
...Happy Reading ...
......................
Diandra terdiam di dapur, berusaha menenangkan detak jantung yang terasa begitu sulit. Entah kenapa saat ini rasanya begitu tidak menentu, saat Gio menggodanya lebih dalam seperti tadi.
Namun, kini tubuhnya mematung dengan pundak yang meluruh.
Ngapain kamu masak, gak enak lagi. Aku mau makan di luar saja! Bikin malu saja, memangnya aku ini anak kecil, yang masih harus membawa bekal?!
Kilatan masa lalu kembali terulang di dalam pikiran Diandra.
Saat itu, dia membawakan makan siang untuk Eric yang tengah kerja magang di salah satu perusahaan. Namun, bukannya disambut baik, dia malah mendapatkan kata kasar di tengah orang banyak.
Malu dan kecewa, sangat dia rasakan. Dia sama sekali tidak suka jika dinasehati di depan umum. Apalagi, Eric berkata dengan suara yang lantang, hingga menarik perhatian orang-orang di sekitar mereka.
Diandra lebih suka jika dirinya dimaki, atau dinasehati saat mereka berdua. Itu akan terasa lebih menghargainya, dan dirinya juga akan lebih bisa mengerti.
Walau malam harinya Eric kembali meneleponnya dan meminta maaf. Dia beralasan capek kerja hingga melampiaskan semua itu pada Diandra.
Diandra yang dulu masih polos, langsung menerima maaf dari Eric dan menganggap semua alasan Eric benar adanya. Walau sakit di dalam hatinya bahkan masih bertahan sampai sekarang.
Kenangan itu menjadi salah satu kenangan buruk yang sulit untuk dia lupakan.
"Hei, kok malah bengong?" tanya Gio saat dia sudah sampai di dapur.
"Hah? E–enggak kok," jawab Diandra dengan nada suara sedikit gugup.
Gio tersenyum dia tau ada sesuatu yang sedang mengganggu pikiran Diandra. Akan tetapi, dia juga tidak mau terlalu menekan istrinya.
Itu semua terlihat dari raut wajah Diandra yang tampak berubah tertekan, dibandingkan sebelumnya.
"Cari menu masakan yang gampang aja. Gimana kalau kita masak sup?" tanya Gio, sambil berusaha mengalihkan pikiran Diandra.
Gio mulai mengeluarkan bahan masakan dari dalam kulkas. Tadi, sebelum Yaya pulang, dia menyuruhnya untuk membeli beberapa bahan masakan ke tukang sayur.
"Kamu siangin sayurannya, aku yang bikin bumbu," ujar Gio, sambil memberikan sayuran di depan Diandra.
Dengan gerakan malas, Diandra mulai mengupas wortel dan kentang lalu memotongnya menjadi potongan kecil.
__ADS_1
Sementara itu Gio menyiapkan air di panci lalu mulai memanaskannya, dia juga mengeluarkan ayam yang sudah di ungkep dari dalam kulkas.
"Mau bikin ayam goreng? Emang bisa?" tanya Diandra dengan nada meremahkan.
"Bisa dong," jawab Gio dengan percaya diri.
Dia mulai menyiapkan wajan di atas kompor, dan menuangkan minyaknya.
Diandra mencuci semua sayuran yang sudah dia kupas dan potong-potong, dirinya lebih dulu memasukkan kentang dan wortel ke dalam air yang sudah mendidih di dalam panci.
Sedangkan Gio mulai memasukkan ayam ke dalam penggorengan berisi minyak panas. Akan tetapi, tiba-tiba air dari panci menyiprat ke penggorengan hingga minyaknya meletup.
"Akh, Dian, hati-hati dong." Gio langsung menjauhkan tangannya yang hampir saja terkena letupan minyak.
"Eh, maaf-maaf, aku gak sengaja," jawab Diandra dengan kekehan mengiringi perkataannya.
Gio menatap Diandra penuh selidik, dia sampai memicingkan matanya, melihat Diandra yang sedang menahan tawanya.
"Kamu, sengaja ya?" tanya Gio sambil mendekati istrinya.
Diandra mundur seiring Gio yang semakin dekat.
"Enak aja, mana buktinya kalau aku sengaja?" tanya Diandra, masih dengan kekehannya yang seakan sulit dihentikan.
"Dih, nuduh!" ujar Diandra sambil mulai melangkah menjauh dari Gio.
"Kalau iya, emang mau ngapain?" sambung Diandra sambil berlari ke luar dari dapur.
