
...Happy Reading...
......................
"Diandra, yang aku restui dengan pilihannya, ternyata hanya mengorbankan diri untuk kebahagiaan adiknya. Sampai pada waktu pernikahannya, kembali kami dihancurkan oleh kenyataan, terutama gadis malang itu."
"Jadi dulu Diandra sudah pernah mau menikah dengan laki-laki lain?" Gio menatap wajah Eros penuh tanya.
Eros menatap wajah Gio dengan rasa bersalah di dalam hatinya, luka yang bahkan belum kering, kini terasa perih kembali.
"Iya. Beberapa tahun lalu, Diandra mengaku sudah memiliki laki-laki yang dia cintai, dan saat aku tau siapa laki-laki itu, aku pun tidak bisa menolaknya." Eros mulai bercerita.
"Memang siapa dia?" Gio tidak sadar menyela pembicaraan mertuanya.
"Dia adalah anak dari teman baikku yang meninggal karena menyelamatkan aku dalam sebuah kecelakaan," jawab Eros, tersenyum miris.
"Waktu itu kami berdua baru saja pulang dari luar kota, tapi, di tengah jalan tiba-tiba kami diserang sekelompok orang. Perkelahian itu pun terjadi, kami berdua sudah hampir menang, karena ilmu bela diri temanku lumayan tinggi."
"Tapi, tanpa sepengetahuan aku, ada salah satu dari penyerang yang ingin menusukku dari belakang, hingga akhirnya temanku mengorbankan nyawanya demi menjadi tameng atas diriku," jelas Eros.
Gio melebarkan matanya, menatap terkejut wajah sendu mertuanya itu.
"Ternyata kejadian malam itu, diam-diam menjadikan sebuah dendam di hati anak laki-lakinya, dia dengan sengaja mendekati Diandra dan Ana, lalu berteman baik dengan kami. Aku bahkan sudah menganggapnya sebagai anakku sendiri waktu itu." Eros kembali melanjutkan ceritanya.
"Tapi, dia malah memanfaatkan kasih sayang kami, dan mengkhianati aku juga Diandra. Ternyata selama ini dia hanya menjadikan Diandra sebuah pion, untuk membalaskan dendamnya padaku, atas kematian ayahnya." Ingatan Eros kembali pada saat hari pernikahan Diandra dan Eric.
Flashback.
"Cantik sekali anak perempuan ayah," ujar Eros saat Diandra baru saja selesai di rias.
"Terima kasih, Yah," jawab Diandra, dengan semburat merah di pipinya.
Eros terkekeh mendapati wajah malu anak pertamanya itu. "Ayah mau ke luar dulu, sebentar lagi pasti rombongan keluarga Eric sampai."
Diandra pun hanya mengangguk dengan jantung yang semakin bertalu, mengingat ini adalah hari pernikahannya.
Pancaran kebahagiaan dari seluruh keluarga terlihat jelas, para tamu pun sudah mulai berdatangan, mengingat waktu acara ijab kabul akan tinggal sebentar lagi.
__ADS_1
Namun, semua itu hancur lebur, saat Diandra menerima sebuah pesan dari nomor Eric, yang mengatakan kalau pernikahan itu dibatalkan, karena Eric tidak pernah mencintai Diandra.
Diandra yang menerima pesan itu pun langsung mencoba menghubungi Eric. Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya panggilan tersambung juga.
"Apa yang sebenarnya terjadi, kenapa kamu tiba-tiba membatalkan pernikahan kita?" tanya Diandra, saat suara Eric terdengar di seberang sana.
"Apa alasan di pesan yang aku kirim kurang jelas?! Aku tidak pernah mencintai kamu, dan aku juga tidak mau menikahi perempuan seperti kamu!" sentak Eric dari ujung sambungan telepon.
Diandra tersentak, air matanya tidak bisa lagi dia tahan, hingga kini mengalir begitu saja membasahi pipi.
"Apa maksudnya? Lalu apa arti hubungan kita selama ini? Kenapa kamu juga setuju untuk menikahi aku, kalau setelahnya menjadi seperti ini?!" tanya Diandra, mengharapkan sebuah penjelasan dari laki-laki yang telah dia tuliskan namanya di dalam hati.
"Itu semua hanya kebohongan, aku tidak pernah mencintai kamu. Apa kamu tidak dengar? Dasar perempuan bodoh, kutu buku!" sentak Eric, membuat hati Diandra semakin hancur.
