
...Happy Reading ...
......................
Setelah sampai di depan ruangan Gio, resepsionis tadi bertanya dahulu pada kepala sekretaris yang ada di depan ruangan Gio.
"Ini tamu yang tadi mencari Pak Giovano," ujar resepsionis tadi pada kepala sekretaris yang ternyata adalah seorang wanita yang masih lumayan muda, mungkin umurnya sudah tiga puluh tahunan. Akan tetapi, cara berpakaiananya yang terlihat sedikit terbuka, membuat Diandra tidak nyaman untuk melihatnya.
Membayangkan Gio bekerja dengan wanita yang memakai pakaian mini seperti itu saja membuat Diandra sudah panas hati. Apa lagi melihatnya langsung? Sudah pasti hatinya akan langsung terbakar api cemburu.
"Oh, tunggu di sana saja. Pak Gio sedang menerima tamu yang lain," jawab kepala sekretaris itu dengan tatapan sinis pada Diandra.
Diandra masih terlihat santai, walau mata tajamnya terus memperhatikan setiap karyawan yang berada di sana.
"Silahkan tunggu di kursi, nanti kalau Pak Giovano sudah bisa menerima tamu, akan dikabari lagi," ujar resepsionis tadi ramah, menunjuk pada sofa yang terdapat di sisi ruangan lainnya.
Diandra mengangguk, dia kemudian duduk di sofa itu, tanpa protes sedikit pun.
"Apa ada yang bisa saya bantu lagi, Mba?" tanya resepsionis itu lagi.
"Tidak ada," jawab Diandra.
"Baiklah, kalau begitu saya pamit kembali ke bawah," ujar resepsionis itu sopan.
"Terima kasih," angguk Diandra.
Sepeninggal resepsionis itu, Diandra menunggu sambil memperhatikan kantor, walau sedang jam istirahat hingga banyak para pekerjanya yang sedang tidak ada di tempat. Akan tetapi, kantor masih terlihat ramai, karena ada beberapa orang yang memilih makan di meja kerjanya, daripada memilih ke luar dari kantor.
"Memang tamu Gio siapa sih? Kok pada saat jam istirahat begini belum ke luar juga," gumam Diandra.
Diandra hendak mengambil ponsel di salah satu saku jaketnya. Akan tetapi, saat mencarinya, dia baru sadar kalau ponselnya sudah tidak ada.
"Apa tertinggal di mobil, ya?" gumam Diandra lagi, dengan kening berkerut.
"Ck, aku harus menunggu di sini sampai kapan?" decak Diandra sudah mulai kesal.
Diandra memilih berdiri, kemudian berjalan menuju sisi ruangan dengan dinding kaca, melihat pemandangan di luar yang membuat matanya malah terasa sakit, karena tinggi dan terik matahari yang membuatnya silau.
"Ck!" Diandra hanya berdecak, mulai merasa bosan.
Sebentar lagi waktu makan siang sudah habis, dia sudah yakin kalau makanannya pasti sudah dingin, karena sudah terlalu lama menunggu.
Lama berpikir akhirnya Diandra kembali menuju meja sekretaris.
"Kalau Randi ada gak? Aku mau menunggu di ruangannya saja," tanya Diandra.
__ADS_1
"Pak Randi sedang ke luar, mungkin sebentar lagi datang," ujar sekretaris itu, dengan wajah malas dan nada suara sinis.
"Kalau begitu aku pinjam teleponnya saja, aku mau menghubungi Gio," ujar Diandra, sudah tidak sabar lagi.
"Tidak bisa, sudah saya bilang Pak Gio sedang ada tamu. Jadi lebih baik, Anda, menunggu saja," cegah sekretaris itu.
"Kamu bahkan belum memberitahu Gio, kalau ku menunggunya!" tekan Diandra menatap sekretaris itu tajam.
"Memang siapa, Anda, sampai aku harus memberitahu Pak Gio? Gak usah sok penting, Mba," ujar remeh kepala sekretaris itu.
"Saya itu–" Belum sempat Diandra melanjutkan perkataannyanya, sekretaris itu langsung memotongnya begitu saja.
"Nah, itu dia Pak Randi," sambungnya lagi ketika bunyi lift khusus terbuka terdengar.
Diandra menatap kesal sekretaris itu, kemudian menoleh cepat pada arah lift, dia menghembuskan napas kasar saat melihat asisten suaminya itu yang baru saja datang, entah dari mana.
Emosinya benar-benar sudah di ujung tanduk saat ini, dia hampir saja menyembur sekretaris itu, jika Randi tidak datang tepat waktu.
Randi yang melihat Diandra di kantor pun melebarkan matanya, dia mempercepat langkahnya menghampiri Diandra.
"Nona? Sedang apa, Anda, di sini?" tanya Randi, begitu dia berada di depan Diandra. Dia sengaja menggunakan bahas formal saat berada di depan para karyawan lainnya.
"Aku mau bertemu atasan kamu, tapi katanya dia sedang menerima tamu," ujar Diandra menatap kesal Randi.
