Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
YES


__ADS_3

...Happy Reading ...


......................


Diandra kemudian menutup matanya, dia tidak mau kalau sampai hasil dari tes kali ini akan membuahkan hasil yang tidak memuaskan.


"Aku tinggal mandi dulu aja deh," gumam Diandra sambil meletakkan alat tes kehamilan itu di atas washtafel dengan keadaan terbalik.


Meninggalkan rasa penasarannya, Diandra beranjak menuju ke bawah shower, dia mulai mengguyur tubuhnya menggunakan air, merasakan rasa dingin yang menyegarkan di pagi hari.


Beberapa saat menjalankan ritual mandinya, tiba-tiba suara ketukan di pintu kamar terdengar, membuat Diandra bergegas memakai jubah mandi melupakan alat tes kehamilan yang dia taruh di atas washtafel kemudian ke luar dari kamar mandi.


"Iya, sebentar," jawab Diandra, sambil berjalan menuju pintu kamar, kemudian membukanya.


"Mah," ujar Diandra begitu melihat Mama Hana sudah berada di depan kamarnya.


"Kamu udah bangun?" tanya Mama Hana yang langsung diangguki oleh Diandra.


"Ada apa, Mah?" tanya Diandra, sambil membuka lebar pintu agar ibu mertuanya bisa masuk.


Mama Hana masuk ke dalam kamar, kemudian duduk di atas sofa diikuti oleh Diandra yang juga duduk di sampingnya.


"Kamu udah pakai alat tes yang dikasih Erika tadi malam?" tanya Mama Hana lagi.


"Udah, Mah. Tapi, aku juga belum meihat hasilnya," jawab Diandra sambil meringis.


"Loh, memang kenapa?" tanya Mama Hana mengerutkan keningnya.


"Aku takut, Mah. Jadi tadi aku tinggalin mandi dulu." Diandra terlihat gusar.


"Ya udah, yuk Mama temenin lihat, biar kamu gak takut," jawab Mama Hana, memang tangan Diandra untuk mengajaknya berdiri bersama.


"Tapi, Mama jangan kecewa ya, kalau hasilnya gak seperti yang Mama inginkan." Diandra menahan tangan Mama Hana.


"Jangan buruk sangka dulu, sekarang kita lihat dulu saja." Mama Hana beranjak berdiri.


Diandra ikut berdiri, mereka kemudian berjalan bersama ke arah pintu kamar mandi.


"Mama tunggu di sini," ujar Mama Hana, berhenti di depan kamar mandi.


"Mah." Diandra menatap wajah Mama Hana dengan sorot mata ragu.


"Gak apa-apa, Mama gak akan kecewa," ujar Mama Hana memberikan dukungan. Walau mungkin itu tidak dapat ditempati jika memang terjadi. Sungguh, sebagai seorang ibu, dia tentu juga menunggu anak-anaknya memberinya cucu. Apa lagi Gio adalah anak laki-laki satu-satunya.


Diandra pun akhirnya masuk, dia berdiri di depan washtafel, melihat alat tes kehamilan yang sengaja dia simpan terbalik, hingga belum terlihat hasilnya.


Mama Hana tampak melihat Diandra dengan tidak sabar. Walau begitu, wanita paruh baya itu tidak mendesak Diandra, dia hanya terdiam sambil terus menyemangati menantunya itu.


Diandra mengambil alat tes kehamilannya tanpa melihat, dia kemudian berjalan kembali ke luar.


"Bagaimana, sayang?" tanya Mama Hana.

__ADS_1


Diandra menggeleng, membuat wajah Mama Hana terlihat sedikit berubah kecewa, walau secepatnya wanita paruh baya itu berusaha tersenyum lembut, kemudian memeluk tubuh menantunya.


"Gak apa-apa, mungkin ini belum rezeki kamu, sayang. Gak usah dipikirin, ya," ujar Mama Hana sambil memeluk tubuh Diandra.


"Aku belum melihat hasilnya, Mah?" ujar Diandra lirih, dia tidak menyangka kalau mertuanya akan salah paham.


"Kamu belum melihat hasilnya?" tanya Mama Diandra sambil mengurai pelukannya.


