Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Bab.29 Lucu


__ADS_3

...Happy Reading...


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


Diandra menahan tawanya, saat melihat penampilan Gio yang baru saja keluar dari kamar mandi.


Lelaki yang mempunyai tubuh hampir sempurna itu, tampak berbeda dan sedikit lucu di mata Diandara.


Ya, walaupun Gio tak memiliki bentuk tubuh bagaikan seorang binaragawan, yang penuh dengan otot yang keras dan perut kotak-kotak yang sempurna.


Namun, keseluruhan tubuhnya memiliki bentuk yang pas, hingga membuat pesona seorang Gio, selalu bisa menarik perhatian para perempuan disekitarnya.


Perutnya tak buncit sama sekali, tangannya juga memiliki otot, walau tak terlalu menonjol. Kulitnya juga tak terlalu putih dan cenderung eksotis.


Namun, seluruh tubuhnya itu, tampak bersih dan terawat dengan baik. Ditambah dengan gaya pakaian yang selalu menunjang ketampanan alami yang ada pada lelaki itu.


Diandra berdecak pelan, saat menyadari kalau baru saja dia memikirkan suaminya itu, bahkan memuji secara tidak langsung.


"Kenapa? Kamu gak suka ya, aku pakai pakaian kayak gini?" tanya Gio, menghampiri Dian yang masih duduk bersandar di atas ranjang.


Diandra tak menjawab, dia hanya megedikkan bahunya acuh, lalu kembali memokuskan dirinya pada ponsel yang ada di tangan.


Lelaki itu melihat penampilannya sendiri, celana yang lumayan sedikit ketat dengan hoody yang terasa pas di badan, membuat dirinya sangat tidak nyaman.


Namun apa mau dikata, entah ke mana asisten pribadinya itu, hingga saat ini dia belum juga mengantarkan baju untuknya.


Menghembuskan napas kasar, Gio memilih untuk ikut duduk di sisi ranjang yang lain, lalu bersandar di samping Diandra, dia pun mengambil ponselnya.


Mencari nomor Randi lalu meneleponnya.


'Untung saja, aku sedang bahagia hari ini, kalau tidak sudah aku potong gajinya bulan ini'


Gio berujar kesal di dalam hati. Karena keterlambatan asistennya itu, dia terpaksa harus memakai pakaian orang lain seperti ini.


"Halo, kamu di mana, Ran?" tanya Gio, begitu teleponnya tersambung.


"Aku baru saja sampai di depan rumah Diandra," jawab Randi yang memang baru saja menghentikan mobilnya di halaman rumah Diandra.


Gio melihat sekilas pada Diandra yang terlihat sibuk dengan ponsel di tangannya.


'Dia pasti gak mau kalau aku minta tolong unttuk bawa baju di depan, apa lagi sepertinya dia sedang sibuk' gumam hati Gio.


Dia kemudian melihat penampilannya sendiri, Gio juga tak mungkin keluar dengan pakaian seperti ini.

__ADS_1


"Antarkan ke kamar, aku tidak bisa ke luar," perintah Gio kemudian.


"Kayaknya ada yang gerak cepat nih. Inget, bos, ini masih sore. Hahaha!"


Randi tertawa, saat mengira kalau Gio sudah melakukan aktifitas suami istri dengan Diandra, hingga bosnya itu tidak bisa keluar kamar.


"Brisik! Gak usah banyak omong, buruan bawa bajuku ke kamar!" perintah Gio dengan nada tegas, sebelum memutus sambungan teleponnya.


Diandra sempat melirik Gio dari ujung matanya, saat lelaki di sampingnya yang selalu bersikap lembut dan penuh canda padanya, berucap tegas untuk yang pertama kali di depannya.


'Ternyata dia bisa bersikap tegas juga' gumam Diandra dalam hati.


'Aku kira hanya bisa pecicilan dan merayu perempuan saja' imbuhnya lagi, masih di dalam hati.


Gio yang baru sadar dengan nada bicaranya yang tinggi di depan sang istri, langsung menaruh ponselnya di atas nakas, lalu beralih pada Diandra.


"Maaf, aku tak bermaksud untuk berbicara kasar di depanmu," ujar Gio.


Diandra melihat Gio dengan alis terangkat satu, kemudian kembali sibuk dengan poonselnya.


Memilih untuk tidak peduli dengan sesuatu yang menurutnya tidak penting itu.


"Dian, apa kamu marah?" tanya Gio, bagaikan lelaki polos, melihat wajah Diandra dengan begitu intens.


