
...Happy Reading...
......................
"Ini-" Sujino menggantung perkataannya sambil meletakkan kembali berkas itu di atas meja.
Tentu saja semua itu membuat Gio dan Randi semakin penasaran.
"Ini sudah bagus, semuanya saya setuju. Kita bisa tanda tangan sekarang," lanjut Sujino, membuat Gio dan Randi menghembuskan nafas lega.
Randi langsung mengambil alih berkas, lalu membuka di mana saja Sujino harus membubuhkan tanda tangannya, begitu juga dengan Gio.
"Lalu, bagaimana dengan urusan Jonas?" tanya Gio.
"Anda, bisa langsung menangkapanya. Nanti akan saya kabari di mana lokasinya saat ini," jawab Sujino santai.
"Anda, sudah memastikan tidak akan ada anak buah, Anda, yang ikut campur?" tanya Gio lagi, memastikan.
"Saya berani menjamin semua itu. Jika memang ada anak buah saya yang mengganggu proses penangkapannya, kalian bisa langsung menghabisi mereka, saya tidak akan ikut campur," jawab Sujino.
"Saya berharap tidak akan ada korban di dalam penangkapan kali ini. Tapi, jika dia mencoba kabur atau ada yang membantunya, kami tidak akan segan-segan untuk melukai mereka," ancam Gio.
"Tentu! Anda, bisa melakukan apa pun padanya," jawab pasti Sujino.
"Saya pegang kata-kata, Anda," ujar Gio.
Sujino mengangguk. "Anda, bisa percaya pada saya."
"Terima kasih atas kerja samanya." Gio berdiri sambil mengulurkan tangannya di hadapan Sujino, yang langsung disambut hangat oleh laki-laki paruh baya itu.
"Senang bekerja sama dengan, Anda," jawab Sujino.
Ya, untuk kali ini Gio sengaja menurunkan sedikit harga dirinya, untuk membuat Sujino senang, agar rencana mereka untuk menangkap Jonas, bisa berlangsung lancar.
.
.
Beberapa saat kemudian Gio, Randi, dan beberapa anak buahnya sudah berada di daerah yang lumayan terpencil, beberapa orang polisi pun tampak bersama mereka, mangingat Gio memang harus menyerahkan Jonas pada pihak yang berwajib.
Lokasi yang berada di pegunungan, membuat mereka cukup kesulitan mencari lokasi yang ditunjukkan oleh Sujino.
"Sialan, apa dia mau menjebak kita? Kenapa dia malah mengarahkan kita pada sebuah acara seperti ini?!" umpat Gio, saat melihat tenda tempat berlangsungnya acara hajatan, di alamat yang diberikan oleh Sujino.
Dia lansung mengambil ponselnya dan menghubungi Sujino.
"Anda, bermain-main dengan saya?" tanya Gio menggeram marah.
__ADS_1
"Mana berani saya bermain-main degan, Anda," jawab Sujino, disertai suara kekehan di belakangnya.
Gio mengepalkan tangannya, saat merasa dipermainkan oleh laki-laki paruh baya itu.
"Lalu, kenapa, Anda, memberikan saya alamat orang yang sedang mengadakan acara?" tanya Gio.
"Hari ini, Jonas memang sedang menghadiri acara pernikahan salah satu saudaranya," jawab santai Sujino.
Kepalan tangannya Gio semakin kencang menahan rasa geram di dalam hatinya. Dirinya buakanlah seorang Mafia yang akan tega menangkap seseorang di tengah keramaian seperti ini.
Namun, saat ini Sujino seolah sedang sengaja memosisikan dirinya di tempat yang membuatnya lemah.
Gio langsung menutup sambungan teleponnya dengan Sujino begitu saja.
"Sial! Mana mungkin kita menangkap Jonas dalam suasana ramai begini?" decak Gio.
Dia memutar otaknya untuk mencari cara agar bisa menangkap Jonas dengan mulus, tanpa membuat keributan di dalam acra orang.
Untuk beberapa saat Gio hanya terdiam sambil memperhatikan situasi yang ada di sana.
"Ran, panggil salah satu anak buah yang postur tubuhnya tidak terlalu mencolok, usahakan yang bisa berbahasa daerah sini," perintah Gio, setelah lama terdiam.
Randi mengangguk, lalu ke luar dari mobil, dia memanggil salah satu anak buahnya yang memiliki postur tubuh tidak terlalu mencolok. Akan tetapi, kini masalahnya adalah, tidak ada anak buah yang bisa berbahasa daerah.
"Ck, tidak berguna!" hardik Gio, melampiaskan kemarahan dan ketidakberdayaannya saat ini.
