Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Mengungkapkan Rindu


__ADS_3

...Happy Reading...


......................


"Aku kangen." Hanya kata itu yang bisa ke luar dari bibir bergetar Diandra.


"Aku juga kangen banget sama kamu, sayang. Kenapa kamu selalu membuat jantungku tidak tenang, hem? Apa kamu tau ... aku bahkan tidak bisa membayangkan jika hidup tanpa ada kamu di sisiku lagi," jawab Gio sambil mengurai pelukannya, dia membelai wajah cantik istrinya yang tampak sembab.


"Ayo, kita ke hotel sekarang, kamu pasti sangat lelah," sambung Gio lagi, sambil melingkarkan tangannya di pinggang sang istri.


"Heem," angguk Diandra, sungguh tubuhnya memang sangat lelah, entah itu karena dia sedang hamil, atau memang karena sudah terlalu banyak yang dia lalui malam ini.


Kejadian pesawat sore tadi sungguh sangat menguras tenanganya. Berusaha tetap terlihat baik-baik saja, padahal ketakutan di dalam dirinya masih belum bisa dia kendalikan.


Walau sekarang Diandra tidak perduli lagi semua itu, bisa menatap wajah suaminya lagi saja membuat dirinya begitu senang. Kini dia hanya ingin segera membersihkan diri dan tidur di ranjang yang nyaman, berbantal tangan sang suami yang begitu dia rindukan.


Jika sebelumnya Diandra akan terus menolak saat Gio berlaku posesif atau romantis di depan umum, kini Diandra hanya membiarkannya.


Setelah mengetahui dirinya hamil, Diandra bahkan menjadi takut jika Gio akan meninggalkannya. Atau bahkan mungkin nanti ada yang mendekatinya. Jadi, Diandra sudah memutuskan untuk membiarkan Gio melakukan semua itu, sebagai pemberitahuan kepada semua orang, bahwa Gio adalah suaminya.


Randi mengambil alih koper Diandra, kemudian mengikuti sepasang suami istri itu, menuju mobilnya terparkir. Ah, lebih tepatnya mobil sewaan selama mereka berada di negara ini.


"Sini, kamu bisa beristirahat selama perjalanan," ujar Gio sambil menepuk dadanya, begitu mereka sudah masuk ke dalam mobil.


Tanpa sungkan Diandra merebahkan kepalanya di dada bidang suaminya. Sambil memejamkan mata, dia sungguh lelah dan ingin segera beristirahat.


Randi yang berada di depan hanya memutar bola matanya, dia sudah mulai terbiasa dengan segala tingkah bucin bosnya itu.


Beberapa saat kemudian mereka sudah sampai di hotel tempat Gio dan Randi menginap. Gio hendak menggendong Diandra, saat wanita itu membuka mata.


"Aku masih bisa jalan sendiri," ujar Diandra sambil menepis tangan Gio.


Randi yang mendengar itu dari depan, hampir saja tidak bisa menahan gelaknya.


Gio mendesah pasrah, dia membiarkan Diandra berjalan sendiri, walau tangannya tidak lepas dari pinggang ramping istrinya.


"Sayang, kamu masuk duluan, aku ada sesuatu yang harus dibicarakan dengan Randi," ujar Gio, saat keduanya sedang berada di depan kamar hotel.


"Heem, aku mau mandi dulu, udah gak enak banget." Diandra langsung masuk ke dalam kamar, setelah berpamitan pada Gio.

__ADS_1


Gio mengangguk dia lebih dulu memasukkan koper ke kamar kemudian kembali menitup pintu. Gio lalu mengalihkan perhatiannya pada Randi yang kini masih menunggunya di luar.


"Sampaikan terima kasihku pada Winda, karena sudah menjaga istriku selama perjalanan," ujar Gio, pada Randi.


"Iya, nanti aku sampaikan," jawab Randi.


"Kamu nanti jadi datang ke tempat wisuda Keyla?" tanya Gio lagi.


"Heem, aku sudah janji padanya, lagi pula nanti siang kamu gak ada acara sampai malam," angguk Randi, dengan senyum tipis di wajahnya.


"Halah, alasan saja kamu, bilang saja kamu mau ketemu sama dia kan? Dasar kamu, Ran, Ran ... sampai kapan kamu mau memendam perasaan kamu sama dia, heh? Nanti keburu dia diambil orang aja, kamu nangis-nangis," ujar Gio menantap Randi dengan seringai remeh.


"Ck, gak usah sok tau, sana kamu samperin saja istri kesayanganmu, katanya kangen." Randi mendorong tubuh Gio untuk segera masuk ke dalam kamar.


Ya, Winda adalah kakak dari Keyla, satu-satunya teman perempuan Randi sejak mereka bertemu saat Randi dan Gio bersekolah di luar negeri.


Winda adalah Kakak kelas Gio, dan mereka cukup akrab waktu itu, mengingat Winda berada di negara itu cukup lama. Gio sebenarnya hanya memanfaatkan Winda untuk melancarkan balas dendamnya pada wanita masa lalunya.