Gio tersenyum ternyata Diandra sudah mulai berani mengajaknya bercanda.
"Awas kamu ya, aku pasti kasih hukuman karena udah jahil!" ujar Gio sambil mengejar Diandra.
"Coba saja!" tantang Diandra sambil terus berlari menjauh dari suaminya.
"Awas kamu ya!" Gio berusaha menangkap Diandra yang cukup lincah menghindar dari tangkapannya.
Atau mungkin Gio yang memang sengaja tidak menangkap Diandra? Akh, itu sepertinya hanya Gio yang tahu.
Kini keduanya berdiri di samping meja makan, saling berhadapan dengan dibatasi meja itu sendiri.
__ADS_1
"Ayo coba tangkap aku," ujar Diandra, dengan napas yang sudah memburu.
"Awas saja kalau sampai kamu tertangkap, aku gak kan kasih ampun," ancam Gio.
Gio melangkah ke sebelah kanan untuk menangkap Diandra. Akan tetapi, Diandra malah berlari ke arah sebaliknya, hingga kini keduanya tampak berlari mengelilingi meja makan.
Kursi makan yang awalnya rapih kini terlihat berantakan karena menjadi pegangan bagi keduanya. Mereka tampak asik bermain kejar-kejaran bagaikan anak kecil.
Gio tidak habis akal, saat Diandra terus mengelilingi meja makan, Gio tiba-tiba berbalik arah, hingga akhirnya dia hampir bisa menangkap Diandra.
Namun, Diandra yang lincah langsung merubah arah dan masuk ke ruang keluarga.
"Hahaha, kamu gak bisa nangkap aku!" tawa Diandra membuat Gio semakin senang melakukan permainan seperti itu.
Dia rela kembali menjadi seperti anak kecil, asalkan istrinya dapat tertawa seperti itu setiap hari. Rasanya sangat menyenangkan melihat tawa yang sudah lama hilang dari wajah istrinya. Apalagi, dia tahu kalau tawa itu berasal dari dirinya.
Setelah cukup lama bermain dan keduanya mulai lelah, akhirnya Gio mempercepat langkahnya dan langsung menangkap Diandra di dekat sofa ruang tengah.
Namun, karena Gio terlalu bersemangat kini keduanya terjermbab bersama ke atas sofa dengan Diandra yang berada di bawah Gio. Karena Gio menabrakkan dirinya terlalu keras kepada Diandra, hingga keseimbangan keduanya oleng.
Mereka tampak terdiam dengan mata yang bertaut dalam, dada keduanya naik turun berusaha hanghirup oksigen sebanyak-banyaknya untuk memenuhi paru-paru.
Debar jantung yang berdebar begitu cepat seakan saling bersahutan. Keduanya tampak mulai tenggelam dalam keindahan mata pasangannya, yang bagaikan sebuah lembah tidak berujung.
Hasrat pun kian naik ke permukaan, menguasai pikiran Gio, saat dada keduanya menempel dengan bantalan kenyal yang menekan. Akh, pikirannya terasa sudah berkelana, mengharap sesuatu yang belum tercapai sampai sekarang.
Perlahan Gio mulai menurunkan kepalanya, mendekatkan wajah hingga hidung keduanya hampir bersentuhan. Dia melihat reaksi Diandra terlebih dahulu, takut semua itu akan membuat istrinya tertekan.
Melihat Diandra terdiam dan tidak menolaknya, Gio melanjutkan kegiatannya. Tubuhnya semakin turun dengan bibir yang hanya tinggal satu sentimeter lagi menyatu.
Diandra tidak menolak atau mencegah apa yang dilakukan oleh Gio, dia seakan sedang terhipnotis dengan sorot mata penuh kasih sayang suaminya. Perlahan dia menutup matanya bersiap untuk menerima sentuhan dari Gio.
Tentu saja semua itu membuat Gio merasakan harapan akan adanya kemajuan di dalam hubungan rumah tangga mereka.
Dia tidak munafik, dirinya mengharapkan semua itu, menantikan Diandra mau menyerahkan seluruh hatinya untuknya, dan mau menerima dirinya sebagai suami seutuhnya.
Gio tidak mau melewatkan kesempatan ini, dia bertekad untuk membuat Diandra menjadi miliknya hari ini juga.
......................
__ADS_1
Cinta hadir saat hati sudah memiliki rasa nyaman bersama seseorang.
...🌹🌹🌹🌹🌹🌹...