"Kamu terlalu bodoh menjadi perempuan, sampai dengan mudahnya menuruti adikmu itu, dan masuk pada jebakanku dan keluargaku."
"Sudah lama aku menunggu saat ini. Saat dimana kamu dan seluruh keluargamu mempercayaiku dan bertekuk lutut padaku. Dengan begitu, aku bisa menghancurkan kalian."
"Kalian pikir, aku dan keluargaku akan melupakan begitu saja, kejadian ketika meninggalnya ayahku saat itu, heh? Tidak mungkin!"
"Bagaimana rasanya, dikhianati oleh orang yang sudah sangat kita percaya? Sakit, bukan?"
"Apa maksud kamu, dendam apa? Aku bahkan tidak tau tentang dendam itu," ujar Diandra dengan isak tangis yang sudah tidak bisa lagi dia tahan.
Hatinya hancur, harapannya pun pupus, seorang laki-laki yang telah dia tetapkan untuk menjadi pendamping, kini ternyata hanya menjadikannya sebuah alat pembalasan dendam.
Dengan tega Eric meninggalkannya di hari pernikahannya, di saat semua persiapan sudah selesai dan para tamu sudah berdatangan.
Tubuh Diandra merosot jatuh bersimpuh di lantai dengan tangis yang pecah tidak tertahan. Merasakan rasa sakit di dalam hati yang terasa menyesakkan dada.
Bagaimana aku mengungkapkan semua ini pada Ayah dan Bunda? batin Diandra.
Ditengah rasa sakit dan kecewanya, Diandra juga mendengar ada keributan dari luar. Dengan menguatkan tubuh juga hatinya Diandra berusaha berdiri dan berjalan menuju pintu.
Namun, belum sempat dia sampai, pintu sudah terbuka dengan wajah panik Ares.
"Teh, Ayah!"
__ADS_1
Dua kata yang diucapkan oleh adik bungsunya itu, langsung membuat Diandra menerobos ke luar, demi melihat keadaan sang ayah.
"Tidak mungkin Eric berbicara seperti itu, ini pasti hanya karangan kamu saja!" Suara Eros yang sedang memaki seseorang membuat Diandra semakin mempercepat langkah kakinya.
"Saya tidak berbohong, Eric memang mengutus saya untuk membatalkan pernikahan ini. Karena dia tidak mencintai Diandra dan memberikan ini sebagai bukti kalau Diandra sudah berselingkuh darinya," ujar laki-laki tidak dikenal itu.
Diandra mematung, saat mendengar perkataan laki-laki itu, dia yang tidak pernah merasa berselingkuh dari Eros, menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak pernah selingkuh dari Eric," bantah Diandra.
Eros tidak mendengar perkataan Diandra, dia mengambil sebuah amplop dari tangan laki-laki itu. Di sana ternyata terdapat sebuah foto Diandra yang sedang tertidur bersama seorang laki-laki di sampingnya.
Tentu saja semua itu menjadi bahan pergunjingan para tamu yang sudah datang.
"Enggak! Ayah, semua itu gak benar, aku tidak pernah berbuat seperti itu!" bantah Diandra.
Sekarang dia tahu apa arti dari pion sebuah balas dendam. Ternyata ini adalah rencana dari Eric yang sesungguhnya. Menjadikannya sebagai korban untuk mengotori nama baik keluarganya terutama ayahnya.
Di saat suasana semakin kacau, tiba-tiba suara panik Lisna terdengar dari arah belakang.
"Bu, bangun, Bu! Bu, bangun! Sadar, Bu, Istigfar!" panik Lisna sambil terduduk menahan ibu mertuanya yang tiba-tiba tidak sadarkan diri.
Eros dan Diandra pun langsung berlari menghampiri keberadaan Lisna, mereka kembali dibuat terkejut dengan keadaan yang terjadi.
"Ayo kita bawa, Ibu, ke rumah sakit sekarang," ujar Eros, sambil membawa sang ibu.
"Aku ikut!" ujar Diandra, menatap khawatir neneknya yang tidak sadarkan diri.
"Kamu tidak usah ikut, urus saja di sini," ujar dingin Eros, membuat hati Diandra semakin hancur.
......................
Siapa yang penasaran sama luka hati Diandra? Yuk kita kupas dulu ya, biar Gio bisa menemukan cara untuk menaklukannya🤭
Jangan lupa Komen👍
...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...
__ADS_1