Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Datang ke kantor


__ADS_3

...Happy Reading...


......................


Diandra menatap takjub gedung bertingkat yang menjulang tinggi di depannya, seiring dengan berjalannya mobil masuk ke dalam pelataran kantor tersebut.


Sopir Mama yang mengantarkan Diandra menghentikan mobil tepat di depan lobi, dia kemudian turun untuk membuka pintu bagian belakang.


Diandra turun dengan anggun dan aura dingin yang khas dari dirinya membuatnya tampak berkelas bagi sebagian karyawan. Dengan menggunakan pakaian santai, kaos putih polos yang ditambah dengan jaket denim sebagai outer, dipadukan celana denim hitam yang pas membentuk lakuk kakinya yang jenjang, membuat Diandra menjadi bahan perhatian para karyawan.


Tas tote bag berisi kotak bekal untuk sang suami, di tangannya menambah kesan kekinian. Mungkin saat ini Diandra lebih seperti seorang mahasiswa yang sedang mampir ke kantor ayah atau kakaknya.


"Non, saya pamit pergi lagi," ujar sopir setelah Diandra berdiri di pinggir mobil.


"Loh, Bapak, mau pergi lagi?" tanya Diandra.


"Iya, Non. Ibu menyuruh saya menyusul ke acara arisan," jawab Pak Sopir.


Diandra mengembuskan napasnya kemudian mengangguk. "Ya sudah, terima kasih ya, Pak," ujar Diandra yang langsung mendapat anggukkan dari Pak Sopir.


"Heuh, kamu bisa Diandra. Ini hanya sebuah kantor biasa, walaupun memang sebenarnya ini sangat luar biasa," gumamnya menyemangati dirinya sendiri.


Diandra akhirnya memilih masuk sendiri ke kantor perusahaan yang dibangun oleh kakek mertuanya itu, berjalan menuju lobi dengan banyak pandang mata melihatnya.


Ah, untung saja Diandra sudah terbiasa dengan perhatian berlebih seperti ini. Hingga dirinya hanya mengacuhkannya, berpura-pura tidak menyadari semua itu.


Diandra menghampiri meja resepsionis untuk mencari tau di mana ruangan kerja suaminya.


"Permisi, apa Pak Giovano ada di ruangannya?" tanya Diandra tanpa basa-basi.


Seperti biasa Diandra mengangkat dagu dan berbicara penuh percaya diri, seakan ini bukan pertama kalinya dia datang ke sini.


"Kalau boleh tau, Anda, ada perlu apa ya dengan Pak Giovano?" tanya resepsionis itu masih dengan nada ramah.


"Saya hanya ingin memberikan titipan dari Bu Hana," jawab Diandra.


Dia malas untuk mengaku sebagai istrinya Gio lalu nanti akan menimbulkan kehebohan di seluruh lobi kantor. Ah, Diandra malas menghadapi semua itu. Lebih baik dia mencari cara lain saja, agar bisa masuk tanpa memberi tahu statusnya.


Hingga nama sang mertua menjadi jalan pintasnya. Secara Mama Hana adalah istri pemilik perusahaan, jadi mana mungkin ada yang tidak tahu namanya.

__ADS_1


"Oh, sebentar saya tanya ke atas dulu ya, Mba. Silahkan tunggu di kursi tunggu," ujar resepsionis itu, sambil menunjuk deretan bangku tidak jauh dari tempat Diandra berdiri.


Diandra mengikuti arah tangan resepsionis itu, kemudian melihat kembali pada resepsionis.


"Baiklah, terima kasih" ujar Diandra, sebelum berbalik dan berjalan menuju ke salah satu kursi yang ada di sana.


Diandra menunggu beberapa saat, hingga resepsionis itu memanggilnya kembali.


"Mari, saya antar, Anda, ke atas," ujar resepsionis itu, sambil menunjukkan jalan menuju lift.


Dikarenakan sedang waktu istirahat, kotak besi itu terlihat padat, banyak karyawan yang mengantre untuk masuk ke dalamnya.


Pintu lift hampir tertutup dengan Diandra, seorang resepsionis dan banyak karyawan lain di dalamnya. Akan tetapi, sebelum pintu lift itu benar-benar tertutup rapat, seseorang menahan pintu itu, hingga terbuka kembali.


Deg!


Diandra melebarkan mata sekilas saat melihat seorang perempuan yang kini berada di depannya, walau secepat kilat dia kembali menetralkan raut wajahnya.


"Dian? Kita bertemu lagi." Sintia, wanita itu tampak menatap Diandra dari ujung kaki hingga ujung kepala, kemudian tersenyum sinis. Dia  melangkah masuk ke dalam lift dengan percaya diri, lalu berdiri di samping Diandra.


