
...Happy Reading...
......................
Randi masuk setelah Gio memberinya izin dari dalam.
Randi melihat Gio sedang bersandar di kepala ranjang.
"Bagaimana keadaan, kamu?" tanya Randi, setelah dia berdiri di dekat Gio.
"Lebih baik. Terima kasih sudah memanggil dokter untukku," jawab Gio.
"Itu memang sudah tugasku. Mengurus kamu yang malas ke rumah sakit, walau tubuhmu sudah penuh dengan luka seperti itu," gerutu Randi, menatap Gio malas.
"Kamu memang terbaik," jawab Gio sambil terkekeh kecil.
"Ck." Randi berdecak malas, bos sekaligus temannya itu selalu saja begitu. Tidak memperdulikan kesehatannya sendiri.
"Ada apa? Kenapa manggil aku?" tanya Randi.
"Kamu, sudah mendapat informasi dari anak-anak, tentang Jonas?" tanya Gio. Sorot matanya berubah serius.
"Sepertinya Suseno menepati janinya, dia tidak lagi ikut campur dengan urusan Jonas," jawab Randi.
Gio mengangguk dengan raut wajah puas.
"Baguslah, setidaknya dia bisa dipercaya," ujar Gio.
"Benar, walaupun dia ketua Mafia. Tapi, kata-katanya bisa dipercaya."
"Tapi, tetap saja kita tidak boleh lengah. Dia bisa saja menjadi ancaman yang nyata, walau bagaimana pun dia tetap saja mafia, yang hanya mementingkan uang," ujar Gio, memberi peringatan pada asistennya.
Randi mengangguk, dia setuju dengan apa yang dikatakan oleh Gio. Berurusan dengan Mafia tetap saja perlu waspada yang tinggi, mengingat mereka memiliki seribu cara licik di otaknya.
Apalagi mereka tidak pernah saling mengenal sebelumnya, bahkan Gio dan Randi hanya tau cara kerja Suseno dari rumor yang beredar, tanpa tahu sifat aslinya.
Setelah berbincang cukup lama Randi pamit ke luar, dia ada pekerjaan lain yang harus dikerjakan.
Diandra yang memilih menonton televisi sambil menunggu Randi ke luar dari kamar menoleh, begitu melihat Randi berjalan ke arahnya.
__ADS_1
"Sudah?" tanyanya.
"Heem," jawab Randi, menghentikan langkahnya.
"Kamu di suruh masuk ke dalam. Suami kamu sudah nungguin kami dari tadi," sambung Randi lagi.
Diandra menghembuskan napas panjang, dia malas sekali menghadapi laki-laki yang satu itu. Sikapnya yang tengil, kini bertambah manja, membuat dia harus memiliki kesabaran ekstra untuk menghadapinya.
Dengan langkah malas, Diandra berjalan dari ruang televisi kembali ke kamar. Rasanya sudah membosankan sekali, saat dirinya harus terkurung di rumah, walaupun itu hanya beberapa hari.
Diandra sudah terbiasa bekerja dan menghabiskan waktu di luar rumah. Semenjak dirinya pergi dari rumah, Diandra tidak memberikan waktu untuk tubuhnya beristirahat, dia hanya fokus bekerja dan bekerja.
Itu lah alasannya, mengapa hotel Lembayung kini menjadi hotel yang besar dan ramai pengunjung. Sama seperti Gio, Diandra juga banyak memberikan inovasi baru, yang membuat hotel terlihat lebih segar.
Tentu saja semua itu membuat para pengunjung banyak yang tertarik untuk datang ke hotel miliknya, apalagi dengan adanya tarif yang murah, dan promosi besar-besaran di media sosial.
Terkadang bila ada tamu yang merupakan seorang influencer atau bahkan artis terkenal, dia akan berbicara dan memberikan diskon cukup besar, asalkan mereka bisa memberikan review baik tentang hotel miliknya.
Mengertiskan pun sering dia lakukan, bagi mereka yang mau membuatkan konten khus untuk hotelnya.
Tentu saja itu salah satu teknik marketing yang dimiliki oleh Diandra, dengan cara simbiosis mutualisme seperti itu dia tidak perlu mengeluarkan kocek lebih, hanya untuk iklan.