Diandra mengangguk. "Aku mau kita liat bareng-bareng," jawab Diandra kemudian.


"Ya udah, ayo kita lihat hasilnya sekarang," ujar Mama Hana, dengan suara berubah kembali semangat.


Diandra memperlihatkan alat tes kehamilan yang sejak tadi dia genggam dalam keadaan terbalik. Mama Hana tampak terlihat begitu berharap, sedangkan Diandra bahkan sudah panas dingin hanya untuk melihat hasilnya.


"Mama, aja yang buka," ujar Diandra.


Mama Hana melihat menantunya, kemudian beralih kembali pada alat tes yang ada di tangan Diandra. Perlahan tangannya membalik alat tes itu hingga menghadap ke atas.


Tubuh Diandra mematung saat melihat tulisan 'YES' di layar kecil itu, yang menjelaskan bahwa hasilnya adalah positif hamil.


"Sayang, selamat, sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ibu," ujar Mama Hana sambil memeluk tubuh Diandra yang masih tampak terkejut, hingga tidak memperlihatkan reaksi apa pun.


Diandra mengedipkan matanya dengan satu tetes air mata lolos begitu saja membasahi pipi kemerahannya.


"Mah, a–aku ...." Diandra masih belum bisa mencerna semua yang terjadi walau tidak bisa dipungkiri jika di dalam hatinya terdapat rasa bahagia yang tidak terkira.


"Terima kasih, sayang. Mama senang banget hari ini," ujar Mama Hana yang masih memeluk Diandra.


"Iya, sayang. Kamu hamil  ... kamu hamil!" jawab Mama Hana sambil mengurai pelukannya, tampak tetes air mata terlihat di ujung matanya, walau bibirnya menampilkan senyum lebar.


Tangis Diandra pecah, entah mengapa rasanya dia tidak bisa menahan air matanya lagi, rasa yang membuncah di dalam membuat dirinya tidak lagi bisa mengendalikan diri. Tubuhnya lemas hingga hampir saja terhuyung, bila Mama Hana tidak menahannya.


"A–aku hamil, Mah," ujarnya lagi, sambil memegang perut bagian bawahnya.


"Iya, sayang. Kamu hamil, ini adalah kabar bahagia untuk keluarga kita, sayang," ujar Mama Hana.


"Duduk dulu, kamu pasti kaget banget, ya," ujar Mama Hana sambil menuntun Diandra untuk duduk di sisi ranjang.


"Tapi, kenapa selama ini aku gak merasakan apa pun, Mah? Kalau ternyata hasil ini salah gimana?" tanya Diandra masih saja khawatir.


Pasalnya selama ini Diandra tidak merasakan apa pun, dia tidak pernah merasa ada yang berbeda dari tubuhnya.


"Itu mungkin terjadi karena kamu sibuk, sayang. Jadi kamu kurang memperhatikan perubahan di dalam tubuh kamu sendiri. Coba saja nanti kamu tanyakan sama Erika atau dokter kandungan kalau sedang periksa," jawab Mama Hana yang langsung diangguki oleh Diandra.


Setelah berhasil menenangkan Diandra kini Mama Hana terlihat ke luar dari kamar sang menantu, tepat saat itu Erika juga datang untuk mengajak Diandra sarapan bersama.


"Mamah, di sini?" tanya Erika, dengan raut wajah bingung. Dia mengira kalau Mama masih ada di kamarnya.


"Iya, kamu ngapain ke sini?" tanya Mama Hana.


"Aku mau ngajak Dian turun untuk sarapan bareng, sekalian mau nanya hasil tes kehamilannya," jawab Erika.

__ADS_1


"Hasilnya positif, Mama udah melihatnya," jawab Mama Hana dengan raut wajah sumringah.


Erika tersenyum tanpa terlihat terkejut sama sekali. "Baguslah kalau gitu, berarti perkiraan aku tadi malam benar," jawab Erika.


Ya, tadi malam saat dia memeriksa Diandra, sebenarnya Erika sudah bisa menebak apa yang adik iparnya itu alami, hanya saja karena dia bukan dokter yang biasa menangani orang hamil, jadi Erika memilih untuk memberikan alat tes kehamilan, untuk lebih memastikan hasilnya.


