Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Menenagkan diri


__ADS_3

...Happy Reading...


......................


"Lalu apa yang dia katakan?" tanya Romi.


Diandra tampak terdiam, sebelum memberikan jawaban pada Romi.


"Dia menyuruhku untuk menceraikan Gio, dan datang kepadanya," lirih Diandra.


"Dasar laki-laki gila! Dia benar-benar tidak bisa dibiarkan!" Romi tidak bisa menahan emosinya lagi.


"Sudahlah, sebaiknya kamu tenangkan diri kamu dulu. Aku yakin ini hanya sebuah omong kosong, untuk membuat kamu takut, tidak usah dianggap serius," ujar Romi lagi, saat melihat wajah khawatir saudaranya.


Diandra menatap wajah Romi, dia kemudian mengangguk samar, walau dalam hati masih terasa mengganjal.


"Hari ini aku mau pulang saja, kamu bisa kan melakukan jadwal hari ini sendiri?" tanya Diandra.


Dia benar-benar tidak bisa berpikir dengan benar saat ini. Dirinya harus menenagkan diri dulu, agar bisa kembali berpikir dengan jernih.


"Baiklah, gak apa-apa. Kamu pulang saja, aku bisa mengerjakan semuanya sendiri," ujar Romi, menatap prihatin wajah Diandra.


"Terima kasih, Rom," ujar Diandra, sambil bersiap untuk bangun.


"Ya, tidak perlu berbicara seperti itu. Lagipula aku sudah terbiasa direpotkan olehmu," ujar Romi, sedikit mencairkan suasana.


Diandra tersenyum tipis sambil beranjak berdiri, diikuti oleh Romi.


"Kamu memang yang terbaik, Rom," ujar Diandra, sambil menepuk pundak saudaranya itu.


"Aku pergi. Selamat bekerja, Tuan CEO," ujar Diandra sedikit memberi kata ejekan.


"CEO rasa sekretaris," jawab Romi, dengan wajah melas.


Diandra tersenyum, dia pun berjalan pergi dari ruangan Romi.


Hatinya sedikit terhibur dengan mendengar candaan dari saudara laki-lakinya itu. Walau semua itu tentu tidak akan merubah apa pun.


Sampai di rumah, ternyata masih ada Yaya yang sedang membersihkan rumah.


"Teh Dian, apa ada yang ketinggalan?" tanya Yaya, dia baru saja sampai beberapa saat yang lalu.


"Tidak, aku sedang ingin istirahat saja," jawab Diandra sambil menyunggingkan senyum tipis.


"Apa, Teteh, sakit?" tanya Yaya, dengan wajah khawatirnya, dia bisa melihat wajah Diandra yang sedikit pucat.


"Tidak, aku hanya sedang malas saja. Kamu teruskan saja, aku akan masuk ke kamar," ujar Diandra.


"Baik, Teh." angguk Yaya.

__ADS_1


Diandra pun melanjutkan langkahnya menuju ke kamar. Sampai di ruangan pribadinya itu, dia berdiri di depan jendela, dengan menatap jauh ke luar.


Tidak jauh dari rumah Diandra, terlihat seseorang sedang berdiri dengan sesekali melihat ke arah rumah tersebut.


Beberapa jam berlalu, menjelang siang Diandra tampak berjalan ke luar rumah dengan gaya yang lebih santai.


Dia tampak berjalan cepat ke arah hotel milik Gio.


"Permisi, apa Pak Gio ada di ruangannya?" tanya Diandra pada resepsionis yang berjaga di lobi.


"Sebentar saya tanyakan dulu ya, Teh," jawab ramah resepsionis itu.


Diandra mengangguk, dia mengedarkan pandangannya di setiap sudut lobi hotel yang tak lain adalah milik suaminya sendiri.


Dia cukup merasa kagum, melihat desain interior hotel yang tampak bernuansa mewah, tanpa menghilangkan kesan pantai.


Ini memang pertama kalinya Diandra masuk ke dalam hotel itu, walaupun letak hotel mereka berdekatan.


"Maaf, Teh. Pak Gio sedang tidak ada di kantor. Apa, Teteh, mau meninggalkan pesan? Nanti akan saya sampaikan," ujar resepsionis itu.


Diandra kembali mengalihkan perhatiannya pada perempuan yang terlihat masih muda itu, dia pun tersenyum tipis sebelum menjawab.


"Tidak usah. Terima kasih," ujar Diandra singkat.


Perempuan itu pun langsung berjalan ke luar lagi dari hotel milik Gio, dia tampak kembali ke hotel miliknya lalu masuk ke dalam mobil.


