
...Happy Reading...
................
"Apa maksud kalian, hah?!" Randi refleks berdiri dari tempat tidur saat mendengar laporan dari salah satu anak buahnya.
"Kenapa kalian baru bilang sekarang, brengsek?!" sarkas Randi, dia langsung menyambar baju dan memakainya asal.
"Maaf, Pak. Kami juga baru mengetahuinya," jawab anak buah Randi dari ujung sambungan telepon.
"Sial!" umpat Randi sambil berlari ke luar kamar. Sambungan telepon pun dia putuskan secara sepihak.
Dia beralih menghubungi nomor milik Gio, sambil terus berjalan cepat menuruni tangga.
"Mau ke mana, Ran, pagi-pagi begini?" tanya Hana yang kebetulan berpapasan dengan Randi.
"Aku ada urusan, Ma," jawab Randi. Dia menghampiri Hana dan mencium punggung tangannya sebelum melanjutkan langkahnya.
"Gak sarapan dulu?" tanya Hana lagi, menahan langkah Randi.
"Gak, Mah!" jawab Randi, tanpa menoleh, dia terus berjalan ke luar dari rumah keluarga Purnomo.
Ya, setelah ayah Gio meninggal, Randi tinggal di kediaman Purnomo, walau terkadang dia juga masih pulang ke apartemen miliknya sendiri.
"Akh, sial!" geram Randi, saat nomor ponsel Gio tidak bisa tersambung.
"Sebagian dari kalian ikut aku, sebagian lagi tetap berjaga di sini!" ujar Randi, memberi instruksi pada anak buahnya.
Tanpa mendengar jawaban dari para anak buahnya, Randi masuk ke dalam mobil dan langsung melajukannya ke luar dari area parkiran.
Para anak buah yang diberikan tugas secara tiba-tiba di hari yang masih pagi, ketar-ketir hingga langsung masuk ke dalam mobil untuk menyusul mobil Randi yang sudah melaju begitu cepat.
Lama mencoba menelepon Gio tanpa tersambung sama sekali, akhirnya Randi memutuskan untuk menelepon Diandra. Dia hanya ingin memastikan apakah Gio ada di rumah atau tidak.
Beberapa kali tak terjawab, akhirnya di panggilan ke tiga terdengar suara Diandra.
Namun, beberapa saat kemudian perasaannya malah semakin tak karuan, saat mendengar Gio sudah tidak ada di rumah.
Randi semakin mempercepat laju mobilnya, saat melihat satu mobil anak buahnya sudah berada di belakangnya. Ingatannya kembali pada percakapannya bersama Gio beberapa hari.
...***...
"Jadi semua benar semua ini ada kaitannya dengan Om Renggo?" tanya Gio di saat keduanya sedang melakukan panggilan video, saat itu dia tahu kalau Gio sedang berada di luar vila.
"Iya, ternyata dia adalah rentenir yang sudah menjual Rani pada Cleo," jawab Randi dengan suara yang mantap tanpa ada keraguan.
__ADS_1
Gio menghembuskan napas kasar, begitu mendengar kenyataan yang membuatnya cukup terpukul. Memejamkan mata dengan kerutan dalam di keningnya.
"Ini gila! Kenapa harus dia rentenirnya? Bagaimana aku menjelaskan semua ini pada Diandra nanti?" geram Gio, dia benar-benar merasa prustasi kali ini.
Randi hanya bisa terdiam, dia juga bingung untuk memberikan saran pada bosnya, mengingat itu memang sudah menjadi masalah keluarga.
Renggo adalah kakak dari Hana, dia adalah seorang rentenir kelas kakap. Sasarannya dalam eminjamkan uang, bukan lagi dari kalangan menengah ke bawah, melainkan orang-orang dari kelas menengah ke atas.
Pinjaman yang mereka ajukan pun tidak main-main jumlahnya, begitu juga dengan bunga yang akan dia dapatkan. Gio dan seluruh keluarganya sudah tahu dengan usaha pamannya itu.
Karena itu juga, Hana melarang anak-anaknya untuk berhubungan deat dengan keluarga kakaknya sendiri.
"Cukup hanya untuk saling mengenal dan tahu kalau mereka adalah saudara. Tanpa berhubungan lebih." Itu kata-kata yang selalu ditekankan oleh Hana kepada anak dan menantunya.
Bukannya dia ingin menjauhkan anak-anaknya dri keluarganya sendiri. Akan tetapi, Hana hanya tidak ingin anaknya terjerumus pada bisnis kotor itu.
Gio tidak pernah menyangka kalau pamannya itu bahkan sudah semakin nekad, hingga menjadi salah satu kolega penjualan manusia, hanya untuk mendapatkan uangnya kembali.
"Apa mereka juga yang menyekap anak Rani?" tanya Gio. Dia belum mempunyai informasi tentang semua ini.
"Bukan, sepertinya anak Rani berada di tangan Cleo dan Zack. Tapi, mereka tidak akan memberikannya begitu saja, kamu tau sendiri bagaimana cara kerja mereka," jawab Randi.