Gio tersenyum, begitu mendapatkan sebuah cara yang mungkin bisa dia lakukan. Cepat, dia menerima telepon dari ayah mertuanya.
"Ayah," sapa Gio.
"Halo, Gio. Ayah sepertinya tadi melihat mobil kamu terparkir di dekat lapangan, apa itu kamu?" tanya Eros.
Gio mengedarkan pandangannya ke luar mobil, mencari keberadaan ayah mertuanya.
"Iya, Ayah. Aku sedang ada urusan di sini. Ayah, di mana?" tanya Gio.
"Ayah ada di dekat tempat acara, kebetulan yang menikah adalah salah satu teman Ares."
"Ayah, bisa tolong ke mobilku dulu, ada sesuatu yang harus aku bicarakan," ujar Gio langsung pada intinya.
"Baiklah ... sebentar Ayah ke sana," jawab Eros sebelum sambungan telepon antara keduanya terputus.
Tidak lama kemudian Eros dan Ares terlihat berjalan ke arah mobil Gio. Gio yang melihat itu, langsung turun dari mobilnya.
"Ayah, Ares," sapa Gio sambil mencium tangan Eros dan melakukan tos dengan Ares.
"Ada apa, Nak? Apa yang ingin kamu bicarakan sama, Ayah," tanya Eros.
__ADS_1
"Begini, Ayah–" Gio pun menceritakan tentang niatnya datang ke sini.
"Jadi sekarang kamu mau menangkap orang yang selalu memberikan teror untuk Dian?" tanya Eros, memastikan.
"Benar, Ayah, dan sekarang aku membutuhkan bantuan, Ayah dan Ares, agar kami bisa menangkapnya tanpa menimbulkan keributan di dalam acara orang lain," ujar Gio.
"Apa yang harus kami bantu, Nak? Dengan senang hati Ayah dan Ares pasti akan membantu kamu," ujar Eros.
"Tunggu-tunggu, jadi selama ini Kak Dian diteror oleh seseorang?" tanya Ares yang belum mengetahui tentang Jonas.
"Iya, Res. Bahkan kecelakaan yang menimpa kamu di restoran adalah salah satu rencananya," jelas Gio.
Ares melebarkan matanya, mendengar perkataan Gio, dia tidak pernah menyangka kalau dirinya akan menjadi alat untuk mengancam kakaknya.
"Siapa orangnya, Kak? Apa aku mengenalnya?" tanya Ares.
"Aku gak tau, kamu, mengenalnya atau tidak. Tapi, yang aku tau, dia memang sudah lama menyukai Dian, walaupun Dian terus menolaknya," jelas Gio.
"Dia sebenarnya sudah pernah ditangkap oleh kepolisisan. Tapi, seseorang berhasil membebaskannya dengan jaminan dan kekuasaan," tambah Gio lagi.
"Dasar brengsek! Berani-beraninya dia mengganggu kakakku!" geram Ares.
"Ares, kamu harus menekan emosi kamu, agar tidak ada yang curiga, dan jangan sampai kamu merusak pesta pernikahan teman kamu sendiri." Gio mencoba menenangkan adik iparnya.
Ares menarik napas dalam, lalu membuangnya perlahan, dia melakukan itu semua berulang sampai sesak di dalam dada perlahan memudar.
"Namanya Jonas, dia mantan manajer di hotel xxx. Kamu harus menemukannya dan bawa dia ke tempat yang sudah kita tentukan, aku akan menunggu di sana," ujar Gio, memberikan istruksi kepada adik ipar dan ayah mertuannya.
Ares dan Eros mengangguk bersamaan, mereka lalu pergi ke tempat pesta itu berlangsung sebagai tamu biasa.
"Randi, kamu tunggu mereka di sini dan awasi sampai ke tempat penangkapan. Aku akan berada di sana dengan para polisi," ujar Gio.
"Baik!" jawab Randi mantap.
"Hati-hati, kita tidak tau seluk beluk wilayah ini, bisa saja dia melarikan diri lagi," peringat Gio, sebelum meninggalkan Randi dan beberapa anak buahnya.
Gio pun berjalan menuju tempat yang minim orang di kebun belakang tempat acara.
Jika keadaan mendesak, maafkan aku jika harus bertindak seperti Mafia atau bahkan seorang pembunuh, batin Gio di setiap langkah kakinya.
Dian, apa pun yang terjadi padaku nanti, aku harap kamu akan mengerti, gumam Gio di dalam hati, seakan sedang memberi pesan pada istrinya.
Sedangkan Randi dan beberapa anak buah yang bertugas di sana, berpencar untuk memastikan keamanan proses penagkapan Jonas kali ini.
......................
Ketangkap gak ya, Jonas? 🤔
__ADS_1