"Ck, siapa juga yang marah?"


"Lihat aku," pinta Gio.


Dian teringat kalau lelaki yang berstatus sebagai suaminya itu, tak suka berbicara tanpa menatap wajah.


"Aku sama sekali tidak marah, dan aku juga tak berniat marah kepadamu, okey?" tekan Diandra, dengan menatap mata Gio.


"Sekarang, bisa tidak kamu diam dan jangan ganggu aku dulu?" imbuh Diandra lagi, menatap suaminya itu kesal.


Gio melihat perubahan raut wajah istrinya, dia yakin kalau ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi.


Dia pun akhirnya mengangkat kedua tangannya di samping telinga, sebagai tanda tak akan menganggu Diandra lagi.


"Okey, aku diam sekarang," ujarnya.


Diandra mengangguk, walau dalam hati seperti ada sedikit rasa bersalah, karena sempat membentak lelaki di sampinya itu.


Tok ... tok ... tok ....

__ADS_1


Suara pintu diketuk, mengalihkan perhatian sepasang suami istri itu.


"Itu pasti Randi yang mengantarkan baju ganti aku," ujar Gio, berajak dari tempat tidur untuk membuka pintu.


Benar saja di depan pintu, Randi sudah berdiri dengan senyum mengejek dan paper bag di salah satu tangannya.


"Fffttt," Randi menahan tawanya, begitu melihat pakaian yang melekat pada tubuh bosnya itu.


"Mana?" tanya Gio, tanpa mau menanggapi asisten pribadinya itu.


"Khem ... ini, bos." Randi berdehem terlebih dahulu, untuk menetralkan suaranya. Dia mengulurkan paper bag di tangannya pada Gio.


"Sudah sana pergi, dan thank you untuk ini," ujar Gio, sambil mendorong tubuh Randi menjauh dari pintu kamarnya, sedangkan satu tangan lagi, mengangkat paper bag berisi baju ganti miliknya itu.


"Astaga! Sabar, bos, ini aku juga mau pergi. Mana mau aku jadi nyamuk pengantin baru," gerutu Randi, sambil menjauh beberapa langakah dari pintu kamar bosnya itu.


"Baguslah, kalau kamu sadar diri," ujar Gio, sebelum menutup pintu kamar itu kembali.


"Habis manis sepah dibuang," gerutu Randi sambil berjalan kembali, menuju ke depan rumah.


Bukan tanpa alasan Randi menyangka kalau bosnya itu sudah berhubungan badan. Predikat seorang casanova yang disandang oleh Gio, tentu saja sudah membuat semua orang akan tahu pasti kalau Gio tidak akan bisa menahan hasratnya di depan seorang wanita.


Namun, tanpa disangka dan yang pasti akan mematahkan pikiran kotor orang disekitarnya, kalau sekarang, Gio bahkan sudah bisa menahan semua hasratnya, sejak pertemuannya dengan Diandra, satu bulan yang lalu.


Gio melihat Diandra yang kini terlihat sedang menelepon di depan jendela. Dari percakapannya, dia sudah bisa menebak kalau istrinya itu sedang berbicara dengan Romi.


"Aku, ganti baju dulu," ujarnya, sebelum melangkah ke kamar mandi.


Diandra menoleh sekilas pada Gio, lalu mengangguk, tanpa menanggapi perkataan suaminya itu.


Gio tersenyum kecil, saat Diandra melihatnya sekilas, lalu melangkah menuju kamar mandi dengan paper bag di tangannya.


Setelah melihat pintu kamar mandi tertutup, Diandra kembali beralih pada ponsel ditangannya.


"Bagaimana ini semua bisa terjadi? Apa ada orang yang sekarang sudah mulai dicurigai?" tanya Diandra.


"Aku juga belum menemukan titk terang, apa lagi semua CCTV di bagian dapur tidak berfungsi," jawab Romi dari sebrang sana.


Diandra tampak memijit pangkal hidungnya yang terasa berdenyut.


" Ya sudah, kamu pantau terus penyelidikan polisi untuk kasus ini, jangan sampai ada kecolongan, dan usahakan tidak ada karyawan yang pergi ke luar kota ... tahan mereka sampai penyelidikan selesai dan pelaku ditemukan," perintah Diandra.


Perempuan itu langsung mematikan sambungan teleponnya, saat sudah mendengar persetujuan dari Romi.

__ADS_1


...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...


...Bersambung...


__ADS_2