
...Happy Reading ...
......................
Siang harinya Gio dan Diandra terlihat ke luar dari hotel bersama dengan seluruh keluarga Diandra. Mereka berniat untuk mencari makan siang di luar, setelah sejak dari kemarin terus memakan masakan hotel.
Gio sudah menyediakan mobil khusus keluarga dengan jumlah kursi lumayan banyak, hingga dapat menampung semua anggota keluarga Diandra. Kali ini Gio menyetir sendiri, walaupun seperti biasa, satu lagi mobil anak buhanya selalu setia mengikuti mereka dari belakang.
Diandra duduk di kursi tengah bersama Binda, sedangkan Ares, Ana, dan Andra duduk di kursi paling belakang. Ayah duduk di samping Gio. Diandra sempat terkejut saat Gio membuka pintu tengah dan menyuruh dirinya untuk masuk, padahal sebelumnya, laki-laki itu selalu tidak pernah mau jauh darinya, jika sedang berkendara.
Namun, ternyata Gio cukup dewasa ketika laki-laki itu berada di tengah keluarganya, dia tahu kalau dirinya menikah dengan seorang anak sulung, yang otomatis harus memosisikan dirinya juga sebagai menantu sulung.
Gio lebih menghormati Ayah, dan memberikannya kursi di samping kemudi, sementara waktu memilih mengalah dan berjauhan dengan sang istri.
Hari ini Randi sudah kembali bekerja di kantor, sedangkan Romi dan keluarga sudah pamit pulang sejak tadi pagi, mengingat dia juga harus segera kembali bekerja dia hotel.
Sepanjang perjalanan diisi dengan perbincangan khas keluarga besar, apa saja yang mereka lihat maka akan menjadi bahan pembicaraan yang nantinya akan melebar ke mana-mana. Bahkan terkadang sebuah tulisan iklan yang tertempll di papan saja, bisa membuat mereka tertawa bahagia.
Beberapa saat kemudian Gio sudah memarkirkan mobilnya di depan sebuah restoran sederhana, pilihan keluarga Diandra tentunya. Katanya Ayah sudah bosan makan makanan mewah di hotel, jadi untuk siang ini mereka malah memilih sebuah warung makan biasa yang terlihat cukup besar.
Diandra tampak menahan senyum, saat Gio terlihat ragu untuk masuk ke dalam, dia tahu kalau selama ini Gio memang selalu dimanjakan oleh kemewahan. Sepertinya hanya di pantai saja Gio mau makan di warung seafood sederhana, karena memang di sana jarang restoran mewah.
"Sayang, apa kamu yakin akan makan di sini?" tanya Gio, setelah sebelumnya menarik diri dari keluarga mertuanya itu.
"Memang kenapa? Rumah makan ini terlihat bersih, pasti makanannya juga enak. Yuk, masuk!" Diandra langsung menggenggam tangan Gio dan menariknya untuk berjalan kembali, menyusul keluarganya yang sudah berjalan lebih dulu.
"Tapi, sayang, ini kan pertama kalinya kita mengajak keluarga kamu makan di luar, masa kita malah makan di tempat seperti ini?" Gio masih berusaha menawar.
Diandra menghembuskan napas kasar sambil menghentikan langkahnya, dia menatap Gio, bersiap untuk memberikan penjelasan, ketika suaminya itu tampak masih enggan untuk masuk.
"Keluargaku itu datang dari kampung, mereka tidak akan nyaman kalau kita terus makan di restoran mewah, dan akan lebih nyaman jika makan di rumah makan sederhana seperti ini, Gio," jelas Diandra.
"Ayo, kita masuk. Nanti mereka lama nunggu kita," sambung Diandra lagi sambil kembali meneruskan langkahnya.
__ADS_1
Gio tampak terdiam, mencerna apa yang baru saja dikatakan oleh istrinya, dia kemudian mengangguk samar, saat mengerti dengan apa yang dibicarakan oleh istrinya barusan. Dengan langkah lebarnya dia menyamai Diandra, dan berjalan beriringan.
Sampai di dalam, ternyata Ayah dan yang lainnya sudah memilih tempat duduk lesehan yang terdapat di sebuah saung, di bagian belakang restoran.
Semuanya sudah memesan makanan kecuali Gio dan Diandra, yang baru saja datang.
"Kita udah pesan paket nasi liwet komplit dengan ikan bakar dan sayur asam. Sekarang giliran kalian yang pesan," ujar Ayah saat Gio dan Diandra baru saja sampai.
"Kita samain aja sama mereka, gimana?" tanya Diandra pada Gio.
"Boleh, tapi tambahin ayam goreng juga," jawab Gio.
"Baik, Pak –" Pelayan rumah makan tampak mengulangi pesanan dari mereka semua sebelum pamit undur diri.
Ternyata rumah makan sunda bergaya tradisional itu, terlihat cukup besar, dengan dilengkapi area bermain untuk anak-anak, membuat Andra yang baru saja bangun, setelah tertidur selama perjalanan langsung meronta mengajak Ares bermain.
Anak laki-laki yang sedang sangat aktif itu, seolah tidak mengenal lelah, terus berjalan dan berlari ke sana ke mari, mencari permainan yang menurutnya menarik.
Gio yang awalnya ragu untuk masuk dan makan di sana pun, malah beberapa kali tampak meminta tambah nasi. Ternyata makan sederhana bersama keluarga, membuat suasana menjadi lebih menyenangkan dan dapat menambah napsu makan.
