
...Happy Reading...
......................
"Aku hanya ingin mengungkapkan apa yang aku rasakan, sayang. Jangan terbebani dengan semua itu. Aku cukup nyaman dengan hubungan kita yang seperti ini," sambungnya lagi.
"I love you to!" sambar Diandra cepat.
Gio terdiam, dia berkedip cepat, mencoba mencerna kata yang baru saja dikatakan oleh istrinya. Dia takut salah dengar, karena suara baling-baling helikopter.
"A–apa?" tanya Gio, sedikit mencondongkan tubuhnya, berusaha lebih dekat dengan sang istri.
"Apa?" Diandra salah tingkah, dia mengalihkan pandangannya kembali ke luar.
Dasar laki-laki menyebalkan, pelayboy cap kodok! Bisa-bisanya dia menyuruhku mengulangi perkataan memalukan itu. Apa dia gak tau kalau itu sama sekali sulit aku lakukan?! geram Diandra mengumpat Gio dalam hati.
"Tadi kamu bilang apa?" tanya Gio lagi, tanpa tahu kekesalan istrinya.
"Gak ada!" jawab Diandra masih enggan melihat suaminya.
Gio memegang kedua pundak istrinya, dia menariknya untuk berhadapan dengan dirinya.
"Ayolah, bilang apa tadi, coba ulangi," ujar Gio memohon.
"Gak!" Diandra menggeleng.
"Sayang, aku mau dengar sekali lagi saja ... ya?" mohon Gio.
"Gio, aku bilang gak mau, ya, gak mau!" tekan Diandra dengan suara tertahan.
"Sayaaang," mohon Gio, berusaha mengeluarkan wajah seimut mungkin di hadapan istrinya.
Diandra memalingkan wajahnya, dia tidak bisa menahan tawa bila suaminya bertingkah seperti itu. Itu lebih lucu dari acara lawak mana pun yang pernah dia lihat.
Tanpa mereka sadari, helikopter mulai kembali ke hotel dan mendarat kembali, Randi yang sengaja menunggu, langsung menghampiri helikopter yang sudah mendarat.
Gio masih sibuk menagih pengulangan kata dari Diandra saat Randi sudah sampai di luar helikopter.
"Ayo turun. Aku lelah," ujar Diandra.
"Ulangi dulu perkataan tadi. Jangan buat aku penasaran begini, sayang," rajuk Gio.
"Turun dulu, aku lelah. Kamu mau aku pingsan di sini?" tekan Diandra.
Diandra masih tetaplah wanita yang keras kepala dan memiliki gengsi selangit, dia tetap saja tidak mau mengulang sebuah perbuatan yang menurutnya sangat memalukan.
"Mana bisa kamu nuduh aku kayak gitu, sayang. Aku gak pernah mau ngeliat kamu sakit, walaupun itu karena sebuah jarum suntik. Semua rasa sakut yang kamu rasakan, terasa sangat menyiksa untukku." Gio melebarkan matanya, seolah tidak terima dengan tuduhan Diandra.
"Ya sudah, ayo kita turun!" kesal Diandra, tidak sabar dengan segala drama yang dubuat oleh suaminya.
__ADS_1
"Iya-iya, ayo kita turun," jawab Gio, dia melepaskan headset di kepalanya, lalu beralih pada Diandra, kemudian berjalan turun terlebih dahulu.
Gio kemudian menolong Diandra untuk turun dari helikopter. Di depan banyaknya penjaga di sana tanpa aba-aba Gio langsung menggendong Diandra ala bridal style.
"Gio! Kamu apa-apaan, sih?" Diandra melebarkan matanya sambil memukul pelan dada bidang suaminya.
"Katanya kamu capek? Jadi aku gendong," ujar Gio santai.
"Tapi, gak kayak gini juga, Gio. Malu tau, ih!" gerutu Diandra.
"Untuk apa malu, kita sudah menikah. Mereka sudah tau semua itu. Lagipula siapa yang berani membicarakan kita, hem?" Gio terus melangkah menuju pintu lift, di tengah para penjaga yang berjejer di kiri dan kanannya.
Diandra hanya meringis mendengar ucapan santai Gio, dia meremas jas yang Gio pakai sambil menundukkan kepalanya hingga keningnya menyentuh dada Gio, menahan rasa malu kepada para anak buah Gio, akibat ulah suaminya.
"Dasar suami nyebelin, playboy cap kodok! Gio, nyebelin ... Gio, nyebelin." Wanita itu menutup matanya erat sambil terus bergumam, mengeluarkan rasa kesalnya pada sang suami.
Gio hanya terkekeh mendapati sikap Diandra saat menahan malu dan kesal seperti ini.
"Ulangi dulu perkataan kamu tadi, baru aku mau turunin," ujar Gio.
