
...Happy Reading ...
......................
Diandra mengerjapkan matanya perlahan, penglihatan yang awalnya terasa samar, kini mulai terlihat jelas, hingga dia bisa melihat langit-langit ruangan itu yang berwarna putih bersih.
"Dian, kamu sudah sadar, Nak?" tanya seseorang yang kini membuat Diandra sedikit menoleh ke arah kanan.
"Bagaimana keadaan kamu, Nak? Apa ada yang sakit?" sambung Bunda Lisna lagi, mengedarkan pandangannya pada seluruh tubuh anaknya.
"Bunda?" lirih Diandra melihat ternyata itu adalah ibu kandungnya.
"Iya, Nak, ini Bunda. Kenapa, sayang? Apa ada yang kamu rasakan?" angguk Bunda Lisna, dengan mata berkaca-kaca.
Kondisi sang anak yang cukup banyak memiliki luka gores kaca di wajah dan tangannya, membuat Diandra memiliki beberapa perban kecil.
"Aku tidak apa-apa, Bunda." Diandra menggeleng perlahan.
Terlihat di sana juga ada Ayah Eros, yang tampak sedang menatapnya dengan wajah khawatirnya.
"Syukurlah, kalau kamu baik-biak saja, Nak. Bunda dan Ayah sangat khawatir sama kamu," ujar Bunda Lisna dengan air mata yang sudah menetes, walau senyum tipis terlihat di bibirnya.
Diandra mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan tempatnya dirawat, dia seperti sedang mencari sesuatu.
"Kamu sedang mencari apa, sayang? Apa kamu haus, mau minum?" tanya Bunda sambil mengambil air putih yang tersedia di meja.
Diandra menggelang, dia menolak air minum yang disodorkan oleh Bunda Lisna.
"Bunda, Gio mana?" tanya Diandra mengingat kecelakaan yang dia alami bersama suaminya, kini ingatannya tertuju pada sang suami, apa lagi dia tidak melihat siapa pun dari keluarga suaminya di ruangan itu.
Bunda Lisna tampak terdiam, dia hanya melihat wajah Ayah Eros dengan tatapan sendu, seakan tidak sanggup menjawab pertanyaan dari anak sulungnya itu.
Ayah Eros juga tampak ragu untuk mengatakan apa yang terjadi pada Gio. Itu semua semakin membuat Diandra khawatir dan tidak tenang.
"Bunda, kepala Gio terbentur, dia melindungi aku," ujar Diandra mengingat kejadian di saat mereka mengalami kecelakaan.
Saat itu salah satu tangan Gio menahan kepalanya, sedangkan tangan yang satunya lagi, mencoba mengendalikan mobil yang hampir saja terbalik, akibat pengereman mendadak yang dilakukan Gio, walau begitu dari arah belakang tiba-tiba ada mobil lainnya yang menabraknya, hingga akhirnya kepala Gio yang tidak memiliki perlindungan, terbentur setir kemudian kaca jendela mobil.
"Ayah, apa yang terjadi pada Gio? Kenapa kalian gak jawab pertanyaan aku?" tanya Diandra dengan jantung yang berdegup semakin kencang.
Namun, Eros tampa masih ragu untuk menjawab, hingga membuat Diandra semakin tidak sabar, perasaannya pun semakin tidak menentu.
__ADS_1
"Ayah, aku mau ketemu Gio. Mana Gio, Ayah?" Diandra semakin mendesak, matanya pun kini tampak berkaca-kaca, takut terjadi sesuatu pada suaminya.
Suara pintu terbuka membuat Diandra mengalihkan perhatiannya dengan harapan itu adalah Gio yang baru datang. Akan tetapi, harapannya langsung terpatahkan saat melihat kalau itu hanya dokter jaga dan perawat yang masuk ke ruangannya.
"Bunda, Ayah, aku mau ketemu Gio," ujar Diandra lagi dengan suara bergetar dan air mata yang sudah terlanjur menetes.
"Gak apa-apa, Nak. Sekarang, lebih baik kamu diperiksa dokter dulu, ya. Untuk sekarang jangan memikirkan apa-apa dulu, ya," ujar Ayah Eros, sambil menggenggam tangan Diandra yang tampak bergetar.
"Iya, Nak. Sekarang kamu harus sehat dulu." Bunda Lisna ikut menimpali perkataan Ayah Eros.
"Tapi, aku mau ketemu Gio, Yah," ujar Diandra masih tetap ingin menemui suaminya.
"Iya, nanti kalau kamu sudah diperiksa kita akan bertemu dengan Gio, ya." Eros masih mencoba membujuk anak sulungnya itu.
Dengan berat hati akhirnya Diandra diam dan mengizinkan untuk dokter memeriksanya, walau pikirannya tetap tertuju pada suaminya yang masih tidak tau saat ini ada di mana.
Dokter pun mengatakan kalau kondisi Diandra sudah stabil, walaupun untuk sementara Diandra harus mengatur aktivitasnya agar tidak terlalu cape, bahkan untuk beberapa hari dia belum dibolehkan untuk aktivitas yang ringan, seperti melakukan oleh raga sekalipun.
Itu semua karena Diandra telah mengalami pendarahan yang hampir merenggut kehamilannya. Untung saja Diandra tidak terlambat mendapatkan penanganan, hingga semuanya masih bisa diselamakan.
Dokter pun pergi setelah mengatakan berbagai nasihat dan saran yang harus Diandra lakukan selama menjalani pemulihan.
"Ayo, Yah. Aku mau ketemu sama Gio," ujar Diandra kembali mengajak Eros untuk menemui suaminya.
