Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Tetap di sampingku


__ADS_3

...Happy Reading...


.....................


"Tenang saja, sayang, bukannya hasil tesnya sudah kita tukar sebelum ke luar dari ruangan dokter," jawab Gio santai sekaligus mengingatkan Diandra tentang rencana yang sudah mereka bicarakan sebelumnya.


"Oh iya, aku lupa," jawab Diandra sambil tersenyum.


"Lucu banget sih kamu, sayang," gemas Gio, mengusap puncak kepala istrinya.


"Kalian sudah mengetahui siapa orang yang menabrak istriku?" Gio beralih pada earphone di telinganya yang sudah tersambung pada salah satu anak buahnya.


"Sudah, Pak," jawab dari seberang sana.


"Sebagian ikuti dia, dan sebagian lagi tetap berada di belakangku, agar mereka tidak curiga," perintah Gio.


"Baik, Pak."


Gio langsung memutuskan sambungan telpon dengan anak buahnya, lalu pergi dari area parkir restoran itu.


"Jadi anak buah kamu sudah ada yang mengikuti orang itu?" tanya Diandra.


"Iya, semoga saja semua ini berjalan lancar. Jadi, kita bisa mengetahui siapa mereka," jawab Gio.


Diandra mengangguk mantap, dia menatap suaminya dengan rasa haru, dirinya sudah tahu kalau Gio yang membantunya mengatasi Jonas, walaupun dia juga belum mengetahui kalau kecelakaan Gio waktu itu juga disebabkan oleh Jonas.


Sekarang Gio juga membantunya dalam masalah Rani, bahkan tanpa dia harus meminta tolong lebih dulu, suaminya langsung berinisiatif untuk menolongnya lebih dulu.


"Terima kasih," ujar Diandra tiba-tiba.


Gio yang sedang fokus menyetir menoleh untuk melihat wajah istrinya.


"Kenapa, sayang?" tanya Gio, dia malah merasa bingung dengan ucapan istrinya.


"Terima kasih, karena sudah selalu ada untukku," ujar Diandra lagi.


Gio tersenyum lalu mengusap puncak kepala Diandra penuh kasih sayang. "Itu sudah kewajibanku sebagai suami kamu, sayang."


Senyum di wajah Diandra semakin lebar, walau matanya tampak berkaca-kaca.


"Bahkan di saat aku belum menjadi istri kamu yang sempurna, kamu sudah banyak berkorban untukku," ujar Diandra, entah kenapa dia tiba-tiba merasa tidak pantas untuk Gio.


"Kamu sudah menjadi istriku yang sempurna, sejak aku mengucapkan ijab kabul, sayang," bantah Gio dengan suara lembutnya.

__ADS_1


"Kamu pasti bohong. Aku bahkan belum menerima kamu sebagai suami waktu itu, gimana kamu sudah menganggap aku menjadi istri yang sempurna?" Diandra mencebik, dia merasa kalau Gio hanya sedang menghiburnya.


"Aku gak bohong, sayang. Kamu memang sudah menjadi istriku yang sempurna, sejak saat itu. Semua tingkah kamu, selalu membuat aku jatuh cinta semakin dalam sama kamu," jawab Gio.


"Itu mah, napsu, bukan cinta, Gio," tebak Diandra yang mengira Gio hanya melihatnya dari kecantikannya saja.


"Aku bukan laki-laki polos ataupun bodoh yang tidak bisa membedakan cinta dan napsu, sayang. Lagipula kalau memang itu adalah napsu, kenapa kau bisa menahan untuk meminta hak aku sebagai suami kamu sampai kamu mau meyerahkannya sendiri?" jelas Gio dengan sabar.


Diandra terdiam beberapa saat dengan tatapan yang masih terkunci pada wajah tampan suaminya. Dalam hati Diandra menyetujui apa yang dikatakan Gio.


"Apa dariku, yang bisa membuat kamu memilihku? Aku yakin, selama ini kamu tidak kesulitan untuk mendapatkan perempuan untuk dijadikan istrimu," tanya Diandra.


"Aku juga gak tau. Yang jelas, saat aku pertama kali melihat kamu yang berusaha membela diri dari pelecehan malam itu, membuatku mulai tertarik kepada kamu, sayang. Menurut aku seorang perempuan yang rela terluka bahkan kehilangan nyawa demi menjaga harga dirinya sebagai seorang wanita, adalah seseorang yang sangat berharga," jawab Gio panjang lebar.


Kehidupannya yang dikelilingi oleh se*s bebas, membuat dia menganggap semua perempuan mudah tergoda hanya dengan iming-iming harta. Dia sudah sering melihat banyak wanita yang menawarkan diri, untuk menjual keperawananya hanya demi sejumlah uang atau jabatan yang bisa dia berikan.


Ah, mengingat itu Gio jadi merasa jijik kepada dirinya sendiri. Walau semua itu memang tidak bisa dia ubah. Sosok Gio yang brengsek, kini telah menjadi kepingin masa lalunya.


"Maksud kamu, kamu jatuh cinta kepadaku saat kita pertama kali bertemu?" tanya Diandra.


