Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Rumor


__ADS_3

...Happy Reading...


......................


Sekitar tiga puluh menit Gio terlelap di atas pangkuan istrinya, Gio tampak mulai menggeliatkan tubuhnya, dia kemudian berganti posisi menjadi miring dan memeluk erat pinggang sang istri.


"Gio, makan dulu," ujar Diandra, sedikit membangunkan suaminya.


"Emh, tunggu sebentar lagi, sayang," ujar Gio, sambil menyusupkan wajahnya pada perut rata istrinya.


"Tapi, kamu belum makan," ujar Diandra lagi.


"Hem." Gio hanya bergumam sebagai jawaban, kemudian kembali tertidur.


"Ya ampun," geleng Diandra.


Lima belas menit Gio tertidur dalam posisi yang sama, akhirnya laki-laki itu mulai membuka mata.


Dia melihat wajah istrinya yang terlihat sedang membaca beberapa berkas yang memang berserakan di atas meja.


"Sayang," panggil Gio, sambil mengambil berkas di tangan Diandra lalu menaruhnya lagi di atas meja.


Diandra mengalihkan pandangannya pada sang suami, yang masih asik berbaring dengan paha sebagai bantalnya.


"Kenapa? Sudah tidurnya?" tanya Diandra.


"Heem, terima kasih ya, sayang. Udah mau temenin aku di sini," ujar Gio dengan senyum manisnya.


"Makin sayang, sama istri aku ini," sambung Gio lagi.


"Heem." Diandra hanya bergumam sebagia jawaban.


"Ngomong-ngomong, itu berkas dari mana?" tanya Diandra, sambil menunjuk berkas yang tadi diambil oleh Gio.


"Oh, itu berkas proyek kantor yang sedang berjalan. Memang ada apa?" tanya Gio.


"Itu yang dibawa sama tamu kamu tadi?" tanya Diandra.


"Iya, dia adalah penanggung jawab proyek ini," angguk Gio.


Diandra mengangguk-anggukkan kepalanya. Kerutan halus di keningnya menandakan kalau dia merasa jangan ada sesuatu. Apa lagi dia tahu kalau yang menangani proyek ini adalah Eric, laki-laki licik yang siap melakukan apa pun demi ambisinya.


Namun, Diandra memilih menagcuhkannya dan membicarakan itu nanti. Sekarang dia ingin kembali pada tujuannya datang ke kantor suaminya.


"Ya sudah, sekarang bangun dulu, aku mau siapin makanan untuk kamu dulu," sambung Diandra lagi.


"Ah, aku jadi malas bangun begini kalau ada kamu di sini, maunya terus tidur aja," jawab Gio malas.


"Ck! Bangun dulu, kamu belum makan siang," ujar Diandra sambil sedikit mengangkat kepala Gio.

__ADS_1


"Iya, ini aku bangun, sayang," ujar Gio sambil duduk kembali di samping Diandra.


Diandra lebih dulu menggerakan kakinya yang terasa kebas, akibat tertindih kepala suaminya. Kemudian mengambil tote bag di atas meja.


"Aku hangatkan makananya dulu, pentry di sini di mana ya?" tanya Diandra.


"Ayo, aku antar kamu ke sana," ujar Gio, sambil hendak beranjak dari duduknya.


"Enggak usah, aku bisa sendiri, kamu bisa tunjukin aja di mana pantrynya,"  tolak Gio.


"Ya udah, aku suruh OB aja panasin makanannya, kamu tunggu aja di sini, ya," ujar Gio, masih tidak rela berpisah dari istrinya.


"Gio ...." Diandra mengatupkan giginya sambil memanggil nama suaminya.


"Iya, aku panggil sekretaris aku, untuk mengantarkan kamu ke pantry, gimana?" ujar Gio lagi, aki-laki itu seperti enggan untuk membiarkan istrinya berkeliaran di kantor sendirian.


Diandra memutar bola matanya, merasa sudah mulai terbiasa dengan sikap posesif saminya. Walau begitu Diandra pun mengangguk, menyetujui saran suaminya.


Gio beranjak menuju meja kerjanya, lalu meminta kepala sekretaris untuk menemani masuk ke dalam ruangannya.


Beberapa saat kemudian, sekretaris dengan pakaian kurang bahan itu tampak masuk ke ruangan Gio.


"Tolong antar istri saya ke pantry," titah Gio dengan nada tegas, tanpa terdengar lembut atau pecicilan seperti saat bersama Diandra.


"Baik, Pak," angguk sekretais itu, walau wajahnya terlihat terkejut saat Gio menunjuk Diandra sebagai istrinya.


Diandra berjalan beriringan dengan seketaris yang tadi sempat tidak memperlakukannya dengan ramah itu, mereka masuk ke sebuah pantry yang berada di bagian belakang.


"Kamu sudah boleh kembali bekerja, aku sudah bisa sendiri," ujar Diandra, pada sekretaris itu.


"Ah, tidak apa-apa, Bu. Saya bisa menunggu sampai, Ibu, selesai," jawab sekretaris itu, menolak perkataan Diandra..


Diandra mengangkat kedua bahunya acuh, kemudian memilih berbalik dan melihat-lihat area ruangan pantry, tanpa mau menghiraukan sekretaris itu.


"Saya minta maaf untuk sikap saya kepada, Ibu, tadi. Saya tidak tau kalau Ibu istri dari Pak Gio," ujar sekretaris itu, sambil menunduk, merasa bersalah pada Diandra.


Diandra mengalihkan pandangannya pada wanita yang kini tengah berada di belakangnya, dia menatapnya dalam diam, kemudian hanya mengangguk tanpa mau menanggapi perkataan dari wanita itu.


