Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Bab.33 Apa Salahku


__ADS_3

...Happy Reading...


...💖...


Tak terasa, hari pun beranjak siang. Diandra kini sudah berada di ruangan Romi, mereka berdua sedang membahas masalah tentang kebakaran restoran, beberapa hari yang lalu.


"Kamu sudah tau, siapa karyawan yang sudah mengkhianati kita?" tanya Diandra, setelah keduanya berbincang cukup panjang.


Romi terdiam, dia seperti ragu dengan kata yang akan ia sampaikan.


"Sudah. Tapi–"


"Tapi, apa?" tanya Diandra, menatap Romi dengan kening berkerut.


"Tapi, dia sudah pergi entah ke mana," jawab Romi dengan suara sedikit lemas dan kepala menunduk, merasa bersalah.


"Maksudnya, kabur?" tanya Diandra, memastikan.


Romi mengangguk samar, membuat perempuan di depannya itu mengehembuskan napas kasar, dengan tubuh yang lemas.


"Jadi kita sudah terlambat?" tanya Diandra lagi.


"Maafkan aku, Dian. Aku ceroboh, hingga membuat dia bisa dengan mudah mematikan diri," sesal Romi.


"Akh, Sial!" umpat Diandra, mengepalkan tangannya kuat, hingga urat di sekitarnya terlihat.


"Jadi kita tidak punya bukti maupun saksi, untuk menuntut Jonas?" tanya Diandra, menyandarkan tubuhnya.


Tangannya mengepal di atas meja, menyalurkan rasa marah juga kesal yang ada di dalam hatinya.


Romi mengernyit, mendengar perkataan Diandra.


"Jonas?" tanya Romi.


Diandra melirik Romi, dia sempat menjatuhkan pandangannya sekilas, sebelum menganggukkan kepala samar.


"Jadi dalang dari kebakaran restoran itu adalah Jonas?" tanya Romi, memastikan.


Diandra menghembuskan napas lelah, dia kemudian mengaguk kembali.


"Dari mana kamu tau semua itu? Bukannya kemarin malam kamu masih bilang tidak tau?" tanya Romi lagi. Dia menatap Diandra penuh selidik.


Sebelum menjawab, Diandra tampak menyandarkan punggungnya dengan helaan napas lelah, untuk yang kesekian kalinya.

__ADS_1


"Dia menemuiku tadi pagi," jawab Diandra kemudian.


"Hah?! Jadi Gio juga sudah tau semua ini?" Romi kembali bertanya.


Diandra menggeleng.


"Dia menemui aku di pantai, dan pergi begitu saja, begitu melihat Gio datang," jawab Diandra.


"Brengsek! Untung kamu tidak tertarik sama laki-laki seperti itu, Dian." Romi mengepalkan tangannya, menahan geram.


Diandra tak menjawab, dia hanya mengedipkan mata perlahan dengan hati yang kini terasa gusar. Pandangannya mulai goyah, seiring dengan hati yang mulai melemah.


Ada rasa bersalah yang tiba-tiba saja mengganggu pikirannya. Juga, berbagai tanya yang kini berputar, memengaruhi ketegaran hati yang selam ini ia bangun dengan susah payah.


"Romi," panggilnya pada saudara sekaligus kepercayaannya itu.


Lelaki itu langsung menatap wajah yang tampak tak setegar biasanya itu. Dia tahu, kalau saat ini Diandra tengah mengalami berbagai masalah.


Mulai dari kejadian restoran yang jelas terlihat, juga masalah di keluarganya sendiri yang bahkan ia sendiri tak bisa, walau hanya sekedar membantu.


Rasa prihatin juga iba selalu terasa, bila melihat wajah cantik dan angkuh, yang jelas sekali hanya Diandra gunakan untuk menutupi setiap kesedihan dan luka di dalam hidupnya.


"Apa selama ini aku salah, bila memilih menghindar dari sebuah hubungan? Aku takut, Rom ... aku takut."


Romi mendekati perempuan yang kini terlihat begitu menyedihkan itu. Dia pun merasakan sakit saat melihat Diandra terpuruk.


"Apa salahku, Rom. Kenapa semua orang selalu memaksakan keinginannya padaku? Kenapa mereka tidak mau mengerti perasaanku?" lirih Diandra.


