Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Pulang


__ADS_3

...Happy Reading ...


......................


Diandra mengerjapkan matanya, ketika sinar mata hari pagi yang menembus tirai jendela, mengganggu tidur lelapnya.


Matanya mengernyit, saat menyadari kalau dirinya sudah berada di atas tempat tidur, dia kemudian melihat ke arah meja kerjanya, dia mana di sana sudah terlihat rapi, tanpa ada bekas pekerjaan yang semalam dia kejakan.


Bukannya tadi malam aku sedang mengerjakan berkas di meja, kenapa sekarang aku ada di sini? batin Diandra penuh tanya.


Apa aku mempunyai kebiasaan tidur berjalan sekarang? Diandra kembali bertanya di dalam hati.


Perempuan itu menggeleng cepat, menolak kembali perkataan di dalam hatinya.


Dia memilih untuk beranjak, dan melihat laptop yang dia yakini semalam masih terbuka dan menyala.


Duduk sambil mengumpulkan kesadarannya, dia mulai membuka laptop miliknya itu. Dia pun membuka file yang semalam dia kerjakan.


Namun, kerutan di keningnya semakin dalam, begitu melihat semuanya sudah dikerjakan dengan sangat rapi.

__ADS_1


Suara di luar kamar pun mengalihkan perhatian Diandra, dia menoleh cepat ke arah pintu dan berdiri saat gagang pintu terihat berputar perlahan.


Matanya melebar ketika melihat sosok laki-laki sedang berdiri dengan senyum khasnya, dan nampan di tangan.


"Pagi, sayang. Aku kira kamu masih tidur, makanya aku gak ketuk pintu dulu, maaf ya. Ini aku buat sarapan pagi untuk kamu, mau makan di sini, atau makan di luar aja," cerocos laki-laki itu sambil terus melangkah menghampiri Diandra.


Diandra berdiri mematung dengan mata yang melebar dan mulut sedikit menganga, melihat keberadaan laki-laki itu di rumahnya.


Entah mengapa, saat ini Diandra seakan tidak bisa menggerakkan tubuhnya, hingga membuatnya terlihat seperti perempuan yang berbeda dari biasanya.


"Hei, sayang?" laki-laki itu kini sudah berdiri tepat di depan Diandra, dengan wajah yang hanya berjarak beberapa centimeter saja.


Daindra mengerjapkan matanya dan menggeleng pelan, mengembalikan kesadarannya. Dia kemudian melangkah mundur, kembali memberikan jarak dari laki-laki di depannya.


"Pulang," jawab laki-laki itu, sambil mencuri sedikit kecupan di kening Diandra.


"Pulang?" Diandra mengulang perkataan laki-laki itu dengan kerutan halus di deningnya.


Matanya memicing, melihat tidak suka wajah laki-laki itu.

__ADS_1


"Heem, kamu adalah tempatku pulang. Kalau bukan ke sini, lalu ke mana lagi aku akan pulang, hem?" ujar laki-laki itu.


Diandra tidak bisa menyembunyikan semburat merah di pipinya, saat mendengar perkataan laki-laki yang berstatus sebagai suaminya.


Ada rasa yang tidak bisa Diandra tolak di dalam hatinya, walau secepat kilat dia pun menepisnya kembali.


"Kamu masih mempunya rumah lain dan keluargamu," bantah Diandra, sambil memalingkan wajahnya.


"Ya, tapi istriku ada di sini, dan saat ini hanya istrikulah tempatku pulang." Gio tetap kekeh dengan pemikirannya.


"Terserah!" ujar Diandra, melangkah masuk ke kamar mandi, dengan langkah cepatnya.


Gio menatap kepergian sang istri, dia tersenyum geli saat mengingat semburat merah di pipi Diandra.


"Aku tau, kamu juga merasakan apa yang aku rasakan, sayang. Hanya saja, kamu masih belum menyadarinya," lirih Gio.


Ya, laki-laki itu adalah Gio, yang baru saja pulang malam tadi, setelah menyelesaikan pekerjaannya di kantor pusat, yang berada di ibu kota.


Gio langsung kembali pada tempat istrinya berada, dengan menggunakan pesawat pribadi, malam itu juga, meninggalkan Randi untuk melakukan tugas yang belum sempat dia selesaikan pagi ini.

__ADS_1


...🌹🌹🌹🌹🌹...


...Bersambung...


__ADS_2