"Saya benar-benar menyesal, Bu. Mohon, Ibu, jangan mengadukan saya pada, Pak Gio," ujar wanita itu lagi yang masih merasa gelisah dengan reaksi Diandra yang hanya datar saja.


"Kamu, benar-benar menyesal?" tanya Diandra, dia berdiri tepat di depan wanita itu dengan tangan bersidekap dada.


"I–iya, Bu ... saya benar-benar menyesal," angguk wanita itu.


"Lalu apa yang akan kamu lakukan kalau aku bukan istri dari Gio?" tanya Diandra dengan wajah berubah datar.


"Eum ... i–itu." Wanita itu tampak tergagap, tidak bisa menjawab pertanyaan Diandra.


"Ck!" Diandra hanya berdecak, dia berbalik untuk mengangkat makanan dari oven listrik, saat mendengar suara, tanda waktu memanaskan sudah cukup.

__ADS_1


Menata makanan di atas nampan kemudian mengambil air untuk Gio dan membawanya, melewati wanita itu yang hanya bisa menunduk sambil meremas ujung bajunya.


Baru jadi sekretaris aja udah sombong, batin Diandra mengumpat perempuan itu.


Diandra masuk kembali ke ruangan Gio dengan senyum manisnya, seperti tidak ada masalah antara dirinya dan sekretaris suaminya itu.


Sementara itu kepala sekretaris itu, menatap Diandra dengan sorot mata kebencian, dia mengepalkan tangannya begitu erat, menyalurkan emosi yang terpendam.


Dasar wanita sombong, awas saja nanti, aku akan membuat Pak Gio berpaling darimu, batin sekretaris wanita itu.


Setelah melihat Diandra menjauh, dia pun berjalan kembali ke meja kerjanya. Begitu sampai dia langsung mendapat banyak pertanyaan tentang siapa sebenarnya Diandra, mengingat wanita itu bisa berada di ruangan Gio begitu lama.


Itu semua semakin menambah kemarahannya pada Diandra.


"Dia hanya salah satu wanitanya si Bos. Kalian kan tahu kalau si Bos adalah casanova, pasti kan wanitanya banyak," jawab kepala sekretaris itu, menyebarkan rumor di seluruh kantor, tentang Diandra dan Gio.


Semakin hari rumor itu semakin bertambah luas, hingga akhirnya sampai terdengar ke telinga Gio dan Randi. Sangat murka, dia langsung memerintahkan Randi untuk mencari sumber dari gosip itu.


"Brengsek! Siapa yang brani menyebarkan Rumor tidak berdasar seperti itu di kantorku, hah?!" ujar Gio dengan amarah yang menggebu.


"Tenang dulu, aku akan mencari tau siapa yang berani berbuat seperti itu di sini," lerai Randi, mencoba menenangkan bosnya itu.


"Cari sampai ke akar, aku tidak akan pernah memaafkan orang yang sudah menyebarkan rumor tentang keluargaku!" titah Gio, napasnya tampak memburu, menahan amarah yang terasa membakar dada.


"Baik, Pak!" jawab Randi cepat, kemudian berjalan ke luar dari ruangan bosnya itu.


Melihat raut wajah serius Randi, tentu saja menjadi bahan pertanyaan baru bagi para staf yang melihatnya. Hingga akhirnya kepala sekretaris mencoba bertanya, dengan alasan bercanda.


"Habis dimarahin ya, Pak? Itu muka kusut banget kayaknya," ujar kepala sekretaris itu ketika melihat Randi yang baru saja datang entah dari mana.


"Heh? Memang siapa yang marah?" tanya Randi.


"Aku kira Pak Randi habis dimarahin Pak Gio, makanyamukanya kusut begitu," tebak kepala sekretaris dengan wajah percaya dirinya.


"Aku begini karena Pak Gio mendengar gosip yang sedang beredar, dia sangat marah, sampai menyuruhku untuk mencari tahu siapa pelaku yang menyebarkan rumor tidak berdasar seperti itu," jawab Randi, sambil memperhatikan satu per satu orang yang ada di sana.


Dia ingat, waktu Diandra datang, hanya lantai paling atas yang tau Diandra menemui Gio.


Terlihat sekali wajah terkejut ketua sekretaris itu, walau dengan cepat dia berusaha untuk bersikap santai kembali.


"Loh, memang sebenarnya wanita itu siapanya Pak Bos?" tanya salah satu staf sekretaris yang sedang ada di sana.


"Dia itu istrinya Pak Gio, mereka sudah menikah sejak tiga bulan yang lalu," jawab Randi, yang semakin membuat para karyawan yang kebanyakan adalah wanita itu terkejut mendengarnya.


"J–jadi, wanita itu istrinya Pak Bos?" gumam salah satu perempuan yang ikut menyebarkan romor tak berdasar itu. Wajahnya terlihat pucat, tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.


Sementara itu, Gio tampak duduk di atas sofa, dia menyugar rambutnya merasa prustasi denga apa yang kini sedang terjadi. Entah bagimana kalau sampai Diandra tahu tentang semua ini,  Gio bahkan tidak bisa membayangkannya. Laki-laki itu juga berharap, kalau Diandra tidak sampai mengetahui tentang rumor yang terjadi di kantor itu.


Namun, ternyata apa yang ditakutkan oleh Gio malah semakin membuat dirinya ketar-ketir, saat ternyata siang itu Diandra dan Mama Hana datang ke kantor bersama.

__ADS_1


......................


__ADS_2