Diandra menunggu Ayah Eros dengan gelisah, dia sangat tidak sabar ingin mengetahui keadaan Gio, karena sejak tadi belum ada jawaban pasti dari ayah dan bundanya.
Beberapa saat kemudian Ayah Eros kembali dengan mendorong kursi roda, melihat itu Diandra langsung beranjak hendak turun dari brankar. Akan tetapi, Bunda dan Ayah langsung menahannya.
"Kamu gak boleh turun dulu dari brankar, Nak," ujar Ayah sambil berjalan menghampiri Diandra, kemudian menggendongnya ala bridal style.
"Tolong ambilin infusnya, Bunda," ujar Ayah lagi pada Bunda Lisna.
"Ayah, Dian masih bisa jalan sendiri," ujar Diandra meras kasihan pada Ayahnya yang harus menggendongnya, padahal umurnya tidak muda lagi.
"Udah, gak usah ngeyel, kamu itu sedang sakit, Dian. Jadi gak usah banyak ngebantah!" ujar Ayah dengan menekan semua perkataannya, seolah menunjukkan pada Diandra kalau saat ini dirinya tidak mau dibantah.
Diandra langsung terdiam, dia bisa melihat jelas raut wajah kalut Ayah Eros, seperti banyak tekanan yang sedang dia sembunyikan.
Eros menurunkan Diandra di kursi roda, kemudian bersiap untuk mendorongnya, dengan Bunda berdiri di samping kursi roda sambil membawa tiang infus.
"Kamu sudah siap untuk bertemu suami kamu, Nak?" tanya Ayah Eros, dengan suara parau seakan sedang menahan tangis.
__ADS_1
Diandra mendongakkan kepala ingin melihat kondisi Ayahnya yang ada di belakang, dia melihat Ayah Eros tersenyum walau matanya tampak memerah.
Hati Diandra seolah sudah bisa merasakan kalau ada yang tidak beres pada kondisi Gio. Akan tetapi, walau begitu Diandra masih berusaha untuk terus berpikiran baik, dan berusaha tenang.
"Siap, Ayah. Ayo cepat, aku mau ketemu sama Gio," jawab Diandra tidak sabar.
"Heem, ayo kita bertemu dengan suami kamu," angguk Ayah Eros sambil mulai mendorong kursi roda Diandra.
Detak jantung Diandra terasa semakin cepat, seiring dari langkah Ayah dan Bunda yang terdengar lambat di telinga, ingin sekali Diandra menyuruh Ayah untuk lebih cepat lagi.
Namun, entah mengapa bibirnya terasa kelu untuk mengucapkan satu kata yang terus tertahan di tenggorokan. Kenyataannya saat ini dia juga butuh waktu untuk bersiap saat ingin bertemu dengan suaminya dan menghadapi apa pun yang ada di sana.
Ayah Eros membawanya masuk menuju lift, menandakan kalau Gio tidak berada di lantai yang sama dengannya. Diandra masih tetap diam hingga mereka kembali ke luar dari dalam kotak besi itu.
"Ayah, bisa tolong berhenti sebentar." Diandra tiba-tiba menghentikan langkah Ayah Eros di saat mereka hendak berjalan kembali.
Eros pun berhenti, dia menatap wajah Diandra dengan kening bertaut begitu juga dengan Bunda.
"Ada apa, Nak?" tanya Bunda beralih ke depan Diandra dengan raut wajah khawatir.
"Bunda bawa make up gak? Aku gak mau kalau nanti Gio lihat aku dalam keadaan kayak gini," tanya Diandra yang membuat raut wajah Bunda berubah sendu, kemudian melihat ke arah Ayah, seolah sedang bertanya.
"Kamu mau make up?" tanya Bunda dengan nada ragu.
"Iya, Bunda. Pasti sekarang muka aku pucat banget kan? Gio bisa khawatir kalau liat aku kayak gini, dia gak suka liat aku terluka, jadi aku mau make up dulu, biar gak pucat dan lebih segar," jelas Diandra, yang membuat mata Bunda Lisna berkaca-kaca.
"Ya udah, kita di sini minggir dulu aja yuk kalau kamu mau make up dulu." Ayah Eros memberikan jawab, sambil mendorong kursi roda Diandra menuju ruang tunggu.
Bunda duduk di kursi tunggu kemudian membuka tasnya dan mengambil alat make up miliknya, Diandra bisa melihat tangan Bunda bergetar saat memberikan pouch make up miliknya.
Diandra mulai melihat wajahnya dari kaca kecil milik Bunda, dia bisa melihat ada beberapa luka gores kecil yang terlihat membuat wajahnya tampak memprihatinkan, apalagi ditambah dengan luka gores di leher bekas pisau Mely yang belum kering.
Wajahnya juga tampak pucat dengan garis hitam di bawah mata, rambutnya pun terlihat sedikit kusut. Ah, itu semua benar-benar kacau.
"Bun, boleh tolong sisirin aku," ujar Diandra yang langsung diangguki oleh Bunda dia mengambil sisir lipat di tasnya kemudian menyisir rambut anaknya dengan perasaan tidak menentu.
Sedangkan Diandra mulai menoleh wajahnya dengan riasan sederhana ... terakhir dia memakai lipstik dengan warna yang cukup berani, hingga membuatnya tampak lebih segar.
"Terima kasih, Bunda," ujar Diandra sambil mengembalikan pouch make up milik Bunda, yang langsung mendapat anggukan dari Bunda Lisna.
......................
__ADS_1
Ish, mana atuh komentarnya, kok sepi banget🥺