Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Uring-uringan


__ADS_3

...Happy Reading ...


......................


"Aku mau sendiri," lirih Diandra setelah dirinya terlihat lebih tenang.


Gio mengernyit, dia menatap Diandra dengan sorot mata khawatir.


"Sayang," protes Gio, tidak mau meninggalkan istrinya dalam keadaan seperti ini.


"Aku butuh waktu sendiri," ujar Diandra lagi, sambil melepaskan tangan Gio dari pinggannya.


Diandra duduk menyandar di kepala ranjang, pikiran dan hatinya kacau, dia butuh menenangkan diri sendiri dulu. Kejadian ini terlalu mengguncang hati dan pikirannya.


Gio menatap prihatin wajah istrinya, dia masih merasa enggan untuk meninggalkan Diandra sendiri.


Namun, dalam hati Gio juga tau kalau istrinya sedang membutuhkan ketenangan. Hingga dengan berat hati akhirnya dia mengangguk samar.


"Baiklah, aku ke luar dulu, ngambil sarapan. Kamu harus tetap makan walaupun sedang ada masalah," jawab Gio, sambil duduk bersandar di samping Diandra.


"Aku gak lapar," ujar Diandra malah menolehkan wajahnya, menatap jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan hutan di belakang vila.


"Tapi, sayang," debat Gio, tangannya terulur hendak mengusap wajah sembap istrinya.


"Aku hanya butuh sendiri. Aku mohon," ujar Diandra dengan panuh penekanan di setiap katanya.


Gio tampak terdiam, tangannya pun hanya menggantung di udara, dia memilih menariknya kembali. Baru kali ini dia melihat Diandra dalam keadaan seperti ini. Selama ini Diandra akan tetap bersikap tenang jika sedang menghadapi masalah.


Diandra bahkan masih bisa terlihat kuat saat Ares terluka di dalam kebakaran. Begitu juga pada saat Jonas memberikan ancaman.


Namun, saat dia bertemu perempuan yang mempunyai wajah mirip dengannya dan disangka adik kembarnya. Diandra seakan tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri, semua pertahannya runtuh dalam sekejap.


Gio tidak pernah menyangka kalau ternyata begitu besar pengaruh Diana di dalam hidup Diandra. Mungkin karena mereka kembar, jadi ikatan batin di antara keduanya lebih dalam dibandingkan dengan yang lainnya.


"Baiklah, aku ke luar dulu. Kalau kamu butuh sesuatu panggil aku saja, aku ada di luar."


Diandra hanya mengangguk tanpa mau menolehkan wajahnya untuk menatap wajah sang suami. Air di pelupuk mata kembali terkumpul, hingga hampir tumpah.


Akhirnya Gio menyerah, dia beranjak dari tempat tidur dan berdiri kembali. Laki-laki itu tampak melihat sekali lagi pada istrinya yang sedang duduk memunggunginya, lalu berjalan pergi ke luar dari kamar.

__ADS_1


Sementara itu di meja makan Randi sedang menikmati sarapan paginya, tanpa kedua bosnya yang sedang tertimpa masalah itu.


Bukannya Randi tidak perduli pada kedua bosnya itu. Akan tetapi, dia harus makan yang banyak untuk mengerjakan tugas dadakan, yang pasti untuk menyelesaikan masalah Gio dan Diandra.


Walaupun sampai sekarang dia belum mendapat penjelasan yang pasti, sebenarnya masalah apa yang sedang terjadi. Akan tetapi, dia tetap saja harus wasapada dengan apa saja kemungkinan yang akan terjadi.


Ternyata kesenangannya menikmati sarapan tidak berlangsung lama, Randi dikagetkan dengan kedatangan Gio yang tampak kacau dan uring-uringan.


Ya ampun, bisa tidak dia datang sebentar lagi, setidaknya sampai aku menyelesaikan sarapanku, gerutu Randi di dalam hati.


Dia menatap wajah kacau dengan baju dan rambut berantakan bosnya. Itu semua pemandangan langka dari seorang Gio. Biasanya dia selalu tampil rapih dan tentu saja tampan, walaupun hanya di dalam rumah.


"Udah dapet informasi?" tanya Gio sambil menghela napas lelah, duduk bersandar lemas di kursi.


Ck, aku saja belum tau masalahnya apa, mana bisa dapat informasi, decak Randi di dalam hati.


"Informasi apa?" tanyanya malas, dia masih asik melanjutkan sarapannya.


Gio menatap tajam asisten sekaligus temannya itu.


"Bukannya aku udah suruh kamu mencari informasi tadi pagi?" geram Gio, menatap tajam wajah Randi.


Hatinya ikut kesal dan kacau, karena Diandra yang mengusirnya dari kamar. Entah bagaimana sekarang kondisi istrinya di dalam kamar? Dirinya sangat khawatir pada perempuan itu.


"Kamu cuman nyuruh aku menemui Bi Minah sama perempuan itu, tanpa memberi tau masalahnya. Ya, mana aku tau harus cari informasi apa?" jawab Randi santai.  Dia kemudian menyuapkan lagi nasi goreng buatan Bi Minah.