"Rumah, mungkin dia pergi ke rumahnya," gumam Diandra lebih pada dirinya sendiri.


Setelah mendapatkan tujuan pasti, Diandra pun semakin menambah kencang laju mobilnya.


Beberapa saat kemudian perempuan itu sudah berada di depan rumah milik suaminya. Dia bisa melihat mobil Gio memang terparkir di sana.


"Ada urusan apa dia di rumahnya sendiri?" lirih Diandra.


Pikiran buruk pun mulai merambat memengaruhi Diandra. Dia menyangka kalau suaminya tidak sedang melakukan pekerjaan yang benar.


Ke luar dari mobil dengan senyuman sinis di wajahnya, Diandra melihat kilas mobil sang suami yang tampak kosong.


"Apa dia juga membawa banyak wanita ke sini, sama seperti dia membawaku?" ujarnya, menatap tajam rumah yang terbilang mewah, bila dibandingkan dengan rumah disekitarnya.


Diandra mulai berjalan masuk dengan gaya khasnya, dagu terangkat dan langkah kaki terdengar berirama juga pasti, membuat perhatian siapa pun yang dia lewati pasti akan mengarah padanya.


Keningnya tampak bergaris halus, begitu dia menginjakkan kakinya di dalam. Di sana tampak banyak sekali laki-laki berbadan tegap berpakaian santai.


Apa aku salah masuk rumah? Atau rumah ini sudah dijual? Kenapa banyak sekali laki-laki di sini? batin Diandra penuh tanya.


"Permisi, apa benar ini rumahnya Giovano?" tanya Diandra.


Para laki-laki berbadan kekar yang terlihat sedang bersantai itu, tampak saling melihat satu sama lain, tanpa menjawab pertanyaan dari Diandra.

__ADS_1


Tidak lama kemudian salah seorang di antara mereka tampak menghampiri Diandra.


"Benar. Pak Gio sedang berada di ruangan kerjanya. Mari, saya antarkan," ujar laki-laki itu.


Diandra mengangguk kemudian melangkah mengikuti laki-laki di depannya, dengan perasaan penuh tanya.


Apa dia mempunyai kelompok gengster atau perkumpulan preman? batin Diandra.


Laki-laki itu tampak mengetuk salah satu pintu di sana, dia pun membukanya setelah mendengar suara dari dalam.


"Pak, Bu Diandra sudah ada di sini," ujarnya, seakan sudah tau akan kedatangan Diandra sebelumnya.


Kerutan di kening Diandra semakin dalam, mendengar perkataan laki-laki di depannya itu.


"Biarkan dia masuk," jawab Gio.


"Silahkan, Bu," ujar laki-laki itu sambil membuka pintu lebar untuk Diandra.


Diandra tampak melihat ke arah dalam dulu, sebelum mulai melangkahkan kakinya.


"Terima kasih," ujarnya, melihat kilas laki-laki yang mengantakannya.


Laki-laki itu hanya mengangguk samar sebagai balasan, dia langsung menutup pintu itu lagi, setelah melihat Diandra masuk ke dalam.


Diandra bisa melihat ada satu orang laki-laki paruh baya yang sedang berada di depan Gio.


Gio tersenyum cerah melihat Diandra sudah ada di depannya, dia pun beranjak berdiri dan menyambut kedatangan sang istri.


Diandra mengalihkan pandangannya pada Gio yang kini melangkah menghampirinya.


"Ada apa, sayang? Tumben kamu menyusulku ke sini," ujar Gio sambil merangkul pundak istrinya.


"Bersikaplah seperti biasa, ada pamanku di sini," bisik Gio tepat di depan telinga istriya.


Diandra melebarkan matanya, dia pun mengalihkan pandangannya pada laki-laki paruh baya itu dan tersenyum tipis.


"Jangan kegeeran ya, aku ke sini karena ada sesuatu yang harus aku bicarakan denganmu. Lagi pula, aku tidak peduli dengan pamanmu itu," lirih Diandra, sambil mencoba melepaskan rangkulan Gio di pundaknya.


"Om, sepertinya aku mau bicara dulu sama istriku. Sebentar ya, Om," pamit Gio.


Diandra pun kembali tersenyum, mereka berdua ke luar bersama setelah mendapatkan anggukkan dari laki-laki paruh baya itu.


......................


Selamat merayakan hari raya Idul Adha, bagi yang merayakan๐Ÿ™๐Ÿ˜Š


...๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2