Gio yang jarang memiliki waktu makan bersama keluarga, merasa sangat senang karena dapat meluangkan waktu untuk menemani keluarga mertuanya yang sedang berkunjung ke Jakarta. Walaupun pasti besok pekerjaannya akan menumpuk, mengingat dia akan kembali ke kantor setelah beberapa tahun ini dia meninggalkannya.
Selama ini Gio hanya memperhatikan dari jauh, terkadang Randi pun ikut mengecek kondisi kantor, sedangkan untuk datang dan bergabung, Gio malah sama sekali belum pernah melakukannya. Semuanya masih dipegang oleh orang kepercayaan Ayah Gio yang dulu.
.
.
Setelah menyelesaikan makan siang, mereka lanjut menuju ke mall, untuk mencari oleh-oleh. Walaupun keluarga Diandra datang dari kampung, dengan tarap ekonomi menengah. Akan tetapi, mereka bukan tidak pernah ke jakarta, terutama Ayah dan Ibu, dulu sewaktu kakek dan nenek Diandra dan Gio masih ada dan bersahabat, mereka sering saling mengunjungi, apa lagi bila sedang ada acara.
Meski setelah bertambahnya usia, mereka sudah tidak kuat lagi untuk bepergian jauh, hingga menjadi jarang untuk bertemu.
Masuk ke dalam mall terbesar, tempat Diandra berbelanja bersama mertua dan para iparnya hari kemarin, semuanya tampak berbinar melihat keindahan dan kemewahan yang ditawarkan konsep mall tersebut.
__ADS_1
"Wah, mall ini gede banget, ya," ujar kagum Ares, yang langsung diangguki oleh semuanya, mereka mengedarkan pandangannya, melihat setiap sudut mall yang dapat terjangkau oleh mata.
Walau, akhirnya mereka semua tampak enggan untuk membeli barang-barang, karena harganya yang selangit. Mereka yang terbiasa berbelanja di grosir atau pusat belanja biasa, langsung mundur teratur, saat melihat harga yang di pasang di label barang-barang yang ada di sana.
"Ya Ampun, Bun, lihat harganya!" ujar Ana, saat dia iseng melihat harga sebuah baju yang dipajang di depan sebuah toko.
Bunda yang ikut melihat langsung melenarkan matanya, kemudian menggeleng merasa tidak akan sanggup untuk membelinya.
"Buat apa beli baju mahal-mahal, nanti juga kalau sudah bosan malas mau pake lagi," ujarnya, sambil mencebikan bibirnya.
Ana yang mendengar gumaman Bunda, mengangguk setuju. Dia juga tidak akan mau membeli baju dengan harga selangit, buang-buang uang saja.
Sikap mereka sama seperti Diandra kemarin, saat diajak berbelanja oleh mertua dan para iparnya. Karena itu, sekarang Gio lah yang berperan penting, untuk meyakinkan mertua dan saudara iparnya untuk memilih apa saja yang mereka sukai.
"Harga baju di sini, bisa cukup untuk memberi gaji buruh kita selama satu minggu, Yah," adu Bunda pada Ayah.
"Iyah, ini mah, mending kita kumpulin uangnya untuk nambah beli kebon di kampung, dari pada beli baju yang nantinya cuman numpuk di almari sajah," jawab Ayah dengan polosnya.
"Kak, kamu gak salah ajak kita masuk ke sini? Mana mau, Bunda sama Ayah, belanja di tempat mahal begini." Ana yang berjalan bersama Diandra tampak menyyenggol Diandra.
"Entah, ini kan emang mall tempat keluarga Gio belanja. Tadi aku sudah bilang, buat pergi ke mall biasa aja. Tapi, kamu kan tau sendiri Gio kayak gimana, mana mau dia pergi ke tempat seperti itu," gerutu Diandra, sambil melirik sekilas pada suaminya yang berjalan di belakangnya.
"A', mending kita belanja di tempat lain aja deh, di sini harganya kayaknya kemahalan deh. Ayah sama Bunda mana mau belanja di sini. mereka mah malah mikir beli kebon atau sawah, kalau melihat harga baju di sini," ujar Ares yang berjalan bersama Gio, sambil mendorong Andra yang tertidur pulas di atas stroler. Dia seolah tau apa yang dipikirkan oleh kedua orang tuanya itu.
Gio menggaruk belakang kepalanya, bingung dengan sikap semua keluarga Diandra yang malah gak mau saat dia suguhkan barang-barang mewah di depan mata. Mereka malah setuju protes bersama pada dirinya karena dianggap sudah salah membawa mereka ke tempat seperti ini.
Ya ampun, keluarga mertuaku memang beda, pantas saja Kakek tidak mau kehilangan mereka, sampai menjodohkan aku dengan Diandra. Mereka sama sekali tidak silau dengan harta dan barang mewah. Kehidupannya sederhana, dan apa adanya. batin Gio, melihat seluruh keluarga Diandra.
Terima kasih Kakek, Papah, karena kalian aku bisa berada di tengah-tengah keluarga seperti mereka. Orang-orang baik dan sederhana, tanpa mau menjadi beban dan benalu bagi orang disekitarnya. Kini aku sadar, kenapa dulu kalian memaksa aku agar mau menikah dengan Diandra, agar menyambung kembali tali silaturahmi yang sudah kalian ciptakan.
Sekarang aku sudah bisa menerimanya, aku bahkan mencintainya. Istri yang kalian pilih untukku, ternyata memang yang terbaik untukku.
......................
__ADS_1