"Mungkin," jawab Gio sambil mengedikkan kedua bahunya.


"Tapi, saat itu bahkan aku tidak sadarkan diri, lalu pagi harinya aku menendang kamu, bahkan aku mengatai kamu dengan kata kasar." Diandra mengingat pertama kalinya mereka bertamu.


"Justru semua itu yang semakin membuatku tertarik padamu. Kamu berbeda dari para perempuan di sekitarku, kamu unik dan sedikit ganas," jawab Gio dengan kerlingan mata, saat kata terakhirnya.


"Dih, dasar aneh, ngapain juga kamu suka sama perempuan yang jelas-jelas membenci kamu?" decak Diandra, jantungnya sudah tidak bisa dikondisiskan sejak beberapa saat yang lalu, dan kini bertambah parah saat suaminya malah menggodanya dengan kerlingan mata.


"Bukankah kita berdua memang aneh? Aku yang jatuh cinta pada gadis yang membenciku, sedangkan kamu perempuan yang membenci laki-laki dengan alasan yang tidak jelas," jawab Gio.


"Aku gak kayak gitu, ya." Diandra tidak terima.


"Hem, kamu memang begitu," debat Gio sambil mengulum senyumnya.


"Ck!" Diandra berdecak kesal.


"Tapi, sekarang kamu sudah tidak lagi membenci aku kan?" tanya Gio, dia melihat Diandra sekilas.


"Aku tidak punya alasan untuk terus benci sama kamu," jawab Diandra, sambil mengedarkan pandangannya, menghindari kontak mata dengan Gio.


"Karena sejak awal kamu memang tidak memiliki alasan, sayang," ujar Gio, mengambil tangan Diandra lalu menariknya ke dadanya, kemudian memberikan kecupan kilas.


"Aku punya alasan." Diandra masih memilih berdebat dengan suaminya.

__ADS_1


"Apa? Coba katakan sekarang?" tanya Gio.


"Aku benci sama laki-laki yang senang mempermainkan perempuan," jawab Diandra tegas.


Gio tersenyum miris lalu kembali mengecup tangan Diandra yang dia genggam. Hatinya sedikit tersentil mendengar perkataan istrinya.


"Jadi itu alasan kamu benci sama aku?" tanya Gio.


"Heem. Aku beberapa kali melihat kamu berjalan dengan perempuan yang berbeda. Ditambah kamu juga mendekatiku di dalam waktu yang sama," jelas Diandra.


Gio mengangguk samar, rasanya dia ingin mengungkapkan apa sebenarnya yang dulu dia lakukan. Akan tetapi, dirinya masih belum mempunyai keberanian untuk jujur pada Diandra tentang masa lalunya.


"Aku mencintai kamu, sayang," ujar Gio tiba-tiba, dia tidak mau menimpali perkataan dari istrinya.


Diandra terdiam, dia masih bingung dengan rasa di dalam hatinya, entah dirinya sudah merasakan cinta, atau hanya sekedar kagum melihat pengorbanan laki-laki itu untuknya.


Diandra hanya tersenyum kemudian mengangguk samar. "Aku tau."


Gio tersenyum kemudian mengecup tangan Diandra kembali.


"Tetaplah disampingku, walau apa pun yang akan terjadi kepada kita. Tetaplah percaya kalau aku mencintai kamu, walau nanti banyak yang meragukan itu. Hanya kamu yang aku butuhkan untuk tetap bertahan," ujar Gio dengan tatapan memohon.


Diandra menatap wajah sendu suaminya, entah ada dorongan dari mana, yang membuat dirinya menganggukkan kepala begitu saja.


"Terima kasih, sayang. Aku cinta padamu, sungguh," ujar Gio dengan senyum harunya, dia mengecup tangan Diandra berulang kali.


Diandra tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca, dia tidak pernah menyangka perbincangan kecil tentang pernikahan mereka, menjadi sesuatu yang berujung serius dan mengharukan seperti ini.


Satu tetes air mata bahkan sempat lolos dari pelupuk, saat dia seolah bisa merasakan betapa tulusnya cinta Gio padanya.


Entah apa yang telah dirinya lakukan di masa lalu, hingga Tuhan bisa mendatangkan seorang laki-laki seperti Gio ke dalam hidupnya. Yang pasti untuk saat ini, dia merasa bahagia berada di samping suaminya, dan bisa dicintai laki-laki seperti Gio.


Diandra merasa bahagia sekaligus bersyukur, karena di tengah masalah yang tengah dihadapi, ada Gio di sampingnya, yang terus membantu dan mendukungnya dengan sekuat tenaga.


Rasanya tidak pantas jika dirinya masih saja bersikeras untuk tidak menerima Gio. Laki-laki itu terlalu sempurna untuk dia sia-siakan begitu saja.


Mungkin mulai saat ini, Diandra akan mencoba untuk mencintainya, walau dia sendiri tidak tahu bagaimana caranya.


...🌹...


Dah lah, Gio memang gak pernah bisa nahan kebucinanya, walaupun di tengah masalah😞😂


.....................

__ADS_1


__ADS_2