Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Bab.37 Jangan Dekati Aku


__ADS_3

...Happy Reading ...


......................


Jam delapan malam, Diandra baru saja menghentikan mobilnya di depan rumah. Dia menghembuskan napas, saat melihat mobil milik Gio sudah terparkir di sana.


Dengan langkah gontai, dia turun dari mobil dan berjalan menuju ke dalam rumahnya.


Gio yang sedang berbincang dengan Eros di dalam rumah, mengalihkan pandangannya ke luar, saat mendengar suara mobil milik Diandra.


Berdiri dan berjalan menuju ke luar, untuk menyambut kedatangan istrinya itu.


Diandra tidak menghiraukan keberadaan Gio, dia hanya melirik sekilas sambil berjalan melewatinya, tanpa berniat untuk membuka suara atau menyapa suaminya itu.


“Dian?” Gio terdiam saat melihat istrinya menatap wajahnya dengan sorot mata dingin.


“Aku capek,” jawab Diandra singkat, sambil melanjutkan langkahnya, masuk ke dalam rumah.


Sampai di dalam, pandangannya teralihkan pada sosok Eros yang masih duduk di ruang tamu.


Diandra menatap ayahnya dan melangkah menghampirinya. Mengulurkan tangan untuk mencium punggung tangan ayahnya itu.


“Harusnya kamu juga melakukan hal yang sama pada suami kamu,” ujar Eros, sedikit menasihati anak sulungnya itu.


Diandra menatap sekilas wajah laki-laki paruh baya di depannya, dengan tatapan dingin. Walau bila dilihat lebih dalam lagi, terselip sendu yang terhalang oleh keangkuhannya.


“Tidak apa, Ayah. Mungkin Dian belum terbiasa,” ujar Gio, menyela ayah dan anak itu.


Kini Diandra melirik sekilas pada Gio lalu beralih kembali pada Eros.


“Dengar sendiri, kan?” ujarnya, lalu memilih berlalu pergi menuju ke kamarnya.


Eros yang hendak kembali berbicara, memilih untuk mengatupkan kembali bibirnya, saat melihat gio yang menggeleng samar padanya.


Kedua laki-laki itu kini hanya melihat punggung perempuan itu yang semakin menjauh dan akhirnya menghilang terhalang oleh dinding rumah.


“Kenapa?” tanya Eros pada Gio, setelah keduanya kembali duduk di ruang tamu dan memastikan Diandra tak ada lagi di sana.


Gio tersenyum tipis, dia melihat pada arah menghilangnya sang istri. Lalu, beralih pada sang ayah mertua.

__ADS_1


“Biarkan saja, Yah. Aku tidak mau dia melakukan sesuatu padaku hanya karena terpaksa,” jawab Gio.


Eros menghembuskan napas lelah, menatap wajah sang menantu yang terlihat seperti pilihannya sendiri. Dia semakin yakin dengan pilihannya untuk menikahkan Gio dan Diandra beberapa hari yang lalu.


Sikap Gio yang terlihat dewasa juga sangat menyayangi Diandra, membuatnya lebih tenang bila mempercayakan anak sulungnya itu, pada lelaki di depannya.


“Baiklah. Bila kamu maunya begitu, ayah tidak akan bisa memaksa,” ujar Eros, sembari duduk kembali.


Gio hanya menganggukkan kepala dengan senyum tipis yang selalu mengiringi setiap gerakannya. Walaupun di hatinya masih mengganjal, tentang masa lalu Diandra. Akan tetapi, dia memilih untuk mencari tahunya sendiri, tanpa melibatkan mertuanya.


Laki-laki itu juga takut, kalau dirinya bertanya langsung pada Diandra, maka akan membuat istrinya itu menjadi salahpaham.


Sikap istrinya yang tertutup akan masa lalunya maupun masa sekarang, membuat Gio merasa semakin sulit untuk masuk ke dalam hati Diandra.


Oleh karena itu, Gio memutuskan untuk masuk secara perlahan, dengan sikap lembut dan sabar yang berusaha ia tunjukkan pada istrinya. Berharap, suatu hari nanti Diandra akan membuka hati untuknya.


.


Sementara itu, di dalam kamar Diandra. Perempuan itu terlihat baru saja selesai membersihkan diri. Keluar dari kamar mandi, dengan handuk yang masih melilit di tubuhnya, menghalangi bagian intim yang memang tidak boleh dilihat siapa pun.


Berjalan menuju lemari untuk mengambil baju ganti. Tanpa ragu ataupun curiga, Diandra membuka handuk dan mulai mengganti bajunya, dia yang lupa akan posisinya sebagai seorang istri, merasa tidak ada orang lain yang akan masuk ke dalam kamarnya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


Gio yang sudah terlanjur melihat pemandangan indah di depan mata, pun tak bisa membohongi diri atau berpura-pura tak suka semua itu. Sesaat, dia berdiri kaku dengan mata tak dapat berpaling sedikit pun, walau itu hanya berlangsung selama beberapa detik saja.


Diandra yang tak menyadari kalau sudah ada lelaki yang masuk ke dalam kamarnya, bergerak santai tanpa sadar sepasang mata yang memperhatikannya dengan penuh minat.


