Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Tidak marah


__ADS_3

...Happy Reading...


......................


Diandra menghembuskan napasnya begitu dia melihat Gio yang sedang duduk di dekat sepeda mereka terparkir. Ternyata laki-laki itu tidak meninggalkannya, walaupun terlihat sekali amarah dari wajahnya.


Baru kali ini dia tidak tahan dengan perkataan orang tentangnya hingga berani untuk melakukan sesuatu secara langsung. Ternyata cukup seru dan melegakan, walaupun sepertinya perkataannya yang sangat kasar bisa menjadi pisau dengan dua mata tajam, saat dilontarkan pada orang yang salah.


Dia bisa saja terkena masalah, saat dirinya berkata seperti itu pada orang yang lebih kuat dibandingkan dengannya. Untung saja untuk saat ini dia hanya berbicara pada pegawai hotel.


Flash back off


"Akh!" Karena melamun, Diandra tidak sadar telah menumpahkan kuah seafood asam manis yang masih panas ke tangannya.


Gio yang baru saja sampai di pintu dapur langsung berlari menghampirinya, dengan wajah panik dia mengambil tangan Diandra.


"Kamu ini ceroboh banget sih," ujar Gio sambil membawa tangan Diandra ke bawah keran washtafel dapur, lalu membiarkannya terguyur air, sebagai pertolongan pertama.


"Kamu, marah?" tanya Diandra, dia malah lebih memperhatikan sikap Gio yang terlihat dingin, dibandingkan tangannya yang memerah dan terasa panas.


Gio menatap Diandra dia benar-benar merasa khawatir Diandra akan terluka karena tersiram kuah panas. Akan tetapi, ternyata perempuan itu malah lebih mengkhawatirkan sikapnya.


"Aku gak marah sama kamu, sayang. Aku hanya takut salah mengucapkan kata, saat sedang emosi. makanya aku memilih diam," jawab Gio kembali menatap Diandra lembut.


"Bener, kamu gak marah?" tanya Diandra lagi memastikan. Raut wajah takut terlihat jelas, membuat Gio tersenyum lembut.


"Iya, sayang. Maaf ya, aku tadi sempat mendiamkan kamu," ujar Gio, sambil mengangguk samar. Tatapannya kembali melembut, wajahnya pun sudah kembali seperti semula.


Diandra tersenyum tipis, hatinya merasa lega saat mendengar penjelasan Gio. Entah mengapa dia merasakan takut saat melihat Gio marah seperti tadi.


"Sakit gak?" tanya Gio sambil meniup punggung tangan Diandra yang tampak memerah. Salah saya tangannya menutup kran air.


"Enggak kok, cuman agak terasa panas aja," jawab Diandra, sambil mengalihkan pandangannya pada punggung tangan yang terlihat sedikit memerah.

__ADS_1


"Kenapa sih kamu itu ceroboh banget, mindahin makanan aja sampe kesiram begini tangannya. Seneng banget bikin aku khawatir," gerutu Gio sambil memperhatikan luka Diandra yang sebenarnya tidak apa-apa juga.


"Ada obat luka bakar gak?" tanya Gio.


"Ada, di kotak P3K," jawab Diandra.


"Kamu duduk di sini dulu, aku bawain kotak P3K," ujar Gio sambil menarik kursi untuk Diandra duduk.


Diandra duduk di kursi yan disiapkan oleh Gio, dia melihat suaminya yang berlari ke ruang tengah untuk mengambil kotak P3K itu di dekat televisi, lalu kembali berlari kembali kepadanya.


"Sini, aku obatin dulu," ujar Gio sambil mengambil tangan Diandra dan mengoleskan salep pada lukanya.


Dengan telaten dia mengobati luka kecil yang diderita Diandra. Padahal jika dirinya yang terluka, Gio akan mengabaikannya, sama seperti beberapa hari yang lalu.


"Sudah, ini udah gak sakit kok. Aku siapin makanan untuk kamu dulu, ini udah telat banget dari waktu makan siang," ujar Diandra, sambil sedikit menarik tangannya.


Sebenarnya semua itu hanya alasan, karena Diandra sudah tidak bisa lagi mengendalikan detak jantungnya yang terus bertalu tak menentu.


Padahal di dalam hati, dia sangat senang melihat Gio yang begitu perhatian kepadanya, hingga rasanya pertahanan yang dirinya buat kini kembali goyah.