Diandra melihat jam tangan mahal yang melingkar di pergelangan tangannya. "Sekitar tiga puluh menit," jawabnya.
"Ponselku tertinggal di mobil, Mama. Makanya gak bisa telepon," sambung Diandra lagi.
"Mati aku!" decak Randi menepuk keningnya, kemudian menatap tajam pada kepala sekretaris yang berada di meja kerjanya.
Kepala sekretaris itu tampak mengerutkan kening, saat melihat reaksi Randi yang terlihat berlebihan.
"Sebentar saya lihat dulu ke dalam," ujar Randi kemudian.
Diandra mengangguk sambil menghela napas panjang. Ah, benar-benar pengalaman pertama pergi ke kantor suami yang sangat tidak menyenangkan.
Randi masuk ke dalam, di sana memang benar sedang ada tamu, bahkan Gio masih berbicara serius sedang tamu tersebut.
"Permisi, Pak. Apa saya boleh masuk?" tanya Randi setelah membuka pintu.
"Ada apa, Ran?" tanya Gio, mengalihkan pandangannya sekilas pada Randi, kemudian kembali beralih pada berkas di tangannya.
"Pak, ada Bu Diandra, di depan," ujar Randi tanpa ragu, langsung menyebutkan nama Diandra dengan lantang.
"Hah? Kenapa kamu suruh dia nunggu di depan, bawa dia masuk sekarang," ujar Gio langsung, walau terlihat ada keterkejutan dari raut wajah Gio. Akan tetapi, dia masih berusaha terlihat tenang.
__ADS_1
"Baik, Pak," jawab Randi, kemudian ke luar lagi.
"Mari silahkan, Anda, sudah boleh masuk," ujar Randi.
Diandra melirik wajah kepala sekretaris sebelum melangkah lebih dulu menuju ruangan Gio.
"Sepertinya saya harus memeriksa laporan yang kamu bawa lagi. Nanti staf saya akan mengabari lagi, setelah saya selesai memeriksa semua laporan ini," ujar Gio, memutuskan pertemuan mereka kali ini, tepat saat Diandra masuk ke dalam ruanganya.
"Baik, Pak. Saya tunggu kabar dari, Bapak, selanjutnya," jawab tamu Gio, sambil berdiri lalu berjabat tangan dengan Gio.
Namun, saat laki-laki itu berbalik Diandra kembali dikejutkan untuk yang kedua kalinya. Karena ternyata laki-laki yang merupakan tamu Gio adalah Eric, mantan tunangan Diandra.
Ya ampun! Kenapa dunia ini sempit sekali? decak Diandra di dalam hati.
Begitu juga dengan Eric, dia tampak terkejut saat melihat ada Diandra di kantor Gio. Walau begitu baik Diandra dan Eric sama-sama tidak saling menyapa, mereka pura-pura tidak saling mengenal.
"Sayang, kenapa kamu gak bilang dulu sebelum datang ke kantor, hem?" tanya Gio sambil menghampiri istrinya yang masih berdiri di depan pintu, sedangkan Randi sudah ke luar bersama dengan Eric.
"Cuma ke kantor, ngapain harus bilang dulu," ujar Diandra, dia berjalan menuju sofa lalu duduk di sana sambil menaruh tote bag di atas meja.
"Itu, Mama, nyuruh aku nganter makan siang," sambung Diandra lagi, menunjuk tote bag di atas meja.
"Sayang." Tiba-tiba Gio malah merebahkan dirinya di atas sofa dengan paha Diandra sebagai bantalnya.
Diandra mengerutkan kening, melihat sikap Gio yang berbeda.
"Aku capek, mau istirahat sebentar," ujar Gio manja.
"Eh, makan dulu. Kamu pasti belum makan siang, kan?" Diandra berusaha menahan suaminya.
"Aku mau istirahat dulu, cape banget rasanya, kepala aku pusing," keluh Gio sambil mengambil tangan Diandra, menciumnya sekilas lalu menaruhnya di atas kening.
Mata Gio tampak terpejam rapat, membuat Diandra tidak bisa mengelak lagi. Memang selama seminggu ini Gio terus disibukkan dengan pekerjaan kantor. Berangkat pagi pulang malam, sampai waktu istirahatnya pun terus berkurang.
Diandra terdiam, perlahan tangannya mengusap kening Gio, sambil memijatnya perlahan. Tidak perlu waktu lama napas Gio sudah terdengar teratur, menandakan kalau laki-laki itu sudah tertidur.
Diandra menghembuskan napas panjang, dia merasa kasihan pada suaminya.
"Capek banget, ya?" gumam Diandra, sambil terus mengusap kening Gio.
Mengingat dirinya juga pernah berada di posisi yang sama, saat beradaptasi untuk mengurus hotel untuk pertama kalinya.
Kondisi Diandra mungkin malah lebih parah dari Gio, karena saat itu dirinya sama sekali belum mempunyai pengalaman soal perusahaan. Diandra hanya berpatokan pada apa yang dikatakan oleh Romi, sebagai kepercayaan dari Neneknya.
......................
__ADS_1