
...Happy Reading...
..................
Diandra langsung masuk ke dalam mobil, di mana Rani tengah bersandar di kursi tengah.
"Kamu gak apa-apa kan? Apa ada yang sakit? Kita ke rumah sakit dulu, kamu harus segera diperiksa," cerocos Diandra sambil memeriksa seluruh tubuh adik kembarnya itu.
"Aku baik-baik saja, Kak. Terima kasih, Kakak, sudah mau membantuku untuk lepas dari para orang-orang jahat itu," jawab Rani, dengan mata yang sudah berkaca-kaca, suaranya terdengar lirih dan menyayat hati.
Diandra terdiam, setelah sekian lama, Ana memanggilnya Kakak lagi padanya, seperti panggilan mereka saat masih kecil.
Diandra menatap wajah penuh kepedihan adiknya, dia tidak pernah menyangka kalau adiknya akan mengalami hidup yang sangat menyedihkan seperti sekarang.
Mereka memang bukan kembar identik, yang kata orang bisa saling merasakan rasa sakit. Akan tetapi, selama ini dia juga tidak bisa hidup dengan tenang, hatinya selalu merasa sesak, seakan ada sesuatu yang menggenjal dan menghalangi kebahgiaannya.
Sekarang Diandra mengerti, mungkin sebenarnya dia juga merasakan rasa sakit yang diderita oleh Ana. Akan tetapi, karena dia tidak tahu apa yang terjadi pada Ana, dia hanya bisa bertanya dan menganggap semua rasa sakitnya karena kejadian di masa lalu.
"Maafkan aku, Ana. Aku memang kakak yang tidak berguna ... aku bahkan tidak bisa menjaga kamu dan Ares sebagai adikku," ujar Diandra dengan isak tangis tertahan.
"Aku gagal menjadi seorang kakak," sambung Diandra lagi.
Ana menggeleng, mereka masih saling memeluk dengan erat, Diandra bahkan tidak perduli kalau bajunya ikut basah karena menempel pada baju Ana.
"Kakak, tidak pernah salah ataupun gagal menjadi Kakak kami. Kakak, adalah kakak yang sempurna untuk aku dan Ares," bantah Ana.
"Maafkan aku, karena selama ini selalu menyusahkan, Kakak," sambung Ana lagi.
"Kalian adikku, aku tidak pernah sekali pun merasa disusahkan oleh kalian," jawab Diandra.
Tangis keduanya pecah, selama tiga tahun lebih terpisah, hingga akhirnya bertemu dalam kondisi yang memaksa keduanya untuk menahan rasa rindu, dan baru kali ini para wanita itu bisa melepaskan rasa rindu yang sudah terpendam begitu lama.
Gio, Randi, dan anak buah yang ikut dalam misi ini, tampak masih menunggu di luar mobil, mereka sengaja memberikan waktu dan ruang kepada kedua saudara kembar itu untuk saling mengungkapkan rasa rindu.
"Bisakah lain kali, kamu mengabari aku dulu kalau mau merencanakan sesuatu? Kamu tau, aku hampir saja terkena serangan jantung, saat mengetahui kamu melakukan rencana sendirian," gerutu Randi, kini keduanya tengah bersandar pada kap mobil bagian depan.
"Yang penting kan kamu tidak benar-benar terkena serangan jantung," jawab Gio dengan santainya.
__ADS_1
Randi mendengus, bosnya ini memang menyebalkan, dia bahkan tidak meminta maaf, karena sudah membuat Randi mengemudi dengan kesetanan dan harus mengurus istrinya yang sangat merepotkan.
"Aku tau kamu pintar, jadi walaupun aku gak ngasih tau, kamu pasti tau aku ada di mana," ujar Gio lagi, entah itu perkataan pujian atau malah sebuah ejekkan.
"Lagipula, ponselku hilang sejak semalam, sepertinya terjatuh saat menemui Renggo," sambung Gio, yang membuat Randi langsung menoleh melihat wajah santai Gio.
Gio melihat sekilas pada asistennya lalu menatap lurus ke depan lagi. "Tenang saja, tidak ada yang bisa diakses di alam ponselku, semuanya sudah diurus oleh tim IT, begitu aku menyadari ponselku hilang."
Randi menghembuskan napas lega, mendengar penjelasan Gio. Bukan apa, dirinya tahu kalau di dalam ponsel Gio terdapat beberapa berkas penting perusahaan, juga email yang menyimpan banyak data rahasia pun ada di sana.
Dia tidak bisa membayangkan kalau sampai ponsel itu jatuh pada seseorang seperti Renggo yang haus akan harta. Bisa-bisa dia memanfaatkannya untuk mengeruk uang dari Gio.
Sementara itu, dia dalam mobil, Diandra melepaskan pelukannya, dia mengusap air mata yang membasahi wajah sang adik. Bibirnya tampak tertarik ke atas, mencoba menghibur hati yang pasti masih dilanda kesedihan itu.
