Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Kopi keliling


__ADS_3

...Happy Reading ...


......................


"Dian, kamu masukan apa ke dalam kopi aku dan Sintia kemarin?!" tanya Mely dengan nada sarkas, begitu melihat Dian datang.


Ah, ternyata dia masih terlihat sehat, walaupun kemarin agak tampak mengkhawatirkan, batin Diandra, menatap Mely dengan ekspresi takut, walau di dalam hati tersenyum senang.


"A–aku tidak memasukkan apa pun, Mba," jawab Diandra, pura-pura tergagap sambil menundukkan kepalanya.


"Mana mungkin? Kamu tau ... aku dan Sintia sampai harus mengalami gangguan pencernaan, gara-gara minum kopi yang kamu belikan!" sentak Sintia, masih menatap penuh kebencian pada Diandra.


Ya hitung-hitung nyicil pengeluaran sebelum kalian dikeluarkan dari perusahaan, secara sebentar lagi semua keburukan kalian akan tebongkar, batin Diandra seolah sedang meledek Mely.


"A–aku benar-benar tidak tahu, Mba." Diandra masih tetap menyangkal.


"Kalau memang kamu tidak memasukkan apa pun ke kopi itu, terus siapa yang memasukkannya, hah? Kamu kira aku bodoh, makanya bisa kamu bohongi seperti ini?" cecar Mely menatap Diandra penuh amarah.


Udah tau malah nanya, itu berarti kamu memang bodoh! ejek Diandra di dalam hati.


"A–aku hanya membelinya dan membawanya ke, Mba Mely, dan Mba Sintia. Aku tidak melakukan apa pun pada kopinya," ujar Diandra masih tetap menyangkal, dengan tubuh bergetar.


"Lalu kenapa aku dan Sintia bisa mengalami gangguan pencernaan di waktu yang bersamaan, kalau bukan dari kopi yang kamu belikan, hah? Dasar perempuan tidak tahu diri!" hardik Mely.


Ish, itu mulut kalau ngomong bikin gemes, sampe pengen aku cubit pake tang. Kembali Diandra meracau di dalam hati.


"Eum, m–mungkin i–itu karena aku membelinya di–" Diandra tampak ragu mengucapkannya.


"Kamu membelinya di mana, Dian?!" tanya Mely, mulai penasaran dengan alasan Diandra, dia bahkan menatap Diandara intens.


"A–aku membelinya di tukang kopi yang lewat di depan kantor," jawab Diandra dengan suara dibuat bergetar, seolah sedang menahan takut.


Sekarang kamu mau menyalahkan siapa? Tukang kopi keliling yang gak tau di mana sekarang? batin Diandra.

__ADS_1


"Apa?! Kamu beli kopi di tukang yang lewat? Kamu bisa mikir gak sih?!" hardiak Mely, tidak bisa lagi menahan amarahnya.


"A–aku sudah coba ke kantin. Tapi, kopi di kantin sedang habis, jadi aku coba beli ke depan, eh kebetulan ada tukang kopi yang lewat ... aku beli di sana," jelas Diandra dengan nada lirih di kalimat terakhirnya.


"Ya ampun, Dian, kamu itu punya otak gak sih? Perut kita itu gak bisa dikasih barang murah kayak kopi seperti itu, kamu itu gimana sih?!" kesal Mely menatap tajam Diandra.


Iya deh yang orang super kaya! kesal Diandra did alam hati, sambil mencebikkan bibirnya samar.


"A–aku kan tidak tahu. Biasanya kan aku minum kopi dari orang yang keliling gak apa-apa kok. Jadi mana aku tahu kalau aku belikan untuk Mba Mely dan Mba Sintia bisa membuat buang-buang air seperti itu." Diandra masih terus menjawab ucapan Mely, hingga terus membuat emosi Mely naik.


Sebenarnya Diandra mendapatkan ide itu setelah mendengar cerita Gita tentang seorang youtuber kaya yang buang-buang air setelah meminum minuman kemasan yang banyak di jual di sekolahan.


Terima kasih, Gita. Ternyata kamu banyak memberiku inspirasi yang baik, batin Diandra dengan perasaan bangga, setelah mengerjai Mely dan Sintia.


Hari pun berlalu, sejak saat itu Mely seolah ingin membalas Diandra, dengan selalu membuat Diandra sibuk oleh pekerjaan yang menumpuk.


Sifat aslinya yang sombong dan selalu merasa menjadi bos, kini diperlihatkan. Seperti hari ini.