Tinggal pelayanan terbaik dan bonus sarapan gratis selama menginap, itu sudah cukup. Masalah konten itu akan disesuaikan dengan kesepakatan mereka masing-masing.
Itu juga diukur dari bagaimana sikap artis itu sendiri. Ada yang mau dengan sukarela, ada juga yang menolak dan tetap ingin dibayar. Walaupun sudah banyak mendapatkan keuntungan.
Namun, walaupun begitu sebenarnya dia sudah mendapatkan promosi secara tidak langsung, mengingat biasanya para influencer atau artis yang aktif di media sosial, akan banyak mengunggah fotonya selama liburan.
Membayangkan itu semua membuat Diandra berdecak kesal. Dia sudah berada di rumah sejak kemarin, karena sakit dan sekarang ditambah harus mengurus suami.
Ya, walaupun Diandra masih belum bisa menerima pernikahannya dengan Gio. Akan tetapi, dia juga tau apa kewajiban seorang istri kepada suaminya.
Namun, untuk satu kewajiban di atas ranjang, dia belum siap melakukannya sampai sekarang. Perasaannya yang masih ambigu, ditambah ragu yang masih saja berdiam diri di dalam hati, membuatnya takut untuk menyerahkan dirinya pada Gio.
Diandra berdiri sejenak di depan pintu, dia menarik napas dalam lalu membuangnya perlahan, menyiapkan kesabarannya untuk menghadapi sikap tengil dan manja suaminya.
"Sayang, kenapa lama sekali?" tanya Gio saat melihat Diandra masuk ke kamar.
Diandra tersenyum walau dalam hati merasa sedikit terpaksa.
__ADS_1
"Aku takut ganggu kamu dan Randi," jawab Diandra.
Dia berjalan menuju lemari, untuk mengambil baju ganti.
"Aku mandi dulu. Kamu istirahat saja," ujar Diandra.
"Ini sudah malam, sayang. Besok saja mandinya." Gio berusaha menahan Diandra.
"Gak enak kalau gak mandi. Kamu tunggu sebentar, aku gak akan lama," jawab Diandra.
Dia tidak perduli wajah memelas dan protes Gio, dengan santai melewati ranjang dan berjalan menuju ke dalam kamar mandi.
Dia dalam toilet, Diandra berdiri bertumpu di depan washtafel, menatap wajahnya yang sudah lebih segar dibanding hari sebelumnya.
Dia begitu sabar dan teladan mengurusku ketika aku sakit. Sekarang giliranku untuk bisa membalas semua itu, batin Diandra, mengingat bagaimana sabar dan lembutnya cara Gio melayaninya selama dia sakit.
Tahan Dian, pekerjaan sudah diurus oleh Romi, semuanya akan baik-baik saja walaupun kamu gak ke kantor. Diandra memalingkan berujar di dalam hati.
Menenangkan rasa gelisah dan bosan, yang sejak tadi mengganggu pikirannya.
Padahal, mungkin jika dia berangkat ke kantor pun, Diandra tidak akan bisa mengendalikan rasa khawatirnya kepada sang suami.
Ya, itu memang tidak bisa dibungkiri, dia juga memiliki rasa bersalah dan khawatir di sudut hatinya. Walaupun saat ini dia sedang menggerutu tidak jelas. Akan tetapi, itu semua hanya untuk menutupi rasa cemas berlebih kepada suaminya.
Diandra tetap saja Diandra yang dulu, sosok gadis pendiam yang berhati lembut. Walaupun, kini dia terlihat galak dan dingin di luarnya.
Semua itu hanya bentuk perlindungan diri dari rasa trauma di masa lalunya, dan menutupi rasa sakit di dalam hatinya.
Kehadiran Gio di dalam hidupnya, kini mempersulit Diandra untuk mengendalikan diri, dia seakan ingin membuka dirinya yang lama. Walau logika seolah menolak semua keinginannya.
Entahlah, mungkin di dalam hati, Diandra sudah sedikit mendapatkan rasa nyaman dan aman, dari suami tengilnya.
Namun, rasa takut yang teramat besar mengalahkan rasa yang masih berada di salah satu sudut hatinya.
......................
Terkadang cinta datang dari rasa kasihan.
...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...
__ADS_1