"Tidak ada. Kamu tidak salah apa pun, Dian. Kamu tidak salah," ujar Romi, dia memilih untuk merengkuh tubuh rapuh saudaranya itu.


"Aku capek, Rom ... aku capek," ujar Diandra lirih, di dalam rengkuhan tangan Romi.


Ya, hanya Romi yang tahu pasti apa yang dihadapi oleh Diandra selam ini. Laki-laki itu juga yang selama ini selalu menjadi tempat Diandra mengeluh.


Bagi Diandra, Romi sudah seperti kakak kandungnya sendiri. Mereka memanag tidak tubuh bersama, hanya saja Romi selalu berusaha untuk melindunginya sejak dia kecil.


.


Tanpa ada yang tahu Gio mendengarkan semua yang diucapkan oleh Diandra dan Romi, dari balik pintu.


Dia yang awalnya hanya ingin mengajak Diandra untuk makan siang bersama, kini memilih untuk kembali ke hotel miliknya, tanpa menyapa lebih dulu.


Dadanya terasa sesak, saat melihat istrinya lebih memilih berbicara dengan laki-laki lain, apa lagi kontak fisik yang baru saja dia lihat.

__ADS_1


Dengan tangan mengepal dan langkah cepat, dia meninggalkan hotel milik istrinya itu.


"Eh, Pak?" seorang karyawan yang berpapasan dengannya pun tampak kebingungan melihat Gio yang berjalan keluar kembali.


Namun, Gio tidak menghiraukannya. Dia bahkan tidak menyadari semua itu karena terlalu fokus untuk mengendalikan dirinya sendiri.


Karyawan yang hendak menemui Romi, untuk menyerahkan hasil pekerjaannya, hanya mengedikkan bahu sekilas, lalu kembali berjalan menuju ruangan bosnya itu.


Sampai di depan ruangan Romi, dia melihat Diandra juga tidak ada di meja kerjanya, hingga ia berniat untuk langsung mengetuk pintu ruang Romi yang tampak sedikit terbuka.


Namu, saat dia hendak mengetuk pintunya, pemandangan yang ada di dlama, malah membuat karyawan itu menghentikan niatnya.


"Astaga! Apa yang sedang mereka lakukan?" gumam karyawan itulirih, sambil menuntup sedikit mulutnya.


Matanya melebar, melihat Diandra yang sedang berada di dalam pelukan Romi.


Dia pun segera kembali dengan berbagai pikiran kotor memenuhi kepalanya.


"Ternyata gosip yang selam ini beredar itu benar? Diandra memiliki hubungan gelap dengan Pak Romi?" gumamnya, seakan baru saja mendapatkan sebuah bukti kebenaran dari rumor yang selama ini masih simpang siur di kalangan karyawan hotel itu.


.


Di ruangan Romi, dia mulai melepaskan pelukannya, saat merasakan Diandra lebih tenang dibandingkan sebelumnya. Dia pun akhirnya duduk di depan perempuan itu.


"Kamu perempuan kuat, aku tau itu. Jadi, aku harap kamu tidak akan goyah hanya karena ancaman dari laki-laki brengsek seperti Jonas," ujarnya, sambil menghapus bekas air mata di pipi saudaranya itu.


"Tapi, dia sudah berani mengorbankan banyak orang, termasuk adikku sendiri, hanya karena ingin melihat aku hancur. Bagaimana kalau nanti dia akan berbuat lebih nekat lagi dari ini," ujar Diandra, masih merasa gusar.


Romi tampak terdiam, di dalam hati dia pun khawatir akan semua itu.


"Bagaimana kalau kita meminta bantuan suami kamu saja? Aku yakin dia pasti bisa memebantu masalah ini."


Diandra menatap Romi dengan mata tajamnya.


"Kamu sudah tau kan jawaban aku apa?" ujar Diandra.


"Tapi, Dian ... bukannya sekarang ini dia sudah jadi suami kamu? Jadi tidak masalah bukan kalau dia membantu istrinya sendiri?" Romi masih mencoba merayu saudaranya itu.


"Aku gak tau, Rom. Aku gak mau melibatkan orang lain lagi di lama masalahku," jawab Diandra, dengan mata yang bergerak tak tentu arah.


Melihat semua itu, Romi pun akhirnya memilih untuk diam. Dia tak mau lagi membuat perasaan saudaranya itu menjadi lemah kembali.


...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2