"Kerjakan semua berkas ini!" ujar Mely sambil menyimpan tumpukan berkas di meja Diandra dengan gerakan kasar, hingga bunyinya terdengar ke seluruh ⁷ sekretaris itu.


"Tugas yang tadi pagi, Mba, berikan saja belum aku selesaikan," ujar Diandra mengajukan protes.


Para staf sekretaris yang lain, kini melihat Diandra iba, merek tidak tega dengan sikap Mely yang kasar dan arogan pada Diandra. Akan tetapi, mereka juga tidak bisa apa-apa karena mereka hanya seorang bawahan saja.


Padahal sebenarnya Diandra memang belum sempat mengerjakan tugas dari Mely, karena dirinya sibuk mengerjakan tugas yang lain.


"Pokoknya kamu harus kerjakan ini semua, atau aku akan bilang pada Pak Giovano kalau kamu tidak bisa bekerja," ancam Mely.


Diandra memutar bola matanya, jengah juga mendengar alasan Mely untuk mengancamnya. Sungguh dia tidak suka dengan semua sikap Mel yang mendapat banyak gerutuan dari para karyawan lainnya.


"Aku tau kamu itu adalah saudaranya Pak Giovao. Tapi, aku yakin kalau Pak Giovano tidak akan pilih kasih pada karyawannya," sambung Mely lagi dengan nada suara arogannya.


"Ya, terserah kamu saja lah," gumam Diandra sambil mengambil salah satu berkas yang baru saja ditaruh oleh Mely, kemudian membacanya santai.

__ADS_1


Diandra sudah lelah mendengar ocehan dari Mely, juga berpura-pura lemah.


"Kamu?!" sentak Mely menunjuk wajah santai Diandra.


"Apa?" tanya Diandra, dengan tatapan tajamnya pada Mely, auranya pun berubah menjadi dingin.


"Dian, kamu dipanggil Pak Giovano ke ruangannya." Suara Randi mengintrupsi perhatian kedua wanita yang sedang beradu tatapan mata, seperti ayam jago yang hendak bersiap hendak bertarung.


"Ah iya, Pak Randi saya akan masuk sekarang," ujar Diandra sambil berdiri.


"Ini semu adalah pekerjaan kamu, jadi sudah seharusnya kamu kerjakan sendiri, Mba Mely tersayang," ujar Diandra sambil meletakkan berkas di tangan Mely.


"Dadah ...." Diandra melambaikan tangannya manja di depan wajah Mely, kemudian berjalan menuju ruangan Gio.


Dasar perempuan licik, enak saja mau menyuruhku mengerjalan pekerjaannya, batin Diandra.


"Sayang, sini kamu harus istirahat dulu," ujar Gio yang langsung menyambut kedatangan sang istri.


"Aku gak apa-apa kok," jawab Diandra, sambil mengikuti Gio yang membawanya menuju ke sofa.


Gio duduk di atas sofa dengan Diandra yang menyandarkan kepalanya di dada suaminya, Diandra menutup mata saat menghirup aroma tubuh sang suami yang selalu membuatnya tenang, bahkan dari pertama kali mereka bertemu.


"Semua bukti sudah terkumpul, sayang. Lalu apa lagi yang kamu tunggu untuk membongkar kejahatan mereka?" tanya Gio, sudah tidak tega melihat istrinya yang selalu diperlakukan buruk oleh sekretarisnya sendiri.


"Nanti saja, aku masih mau semuanya dibongkar di depan mata mereka sendiri dan di hadapan semua orang. Sama seperti selama ini mereka memperlamukanku, aku juga ingin mereka malu," ujar Diandra dengan sorot mata penuh kebencian.


Gio menghembuskan napas panjang, dia sudah tahu tentang masa lalu Diandra dengan Eric dan Sintia, dirinya sama sekali tidak menyangka kalau mantan tunangan dan sahabat Diandra yang dulu mengkhianati istrinya kini malah bekerja di perusahaannya.


"Baiklah. Tapi, kamu harus janji, jangan lama-lama, dan jangan sampai kamu kenapa-napa, karena kalau sampai terjadi sesuatu sama kamu, aku tidak akan pernah berpikir lagi untuk membongkar semua kebusukan mereka," ujar Gio sambil mengelus lembut kepala istrinya.


"Heem." Diandra hanya bergumam sebagai jawaban.


......................

__ADS_1


Minta komentar dong🥰


__ADS_2