"Ssh ...." Gio berdesis sambil mengacak rambutnya, ini benar-benar masalah besar.
Gio tahu betul bagaimana Zack dan Cleo bekerja selama ini. Mereka tidak akan memandang itu teman atau lawan, bila berurusan dengan para korbannya atau uang.
"Kamu tau, berapa Renggo menjual Rani pada mereka?" tanya Gio lagi.
"Sayangnya, Cleo menolak untuk memberitahuku," jawab Randi lesu.
Gio kembali mendesah, kepalanya semakin pening saat mendengar penjelasan Randi dan akar masalah yang ternyata saling berhubungan dengan keluarganya sendiri.
Gio terdiam cukup lama di depan laptop yang masih tersambung pada Randi, entah apa yang dia pikirkan.
"Kamu sudah menemukan keluarga Hary?" tanya Gio, setelah lama terdiam.
"Ya, mereka berada di negara S. Tapi, kita masih berusaha menemui Hary," jawab Randi.
Gio menganggukkan kepalanya samar, "Kerja bagus. Pastikan dia tahu apa yang dialami Rani, dan berikan hukuman jika memang dia tahu semuanya," perintah Gio.
"Baik!" angguk Randi tegas.
"Aku akan menemui Renggo, untuk memastikan semuanya," ujar Gio tiba-tiba.
"Tapi, Gio–"
__ADS_1
"Aku harus menemuinya, Ran. Setidaknya aku harus tahu berapa kira-kira nominal yang harus aku siapkan untuk menebus anak itu dari Zack dan Cleo." Gio langsung memotong ucapan Randi yang akan mengungkapkan keberatannya.
"Tapi, tidak usah menemuinya juga, Gio." Randi masih merasa keberaan.
"Tenang saja, sekejam apa pun dia, Renggo tetap pamanku. DIa akan berpikir seribu kali untuk mencelakai aku, Ran." Gio seakan tahu apa yang menjadi kekhawatiran asistennya.
"Kalau begitu aku akan mengantarmu!" ujar Randi cepat.
"Kamu harus tetap mengawasi Cleo dan Zack di sana, Ran. Kita harus memastikan kalau anak Rani ada bersama mereka," cegah Gio.
Randi terdiam, dia mengingat tugasnya di sini. Akan tetapi, rasa tanggung jawab sebagai asisten Gio dan kekhawtirannya kini lebih besar.
"Tak apa, aku pastikan aku akan baik-baik saja." Gio berusaha meyakinkan asistennya itu.
Randi tampak membuang napas kasar, sebelum akhirnya mengangguk dengan wajah terpaksa.
...***...
Randi menghembuskan napas kasar sambil mengencangkan genggaman tangannya di stir mobil, dia harus menahan emosinya, mengingat dari semalam Gio belum ada kabar.
Pertemuan Gio dan Renggo memang berjalan lancar, walau Gio berkata ada sedikit perdebatan antara mereka berdua.
Namun, tanpa mereka tahu kalau Renggo malah membuntuti Gio dan mengetahui di mana letak keberadaan Rani. Hingga malam tadi Rani dinyatakan hilang, entah dibawa oleh Renggo atau Zack.
Yang dia tahu, tadi pagi anak buahnya melaporkan kalau Rani menghilang dan Gio tengah berusaha mencari keberadaan Rani sejak malam tadi.
Namun, sejak saat itu Gio bersama beberapa anak buahnya yang ikut bersamanya, tidak bisa dihubungi sama sekali.
Itu lah yang membuat Randi kini dibuat khawatir, terlebih jika mereka tahu kalau Gio telah menikah dengan Diandra. Bisa-bisa wanita itu menjadi kelemahan Gio yang akan menjadi sasaran selanjutnya.
DI tengah perjalanan Randi kembali menghubungi seseorang yang mungkin bisa membantu menemukan posisi Gio saat ini.
"Tolong lacak keberadaan Gio sekarang!" ujarnya setelah terdengar suara seseorang dari seberang sana.
Setelah menempuh sekitar tiga jam perjalanan dari Jakarta ke Bandung, akhirnya Randi sampai ke vila, tempat Diandra berada.
Dengan langkah lebar, Randi masuk ke dalam rumah, untukmencari keberadaan Diandra.
"Bi, di mana Diandra?" tanya Randi.
"Ada di kamarnya, Pak. Neng Dian, menolak makanannya karena tidak ada yang memberitahu ke mana Den Gio pergi," jelas Bi Minah menceritakan apa yang terjadi, dengan raut wajah takut.
Randi mengangguk samar, "Biarkan nanti saya yang akan menjelaskan padanya, Bibi, tenang saja," jawab Randi, kemudian pergi menuju ke lantai dua, di mana kamar Gio dan Diandra berada.
...................
__ADS_1
Panik gak, panik gak? Panik lah, masa enggak, orang Gio ilang😳