"Bagaimana dengan anakku, Kak? Apa dia baik-baik saja?" tanya Ana.
Diandra tersenyum kemudian mengangguk. "Aku yakin, saat ini dia sudah berada di vila, bersama Bi Minah."
"Benarkah? Kakak, juga menemukan anakku?" tanya Ana dengan wajah penuh semangat.
Diandra mengangguk samar, ingatannya kembali pada saat dirinya dan Randi meninggalkan vila.
...***...
Diandar tampak menoleh ke belakang, dia kemudian mengangguk.
"Mereka adalah anak buah dari Cleo, wanita yang telah membeli adikmu dari rentenir," ujar Randi, yang membuat Diandra membulatkan matanya.
"Jadi, mereka mengawasi vila? Sejak kapan?" tanya Diandra.
"Entah. Tapi, aku sudah melihat mereka saat datang ke sini," jawab Randi.
"Tunggu ... tadi kamu bilang apa? Membeli? Maksud kamu Ana dijual?" tanya Diandra menuntut penjelasan dari Randi.
Ah, sial! Ternyata selama ini Gio belum membicarakan ini dengan istrinya, dan sekarang dia malah mengungkapnya dan terpaksa harus menjelaskan pada wanita di sebelahnya.
"Oke, aku akan menjelaskan. Tapi, aku mempunyai syarat," ujar Randi. Dia tidak mempunyai pilihan lain selain menjelaskan semuanya.
__ADS_1
"Apa syaratnya?" Diandra langsung bertanya, dia tidak ingin membuang waktu untuk mengetahui kebenaran yang selama ini suaminya tutupi darinya.
"Jangan menyela ucapanku, apa pun yang ingin kamu tanyakna, hanya boleh kamu utarakan setelah aku selesai," jawab Randi tegas.
"Aku setuju!" balas Diandra tidka kalah tegas dari Randi.
Randi pun menceritakan semua yang terjadi pada Ana, berdasarkan apa yang dia temukan selama penyidikannya bersama Gio. Tentu saja hanya intinya saja, dengan beberapa hal yang dia tutupi, untuk menghindari keretakkan rumah tangga bosnya.
Diandra termenung, dia tidak bertanya apa pun setelah Randi menyelesaikan ceritanya. Semua itu begitu mengejutkan dan melukai hatinya, dia tidak pernah menyangka kalau Ana mengalami hidup yang begitu berat, di saat memutuskan ke luar dari rumah tiga tahun yang lalu.
Di saat itu, ponsel Randi kembali berdering. Ternyata itu adalah pesan yang menunjukan sebuah lokasi, yang disertai oleh keterangan di bawahnya.
...Itu adalah lokasi keberadaan anak Rani, kamu bertugas untuk merebutnya dari Cleo, dan bawa anak itu dengan keadaan selamat. ...
Randi berdecak saat membaca pesan itu, dia tahu itu adalah gaya Gio dalam memerintah para anak buahnya, termasuk dirinya sendiri.
Entah apa yang dipikirkan oleh bosnya itu, sampai dengan santainya dia mengirimkan sebuah perintah, setelah hampir setengah hari ini membuat dirinya khawatir setengah mati.
"Kamu bawa ponsel?" tanya Randi, menyadarkan Diandra dari keterkejutannya.
"Bawa," jawab Diandra sambil mengeluarkan ponselnya dari saku.
"Buka pesan dariku, cari jalan pintas untuk menuju tempat itu, perintah Randi. Sepertinya saat ini dia tidak perduli dengan status Diandra sebagai istri Gio.
"Apa ini lokasi Gio?" tanya Diandra sambil mulai mengotak-atik ponslenya.
"Bukan. Itu lokasi keponakanmu," jawab Randi sambil terus melajukan mobilnya semakin kencang. Laki-laki itu juga sesekali tampak berkomunikasi melalui ear phone di telinganya.
"Keponakakanku? Anaknya Ana?" tanya Diandra, sepertinya otaknya sedikit lambat saat ini.
"Terus siapa lagi?" tanya Randi kesal.
Diandra hanya berdecak saat mendengar pertanyaan sarkas dari asisten suaminya itu. Ingin marah dan memaki, akan tetapi, ini bukan waktu yang tepat.
Sepanjang perjalanan menuju lokasi yang diberikan Gio, Randi menjelaskan rencananya untuk menyelamatkan anak dari Ana, setelah dia sendiri diberikan instruksi oleh anak buah Gio yang lainnya.
Sedangkan anak buah yang dibawa oleh Randi dari Jakarta, mulai mengalihkan perhatian anak buah Cleo, hingga mereka tidak lagi mengikuti mobil Randi dan Diandra.
__ADS_1
...***...
Misi penyelamatan anak Ana, akan berlanjut di bab berikutnya yaðŸ¤