"Ish, kamu ini. Kalau sudah tau dari semalam kenapa gak kasih tau Mama?" kesal Mama Hana.


"Aku takut salah diagnosa, Mah. Jadi lebih baik Diandra tes aja biar lebih pasti," jawab Erika.


"Ya sudah, aku panggil buat sarapan bareng, terus nanti Dian harus ikut aku ke rumah sakit, untuk melakukan pemeriksaan lainnya. Apa lagi aku dengar Dian mau menyusul Gio ke negara S. Kita harus benar-benar memastikan semuanya baik-baik saja, sebelum Dian berangkat ke sana," jelas Erika.


"Ya sudah, coba kamu aja yang masuk, sepertinya tadi Diandra masih sangat terkejut dengan berita ini, mungkin kalau nanti kamu jelaskan, dia bisa lebih tenang," jawab Mama Hana.


"Kalau gitu aku masuk dulu ya, Mah," ujar Erika kemudian mengetuk pintu perlahan sebelum masuk ke dalam kamar Diandra.


Sedangkan Mama Hana meneruskan langkahnya ke bawah, untuk bergabung bersama yang lainnya, di meja makan.


"Kak, kenapa aku gak merasakan apa-apa?" tanya Diandra langsung saat melihat Erika masuk ke dalam kamarnya.


Erika tersenyum dia masih bisa melihat wajah bingung adik iparnya itu, dan itu pun wajar bagi seorang perempuan yang mengalami kehamilan untuk pertama kalinya. Erika duduk di samping Diandra.


"Gak apa-apa, itu semua kadang terjadi pada sebagian wanita. Nanti biar teman Kakak yang merupakan seorang dokter spesialis Obgyn yang menjelaskan lebih lanjut sama kamu," jawab Erika, sambil tersenyum hangat.


"Selamat ya, Kakak, ikut senang dengan kehamilan kamu," sambung Erika lagi, sambil mengusap perut bagian bawah Diandra.


"Terima kasih, Kak." Diandra tampak berkaca-kaca saat melihat semua perhatian yang diberikan dari keluarga Gio untuknya.


"Ya sudah, kamu pakai baju terus kita sarapan bareng. Nanti kamu harus ikut Kakak ke rumah sakit buat menjalani pemeriksaan lanjutan," ujar Erika, sebelum ke luar dari kamar Diandra.


"Kak Dian! Selamat ya, Aaaa! Aku mau punya keponakan baru!" teriak Gita ketika melihat Diandra menuruni tangga, dia langsung menghambur ke dalam pelukan Diandra, begitu Diandra menginjakkan kakinya di anak tangga terakhir.


"Astaga, Gita, hati-hati jangan ceroboh gitu sama Kakak kamu!" Mama Hana yang melihatnya langsung berteriak memperingatkan anak bungsunya.


"Hehe ... iya, Mah. Aku lupa," jawab Gita sambil memeluk Diandra.


"Dasar, anak itu!" gumam Mama Hana sambil terkekeh.


Diandra hanya tersenyum, sambil membalas pelukan adik iparnya, dia sangat senang saat ini bisa berada di tengah-tengah keluarga Gio yang sangat menyayanginya. Bisa menjadi sumber kebahagiaan bagi mereka adalah hal yang membuatnya juga ikut bahagia.


Melihat tawa dan senyum dari semua orang di rumah ini yang menyambut kabar gembira darinya, membuatnya merasa begitu dicintai dan disayang layaknya keluarga, walau pada dasarnya dia hanyalah seorang menantu.


Melihat semua itu, Diandra jadi teringat pada sang suami, hingga tanpa sadar dia melihat layar ponselnya yang masih terlihat kosong, tanpa ada satu pun notifikasi masuk.


Bagaimana ya reaksi Gio jika dia tahu semua ini? Aku harap ini juga sebuah kabar yang baik untuknya, batin Diandra.


Setelah melakukan sarapan bersama akhirnya Diandra, Erika dan Gita yang super kepo, berangkat menuju ke rumah sakit bersama. Sedangkan suami Erika, berangkat duluan karena ada oprasi mendadak yang harus dia tangani pagi ini.


......................


Nah udah pada puas belum sama hasilnya?😂🤭

__ADS_1


__ADS_2