Gio tersadar dari keterkejutannya, dia pun berusaha menetralkan raut wajahnya yang tampak memerah, bagaikan seorang gadis yang baru saja melihat sesuatu yang memalukan. Nampan di tangannya yang hampir saja terlepas pun, ia gunakan sebagai pegangan.


Sial, kenapa aku seperti orang yang baru melihat pemandangan seperti ini?! geram Gio di dalam hati. Dia tidak habis pikir dengan dirinya sendiri.


Berdehem pelan sambil mengalihkan pandangannya, memberi isyarat pada Diandra tentang kehadirannya. Berjalan menuju pada ranjang lalu, duduk di sisi sambil menyimpan gelas di atas nakas.


Diandra yang baru sadar akan kehadiran seseorang di kamarnya, langsung menutup kembali tubuhnya yang sudah hampir selesai memakai baju. Melirik tajam pada sang suami yang kini sedang duduk membelakanginya.


“Kenapa tidak ketuk pintu dulu?” tanya Diandra, dengan suara yang semakin dingin saja.


Jantungnya yang bertalu dengan tubuh gugup, berusaha ia tutupi dengan sikap dinginnya. Meneruskan aktivitas memakai pakaian, saat melihat Gio duduk membelakanginya.


Dasar laki-laki brengsek! Berani sekali dia mencuri kesempatan dariku, gumam hati Dianra.

__ADS_1


Gio menghembuskan napas kasar, sebelum menjawab pertanyaan istrinya itu.


“Aku pikir kamu sudah selesai, makanya aku tidak mengetuk pintu dulu. Ini aku bawakan air sekaligus makan malam untukmu.” Gio melihat pada nampan di atas nakas yang baru saja dia simpan.


Ya, beberapa saat yang lalu, Gio terlebih dulu menghubungi Romi dan bertanya, apakah istrinya sudah makan malam atau belum. Mendengar Diandra belum makan sama sekali, dia berinisiatif untuk membawakan makan malam ke dalam kamar.


Diandra berbalik dan melihat nampan berisi nasi dan lauknya. Berdecih kecil, tanpa mau memegang semua itu. Diandra memilih untuk membaringkan diri membelakangi Gio di tempat tidur lalu, menarik selimut.


“Aku tidak lapar, kamu makan saja itu sendiri,” ujar Diandra sambil mulai menutup mata.


Gio memiringkan tubuhnya, menatap selimut yang menutupi tubuh indah Diandra di dalamnya. Entah mengapa pikirannya menjadi merayap tidak terkendali, pada hal-hal yang menggelikan, mengingat bentuk tubuh sempurna milik sang istri.


‘Astaga, kenapa aku tak bisa menahan tubuhku,’ Astaga, kenapa aku tidak bisa mengendalikan tubuhku, gumam Gio, menggelengkan kepala pelan, menghilangkan pikiran kotor di dalam kepalanya.


Dia beralih pada nampan yang berada di atas nakas. Menghembuskan napas pelan lalu, menggeser duduknya, agar berada di samping sang istri.


Tangannya terulur, hendak menyentuh pundak Diandra untuk menyuruhnya makan terlebih dahulu. Akan tetapi, dia sedikit ragu, dengan apa yang ingin dia lakukan, hingga akhirnya tangan itu menggantung begitu saja, di atas pundak sang istri.


Menarik napas dalam dengan mata tertutup, berusaha untuk meyakinkan diri bahwa ini semua tidak kan menambah jarak di antara keduanya.


“Dian, ayo bangun dulu. Aku tau kamu belum makan malam,” ujar Gio, mencoba merayu istrinya.


Diandra bergeming, matanya tertutup semakin rapat, walau tangannya tampak meremas selimut di depannya. Ya, ada jantung yang tiba-tiba saja bertalu, saat mendapati sentuhan hangat tangan besar milik suaminya sendiri.


“Dian?” Gio mencoba menggoyangkan pundak sang istri, dengan kening bertaut.


Apa mungkin dia sudah tidursecepat ini? tanyanya dalam hati.


“Sayang, makan dulu ya. Kalau kamu marah padaku, silakan saja ... aku tidak keberatan. Tapi, bukannya semua itu butuh tenaga?” ujar Gio lagi, semakin mendekatkan tubuhnya pada perempuan di sampingnya.


Gio tahu, tubuh Diandra bereaksi akan sentuhan darinya. Hingga dia menyadari, kalau istrinya itu tidaklah sedang tidur. Pikiran jahil pun mulai menjalar, membuat Gio mulai melancarkan aksinya.


Diandra membuka mata, saat kata sayang terucap dari bibir Gio, ada rasa panas di dalam dada, mendengar kata yang merupakan sebuah rayuan itu.


“Jangan panggil aku seperti itu lagi, dan jangan dekat-dekat denganku!” ujar Diandra, sambil bangun dan duduk di samping Gio, menatap wajah lelaki itu tajam dan napas yang memburu, entah karena marah, atau terlalu lelah menahan rasa tak nyaman di dalam dadanya.


...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...


...Bersambung

__ADS_1


...


__ADS_2