"Kamu, nyebelin!" ulang Diandra.
"Bukan kata yang itu, sayang," desah Gio.
"Aku kan bilang itu, terus mau yang mana lagi?" Diandra pura-pura tidak mengerti.
"Aku gak ngomong apa-apa!" Diandra masih mengelak.
"Ayolah, sayang." Gio masih berusaha merayu.
"Turunin dulu," tawar Diandra.
"Aku gak akan bisa kamu bohong untuk yang kedua kalinya, sayangku, cantiku, manisku," tolak Gio, dengan gaya yang lucu.
"Ck!" Diandra hanya berdecak sambil melirik Gio sinis.
"Hahaha!" Gio tergelak melihat istrinya kesal.
Randi membantu Gio menekan tombol pintu lift.
"Sudah, sampai di sini saja. Kamu gak usah ikut aku lagi," ujar Gio, sebelum dia masuk ke dalam lift bersama Diandra.
"Baik, Pak!" jawab Randi, dia memang selalu bersikap formal pada Gio, bila sedang berada di tengah-tengah anak buah mereka.
"Terima kasih, untuk hari ini. Kalian semua sudah boleh beristirahat sekarang," perintah Gio, untuk semua anak buahnya.
"Baik, Pak!" jawab mereka ******.
Gio kemudian melangkah masuk ke dalam lift, setelah mendengar jawaban dari seluruh anak buahnya, termasuk Randi.
__ADS_1
"Udah, turunin aku!" Diandra meronta di dalam lift, begitu pintu lift tertutup.
"Sayang, di sini ada CCTV, loh. Kamu mau kita jadi bahan tontonan para staf keamanan?" Bukannya melepaskan Gio malah membahas kamera pengawas.
Namun, ternyata itu juga bisa membuat Diandra sedikit terintimidasi. Wanita itu tampak melihat ke arah atas mencari keberadaan CCTV. Dia bahkan menelan saliva dengan susah payah, saat melihat ada kamera pengawas di pojok atas sebelah belakang.
"Ya udah, turunin aku atuh, ih!" Diandra merengek, karena sudah tidak tahan menahan malu.
Wanita itu bahkan tidak bisa membayangkan dirinya dilihat oleh staf pengawas dalam keadaan seperti ini. Itu pasti akan sangat memalukan.
"Ampun teuing, boga salaki naha meuni ngeselkeun kieu?!" gerutu Diandra dalam bahasa daerahnya.
"Ngomong apa sih, sayang?" Gio mengerutkan keningnya, mendengar bahasa yang asing di telinganya.
"Apa aja boleh!" jawab Diandra asal.
"Heuh! Awas aja ya, nanti aku tanya sama Ayah," kesal Gio.
"Terserah!" jawab Diandra.
Beberapa saat kemudian, pintu lift kembali terbuka, Gio ke luar masih dengan menggendong tubuh Diandra. Dia berjalan menuju ke kamar yang dia pesan.
"Ambil key card di kantong jas aku," perintah Gio setelah sampai di depan pintu.
"Ck!" Diandra berdecak, walau tangannya bergerak mencari key card di jas suaminya.
Diandra menempelkan key card untuk membuka pintu, mereka akhirnya masuk ke kamar.
"Turunin, aku kebelet!" Diandra masih mencoba untuk terlepas dari suaminya.
"Gak usah bohong," malas Gio, masih enggan melepaskan istrinya.
"Beneran, aku mau pipis. Kamu, mau aku pipis di sini?" Diandra meringis seperti seorang menahan buang air kecil.
"Heuh!" Gio menghembuskan napas cepat, kemudian perlahan akhirnya menurunkan Diandra.
Setelah Gio menurunkannya, Diandra hendak langsung berlari ke kamar mandi. Akan tetapi, dia malah berdiri bingung karena belum tau arah kamar mandi di sana.
Dia juga terkejut saat melihat penampakan kamar yang ternyata sangat luas, dengan desain khas untuk pengantin baru.
"Kamu ngapain pake pesan kamar kayak gini?" Diandra yang gak peka sama sekali malah melihat Gio dengan raut wajah bingung.
"Kenapa? Ini kan memnag kamar president suit yang ada di sini. Lagi pula, bukannya sudah biasa kalau pengantin baru diberikan kamar desain seperti ini?" ujar Gio santai, dia kemudian memluk istrinya dari belakang.
"Tapi, kita kan bukan pengantin baru lagi?" Diandra masih mrasa bingung.
"Mereka hanya tau kalau hari ini adalah hari perayaan pernikahan kita, sayang. Jadi, menurut mereka kita itu masih pengantin baru," jelas Gio sambil mulai memberikan ciuman pada pundak sang istri yang terbuka.
................
__ADS_1