"Iya, kita bertemu lagi," jawab Diandra, tanpa menoleh sedikit pun pada Sintia.


Suara keduanya tidaklah keras, hingga dapat didengar orang di sekitarnya. Akan tetapi, cukup untuk di dengar orang-orang di sampingnya.


"Kamu, ke luar sana. Kamu kan sudah terbiasa lewat tangga darurat!" titah Sintia, sombong.


"Tapi, Bu–" Perempuan muda itu tampak ingin protes karena sejak tadi dia sudah menunggu lift, bahkan kedatangannya lebih dulu bila dibandingkan dengan Diandra.


"Alah, gak usah pake tapi-tapian. Udah, sana ke luar!" Dengan kasar Sintia mendorong perempuan muda dengan banyak plastik di tangannya itu.


Sepertinya perempuan itu, ingin mengantarkan pesanan makan siang para karyawan.


Diandra yang melihat semua itu mengepalkan tangannya, dia tidak suka ada yang bertindak semena-mena di depannya. Akan tetapi, dia juga tidak mau membuat kekacauan di kantor suaminya.


Berpikir cepat, Diandra melihat gantungan kunci di dalam tas milik Sintia. Diam-diam di mengambilnya, lalu melemparkannya ke luar, tanpa ada yang mencegahnya.


"Permisi, sepertinya tadi barang kamu ada yang jatuh di luar," ujar Diandra mengintrupsi pertengkaran antara Sintia dan clening servis itu.


"Hah?! Oh iya, itu punyaku," ujar Sintia lalu ke luar dari dalam lift, untuk mengambil gantungan kunci miliknya.

__ADS_1


Diandra memanfaatkan semua itu untuk menarik petugas clening servis itu, lalu menekan tombol lift, agar pintu tertutup rapat.


"E–eh! Tunggu aku!" teriak Sintia sebelum pintu lift benar-benar tertutup rapat.


"Dasar wanita sialan! Awas kamu, ya!" kesal Sintia karena sudah ditinggalkan.


Diandra tersenyum miring di dalam lift, melihat Sintia tertinggal di luar.


"Wah, kamu hebat banget bisa melawan Bu Sintia, dia kan senior yang sok berkuasa di kantor ini," ujar salah satu karyawan yang berada di samping Diandra.


Diandra menoleh, dia kemudian tersenyum tipis.


"Memang dia siapa?" tanyanya, yang membuat hampir semua orang di dalam lift memperhatikannya.


"Kamu, gak tau siapa dia? Wah, kamu pasti karyawan baru, ya?" tanya karyawan itu lagi.


"Aku memang baru pertama kali datang ke kantor ini, sih," jawab Diandra.


"Wah, karyawan baru. Tapi, udah berani melawan Bu Sintia? Kamu hebat! Kalau boleh tau kamu dari divisi mana? Kita berteman, yuk? Aku adalah salah satu sekretaris direktur di sini," ujar karyawan itu.


Diandra cukup terkejut saat mendengar penuturan perempuan tidak dikenal itu, yang ternyata dia adalah salah satu staf sekretaris di kantor ini.


"Hehe, aku juga baru sih, di kantor ini. Baru kerja dua bulan," sambungnya lagi.


Diandra mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Lalu, siapa wanita tadi?" tanya Diandra lagi. Ah, dia tidak tertarik untuk menjalin pertemanan, dirinya lebih tertarik pada kenyataan kalau Sintia bekerja di kantor suaminya. Itu tidak bisa dibiarkan, dia tidak mau pelakor itu menggoda suaminya.


"Dia adalah senior dari divisi HRD, makanya dia bisa sok berkuasa di kantor ini. Gak tanggung-tanggung, kalau kita punya masalah dengannya, hukumnya potong gaji!" jelas karyawan itu dengan menggebu-gebu.


Hem, sepertinya dia salah satu contoh biang gosip di kantor, batin Diandra menerka perempuan muda di sampingnya.


"Bisa-bisanya Gio menempatkan orang macam Sintia di divisi HRD, enak sekali dia kalau mau korupsi di kantor ini," gumam Diandra tanpa terdengar oleh siapa pun.


Akhirnya lift sampai di lantai paling atas, tempat ruangan Gio dan para staf penting perusahaan berada.


"Loh, kamu juga bekerja di lantai ini? Aku kira kamu dari divisi desain atau pemasaran, soalnya di sana pakaiannya yang paling modis kayak gini," ujar karyawan itu lagi, setelah mereka berdua ke luar dari dalam lift.


"Mbak ini adalah tamu Pak Giovano," jawab resepsionis yang sejak tadi mengantar Diandra.

__ADS_1


"Hah?! Tamu Pak Giovano?" tanya karyawan itu, dengan mata yang melebar.


......................


__ADS_2