"Kamu duduk aja, aku yang akan menyiapkan semuanya." Gio langsung beranjak dan mengambil piring lalu menuangkan nasinya, dia juga lebih dulu mengambil air yang belum sempat Diandra siapkan sebelumnya.


Akhirnya makan siang yang penuh dengan perjuangan dan drama bisa terlaksana juga, walau ujung-ujungnya makan di rumah juga.


.


.


Malam harinya Gio mendapatkan telepon dari seseorang, dia melihat Diandea yang sudah terlelap di sampingnya. Perlahan dia beranjak dari tempat tidur lalu pergi ke luar dari mereka berdua.


"Halo, Ran," sapanya pada sang penelpon yang ternyata adalah Randi.


"Aku sudah memberikan pelajaran pada kelima orang itu. Ternyata selama ini mereka memiliki banyak hutang pada rentenir dan sering membuat masalah di tempat kerjanya. Aku yakin besok pagi, mereka akan terkejut dengan kejutan yang kita siapkan." Terdengar suara Randi yang begitu yakin.

__ADS_1


Gio tersenyum saat mendapat laporan tentang kelima orang tidak tahu malu itu. Setidaknya sedikit dari orang yang berani membicarakan dan menyebarkan gosip tentang Diandra, tidak akan berani berbicara lagi setelah kejadian besok pagi.


Orang-orang awam yang sama sekali tidak mengetahui betapa luasnya kekuasaan yang Gio punya, akan segera membuka mata dan berpikir seribu kali terlebih dahulu, sebelum berbicara tentang Gio maupun Diandra.


"Oke, thank you. Kamu memang selalu jadi yang terbaik," puji Gio merasa puas dengan pekerjaan Randi yang selalu cepat dan rapih.


Ya, tadi siang setelah mereka kembali dari rastoran, dia menelepon Randi, memberikan perintah untuk mencari kelemahan kelima orang itu dan memberikan pelajaran karena mulutnya tidak bisa dijaga.


Apa yang dilakukan Randi pada mereka? Gio tidak tahu dan tidakpmau tahu, yang penting hatinya merasa puas dengan pekerjaan asistennya itu.


Telepon terputus begitu saja, besok setelah sarapan mereka harus berangkat ke Bandung, sedangkan kini jam sudah menunjukan pukul satu dini hari sedangkan Randi belum tidur sama sekali, padahal dia akan menyetir untuk Gio dan Diandra.


Gio tidak langsung masuk, dia berjalan lebih dulu ke dapur, untuk mengambil air, takut Diandra terbangun dan akan bertanya alasan dia meninggalkan kamar.


Perlahan dia masuk kembali, pandangannya mengedar memastikan Diandra masih tertidur di atas ranjang. Lalu, berjalan santai dan duduk kembali di sisi ranjang yang berlawanan dengan Diandra.


Menaruh gelas di atas nakas kemudian kembali merebahkan tubuhnya di samping istrinya. Gio tersenyum melihat wajah polos Diandra saat sedang tertidur.


Ujung jari telunjuknya untuk menyingkirkan rambut Diandra yang tampak menghalangi wajahnya, kemudian tersneyum lembut.


"Selamat malam, sayang. Semoga mimpi indah," gumam Gio kemudian mencium kening Diandra dengan lembut.


Gio kemudian mengangkat sedikit kepalanya lalu merebahkannya di atas tangannya. Sedangkan satu tangan lagi memeluk erat tubuh Diandra bagaikan sebuah guling.


Berada di posisi ini selalu membuat hatinya tenang. Walaupun dirinya belum bisa meminta lebih pada istrinya, setidaknya Diandra tidak pernah menolak bila dia ingin memeluknya.


Diandra yang merasa terusik hanya membuka matanya sekilas lalu membalas pelukan Gio, dia juga menelusupkan wajahnya pada dada bidang suaminya, mencari kenyamanan yang sempat hilang beberapa saat.


Gio tersenyum mendapati balasan dari Diandra. Dia kembali mencium wajah istrinya sebelum akhirnya menutup mata dan ikut terlelap, dengan perasaan yang senang dan tenang.


......................


Biarkan peringatan untuk para penggosip itu hanya menjadi sebuah misteri bagi Randi.

__ADS_1


...🌹🌹🌹🌹🌹...


__ADS_2