"Astaga, Randi! Dasar B*doh!" umpat Gio, dia malah melampiaskan kekesalannya pada sang asisten.


Randi menghembuskan napas lelah, tanpa menjawab umpatan dari Gio. Dia sudah terbiasa dengan sikap Gio saat suasana hatinya sedang tidak baik.


Ya ampun, apa lagi sih yang dilakukan Diandra? Sampe bisa membuat laki-laki casanova ini uring-uringan begini! decak Randi, merasa kesal kepada pasangan suami istri itu.


Walau begitu dia juga bersyukur dengan adanya Diandra. Karena perempuan itu mampu merubah Gio semakin lebih baik lagi.


Kemarahan Gio yang ini masih termasuk biasa saja, jika dibandingkan saat Gio belum mengenal Diandra. Laki-laki yang dijuluki casanova itu bahkan sering minum-minum, saat sedang ada maslah.


Semua keburukan Gio tentu saja harus diurus dengan rapi oleh Randi, dia yang menemani Randi minum, memastikan wanita yang akan menghabiskan malam dengan Gio adalah wanita yang sehat dan menggunakan pengaman, juga membereskan jejaknya, hingga tidak terendus oleh media masa, dan keluarga dari Gio sendiri.


Ya, memastikan nama baik keluarga Purnomo tetap bersih, adalah salah satu kewajiban yang harus Randi kerjakan.

__ADS_1


Saat ini, tugas Randi dalam menangani Gio sudah jauh berkurang dari biasanya. Tentu saja itu semua karena keberadaan Diandra yang mampu merubah laki-laki brengsek itu menjadi laki-laki bucin yang mau melakukan apa pun demi satu perempuan yang sangat dicintainya.


Walaupun, kini Dirinya dan Gio malah sibuk mengurus permasalahan perempuan itu, dibandingkan dengan bisnis yang mereka kelola.


Gio tampak menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari keberadaan Bi Minah ataupun Mang Aan. Setelah memastikan mereka tidak ada, dia kembali mengalihkan pandangannya pada sang asisten.


"Cepat habiskan makanmu, aku tunggu di ruang kerja," ujar Gio, dia menenggak air putih sampai tandas lalu berjalan pergi meninggalkan Randi.


Dirinya juga tidak berselera makan, karena masalah tadi pagi yang terlihat sangat mengganggu istrinya itu.


Masalah ini juga mengganggu rencananya untuk mengajak Diandra jalan-jalan di sekitar Bandung, sebelum membawanya bertemu dengan seluruh keluarganya di Jakarta.


Akh, itu sangat mengesalkan, karena kini Gio harus mengatur ulang jadwalnya. Mengingat sepertinya masalah ini akan cukup menguras waktu.


Randi hanya mengangguk, dia mempercepat sarapannya, lalu menghampiri Gio yang menunggunya di dalam ruang kerjanya.


.


.


Setelah Gio ke luar dan pintu kembali ditutup dengan rapat, Diandra berjalan perlahan menuju balkon kamar itu, pandangannya tampak kosong, dengan pikiran yang terus melayang, mengingat masa-masa dirinya bersama dengan Diana.


Duduk di kursi yang terbuat dari bambu, menatap lebatnya hutan di belakang vila. Kemarin malam Gio bercerita kalau beberapa hektar tanah di sekitar vila masih terdaftar sebagai milik keluarganya.


Termasuk hutan buatan di belakang vila. Mereka memang sengaja membuat hutan itu, mengingat sejak dulu kakek Gio menyukai hewan dan neneknya menyukai alam juga tumbuhan.


Dalam hutan itu, banyak binatang yang sengaja dikembangbiakkan dan ada juga hewan liar yang memang sengaja datang sendiri karena banyaknya makanan di hutan buatan itu.


Keluarga Gio memang menugaskan beberapa orang untuk mengurus hewan yang ada di hutan, mereka akan menyebarkan berbagai macam makanan setiap satu hari satu kali, agar para hewan tidak kelaparan.


Angin yang bertiup pelan, terasa dingin menerpa wajahnya, membuat hati Diandra terasa lebih tenang dan membantunya untuk berpikir jernih.


Diandra yang terbiasa berpikir dalam suasana sunyi, seakan terbantu oleh suara-suara yang dihasilkan oleh alam. Itu semua semakin terdengar jelas saat dia menutup matanya.


Angin yang bertiup membuat daun-daun saling bergesekan hingga menimbulkan suara khas pegunungan, disertai berbagai suara hewan dan aroma khas pegunungan, semakin membuat hatinya terasa tenang.


Diandra menikmati semua itu, dia menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi, hingga wajahnya sedikit mendongak. Menghirup napas dalam dan menghembuskannya perlahan.


"Pantas aja kamu betah tinggal di sini. Ini seperti impian kita waktu kecil," gumam Diandra, ingatannya kembali saat mereka berdua masih berusia dua belas tahun. Saat itu mereka sedang menikmati camping bersama dengan beberapa teman sekolahnya.

__ADS_1


....................


Maafkeun kalau waktu up–nya kacau ya, gak tau kenapa dari kemarin malam review–nya lama terus🙏🥺


__ADS_2