsung menahannya.
"Makan," ujar Diandra.
Gio langsung terdiam dan kembali dengan piring miliknya. Akan tetapi, bukan Gio namanya jika tidak mencari perhatian pada istri dinginnya.
Tiba-tiba dia menyatukan siomay miliknya pada piring Diandra. Tentu saja itu semua membuat Diandra menatapnya dengan wajah penuh tanya.
"Suapin," ujar Gio tanpa rasa bersalah.
Tukang siomay yang sedang minum air sampai tersedak mendengar perkataan manja dari laki-laki bertubuh tinggi itu.
"Astaga," desah Diandra, dia rasanya ingin menangis menghadapi sikap manja dan kekanakkan suaminya itu.
Namun, akhirnya perempuan itu tidak menolak juga. Mereka makan dengan Diandra yang manyuapi Gio sambil menyuapi dirinya sendiri.
Serasa nonton sinetron secara live, ujar salah satu ibu muda yang sedang menggendong anak bayi.
Bukan, tapi kayak lagi nonton film india, imbuh ibu muda dengan anak balita di atas sepeda berbentuk kelinci.
Ah, ini gak bisa, itu terlalu manis, sambung seorang perempuan tanpa anak.
Iya, ini lebih romantis dibandingkan dengan drama korea, angguk perempuan yang lebih muda.
Ya ampun, di mana ya nyari laki-laki katak gitu, jadi mau nikah, sekumpulan remaja berumur sekitar lima belas sampai delapan belas tahu.
Heem, vibesnya udah kayak CEO atau deddy sugar di novel online, remaja dengan kaos berwarna hitam tampak menatap Gio dan Diandra dengan penuh binar.
Ah, abang, halaman aku dong ... jadi yang kedua juga gak apa-apa kok, Neng rela, racau remaja dengan jaket berwarna merah muda.
"Ada yang minta dihalalin tuh," sendiri Diandra yang sebenarnya sejak tadi mendengarkan setiap omongan orang tentang mereka berdua.
"Hah?" Gio yang sejak tadi hanya fokus pada istrinya tidak mengerti dengan perkataan Diandra.
"Itu ada yang mau dihalalin sama kamu," ulang Diandra, sambil menyuapkan suapan terakhir siaomaynya.
"Eh, kamu cemburu?" Gio malah tersenyum mendengar perkataan Diandra.
"Enggak, siapa juga yang cemburu," jawab Diandra.
"Itu buktinya kamu cemberut." Gio memainkan alisnya, menggoda sang istri.
"Idih, geer. Aku cemberut gara-gara kesal sama kamu, bukan sama mereka," decak Diandra.
Gio tidak peduli dengan segala alasan Diandra, yang penting sekarang dia tahu kalau Diandra sudah bisa cemburu padanya.
Gio kemudian membayar siomay, dan beranjak dari tempat itu.
.....................
__ADS_1
Gak usah gengsi, Neng Dian, bilang aja kalau cemburu😂