Namun, tenyata hubungan itu berlanjut, hingga suatu hari mereka bertemu dengan Keyla yang sedang mengunjungi Winda di apartemennya. Sejak saat itu hubungan mereka semakin dekat, terutama Randi dan Keyla, mereka sering ke luar bersama, walau sampai sekarang hubungan mereka masih belum ada kejelasannya.


Itu semua terjadi karena Randi yang tidak kunjung menyatakan rasa cintanya pada Keyla. Apa lagi alasannya jika bukan karena status mereka yang jauh berbeda.


Keyla adalah anak dari salah satu pejabat negara, yang tentunya sangat jauh berbeda dengan Randi. Hingga membuat laki-laki itu masih saja memilih memendam perasaannya.


.


.


Gio mengedarkan pandangannya saat dia masuk ke dalam kamar, tidak ada Diandra di sana, hingga membuat dia langsung membuka pintu kamar mandi dengan panik, bahkan tanpa mengetuknya lebih dulu.


"Sayang!" panggilnya sambil membuka pintu dengan sangat lebar.


"Ya ampun! Gio, apa-apaan kamu, hah?!" kesal Diandra yang telrihat tengah berendam di bathtup penuh busa.


"Sayang, aku kira kamu ke mana," ujar Gio dengan napas memburu, tampaknya kejadian beberapa saat yang lalu masih membuatnya takut kehilangan Diandra.


"Kan tadi aku sudah bilang, kalau aku mau mandi," kesal Diandra sambil merebahkan kembali kepalanya di pinggir bathtub.


"Iya, Maaf, aku lupa," ujar Gio sambil mendekat pada Diandra. Dia mulai membuka bajunya satu per satu.

__ADS_1


"Ya sudah, sana kamu ke luar aja, aku mau berendam dulu sebentar," ujar Diandra sambil mulai menutup matanya, tanpa sadar kalau suaminya sudah berdiri di ujung bathtub.


Dia kemudian melangkah lebih dekat lagi, lalu berjongk di samping Diandra.


"Aku mau di sini," bisik Gio sambil menyingkirkan anak rambut yang terlihat menutupi wajah istrinya.


Diandra mengernyit, dia kemudian mengangkat kepala sambil menatap wajah Gio yang kini hanya berjarak beberapa sentimeter darinya.


"Gio? Ngapain kamu di sini?" tanya Diandra yang belum sadar kalau Gio sudah bertelanjang dada.


"Aku mau menemani kamu di sini, sayang," jawab Gio dengan seringai misterius.


Diandra tampak menatap malas tubuh suaminya, kemudian menghembuskan napas kasar.


"Gio, aku capek." Diandra kembali menutup matanya tanpa menghiraukan suaminya. Dia seakan tahu apa yang akan dilakukan oleh Gio padanya.


"Aku gak akan ngapa-ngapain kok, sayang. Aku cuman mau di sini sama kamu," ujar Gio sambil perlahan mengangkat kepala Diandra dan masuk ke dalam bathtub kemudian duduk di belakang istrinya.


"Kalau kamu bersandar di bathtub nanti kamu malah sakit karena terlalu keras, makanya aku di sini biar kamu lebih nyaman jika bersandar padaku," ujar Gio sambil mengelus lembut pipi istrinya yang masih menutup matanya.


"Heem, terserah kamu saja lah." Diandra bergumam pelan.


Cukup lama mereka berada di kamar mandi, tidak ada hal lebih yang mereka lakukan kecuali mandi bersama. Gio yang tahu kalau istrinya memang sangat lelah, benar-benar hanya menemani Diandra berendam dan mandi bersama, tidak lebih.


Kini Gio berjalan ke luar dari kamar mandi sambil menggendong Diandra ala bridal style.  Perempuan itu tampak nyaman bersandar di dada bidang suaminya.


"Aku mau langsung tidur, mataku ngantuk banget," ujar Diandra, sepertinya tidur sepanjang jalan belum cukup untuknya melepas lelah.


"Rambut kamu masih basah, sayang. Nanti kalau kamu masuk angin gimana? Lebih baik kita keringakan rambut dulu, baru setelah itu kita tidur." Gio berkata lembut.


"Hem, baiklah kalau begitu turunkan aku di sana," tunjuk Diandra di arah sofa.


"Iya, sayang," angguk Gio.


Gio perlahan menurunkan Diandra di sofa, kemudian mengambil alat pengering rambut di koper milik Diandra.


Diandra mencoba membuka matanya yang terasa sudah sangat sulit, hampir semalam ini dia tidak tidur sama sekali, membuat Diandra merasa sangat mengantuk.


"Sini  biar aku keringanan rambutku sendiri," ujar Diandra begitu melihat Gio berjalan ke arahnya dengan membawa alat pengering rambut.

__ADS_1


"Gak usah, biar aku saja yang melakukannya, kamu cukup duduk dengan tenang." Gio kemudian mulai mengeirngkan rambut Diandra.


......................


__ADS_2